Ruwatan Gembel Dieng, Acara Ulang Tahun ala Anak Gimbal
Kurang lebih setahun lalu di Dieng, tepatnya antara tanggal 28-30 Juni 2013, saya berkesempatan untuk datang ke event Dieng Culture Festival yang rutin diselenggarakan setiap tahunnya. Sesuai dengan judul acaranya, event tersebut memang bertujuan untuk memperkenalkan budaya Dieng yang begitu kaya, atau budaya Suku Tengger sebagai penghuni kawasan Dieng.
Saat itu juga saya dapat menyaksikan acara "Ruwatan Gembel" yang menjadi pusat perhatian dari acara Dieng Culture Festival secara langsung. Dalam budaya Jawa, "Ruwatan" merupakan tradisi sakral untuk memperbaiki kualitas seseorang sejak zaman Keraton. Sedangkan "Gembel" merupakan istilah penduduk setempat untuk menyebut anak yang memiliki rambut gimbal. Ritual ini diadakan pada bulan Sura menurut tanggalan Jawa.
Anak dengan rambut gimbal? Itu memang benar ada dan nyata, khususnya di kawasan Dieng. Beda cerita dengan orang di Jamaica sana yang rambut gimbalnya dibuat. Kalau di Dieng, rambut gimbal itu tumbuh dan terjadi secara alami. Kita tidak bakal menemukan jasa gimbal rambut seperti di banyak pantai di Bali. Semuanya asli Dieng 100%!! (Kayak promosi iklan di tv)
*Anak-anak dengan rambut gimbal
Dari kata penduduk asli dan mbah gugel (browsing juga), anak dengan rambut gimbal diperlakukan bak raja. Tentunya tidak semua anak di Dieng memiliki rambut gimbal, hanya sebagian saja. Anak dengan rambut gimbal dipercaya merupakan titisan dari para leluhur pendiri Dieng. Di rambut gimbalnya itu roh gaib bersemayam. Percaya tidak percaya.
Proses awalnya, seorang anak akan mengalami demam tinggi dan mengigau. Mungkin seperti anak kecil yang terkena demam berdarah kali ya. Namun, gejala tersebut akan berhenti, dan rambut anak tersebut akan menjadi gimbal setelahnya. Uniknya, anak gimbal cenderung pendiam dan sangat aktif. Rasanya sulit membayangkan nasib perabot di rumah sebuah keluarga dengan anak rambut gimbal (mengingat keponakan yang gak gimbal, tapi super rusuh). Mungkin semua perabotannya dibungkus plastik kali ya. Hmm...
Selain diperlakukan seperti raja, masih ada pantangan lain soal anak dengan rambut gimbal ini. Memotong rambut gimbal sang anak, sebelum sang anak sendiri yang meminta dapat mendatangkan musibah bagi keluarga. Rambut gimbalnya juga akan muncul kembali, kabarnya.
Tapi, tidak bisa bukan berarti tidak mungkin. Rambut anak gimbal tersebut dapat dipotong melalui sejumlah ritual sakral. Biasanya ritual pemotongan rambut anak gimbal atau "Ruwatan" ini berlangsung setahun sekali, ya saat Dieng Culture Festival ini. Terus apa hubungannya "Ruwatan Gembel" sama judul ulang tahun di atas? Tunggu dulu, baca saja terus. *Maksa!
Walaupun acara "Ruwatan Gembel" mulai didukung pemda setempat dan rutin diadakan, tetap ada harga yang harus dibayar oleh orang tua anak gimbal. Salah satu syarat penting pemotongan rambut selain diminta oleh sang anak, adalah keinginan sang anak yang harus dikabulkan. Istilah raja tanpa mahkota itu memang hitam diatas putih. Permintaan apapun yang diucapkan sang anak gimbal harus dikabulkan, itu mutlak untuk menyenangkan sang roh gaib yang tinggal di rambut gimbal mereka. Terdengar seperti kado ulang tahun bukan?
Permintaan yang ada juga bervariasi, sesukanya si anak gimbal. Konon, permintaan sang anak adalah permintaan si penunggu rambut gimbal. Mayoritas keluarga anak gimbal bekerja sebagai petani yang memiliki kemampuan ekonomi seadanya. Kalau yang diminta hanya mainan mungkin tidak masalah, tapi barang mewah seperti sejumlah sapi atau kuda? Harganya kan tidak murah!
Terkadang, karena syarat berbanding terbalik dengan kemampuan ekonomi, ada anak gimbal yang belum potong rambut hingga dewasa. Ada yang bilang anak tersebut akan sakit-sakitan, ada juga yang bilang kalau anak gimbal adalah berkah. Intinya banyak-banyak bersyukur dan ambil sisi positifnya saja ya.
Tapi, selain harus dipenuhi, permintaan anak rambut gimbal juga bisa diakali. Maksud diakali itu bukan diganti, tapi disesuaikan dengan permintaan. Misalnya minta sapi setruk, bisa disesuaikan dengan menaruh daging sapi diatas truk. Minta mobil, bisa diganti dengan mobil-mobilan. Tentunya itu adalah kabar baik bagi orangtua si anak gimbal. Ternyata semuanya bisa dinegosiasikan ya.
Kalau anak-anak yang mapan di kota bisa minta hadiah untuk ulang tahunnya setiap tahun, maka bagi anak gimbal sekaranglah saatnya untuk meminta hadiah. Sang Raja Dieng akan berpesta, mungkin tidak saat hari ulang tahunnya. Tapi, esensi dari acara ulang tahun dengan "Ruwatan Gembel" ini boleh dibilang mirip, namun jauh lebih sakral.
Sebelum memulai acara "Ruwatan," hari sebelumnya pemangku adat akan melakukan doa di beberapa tempat. Memohon restu dan berkat dari sang pencipta dan leluhur. Dilanjutkan dengan ritual "Jamasan Pusaka," pencucian barang pusaka yang akan dibawa saat kirab rambut anak gimbal.
Pada hari yang dinanti, upacara dimulai dari rumah sang pemangku adat. Dalam hal ini adalah yang dituakan dan pemimpin upacara penting ini. Anak-anak gimbal yang akan dipotong rambutnya juga diikutsertakan dan diarak hingga sumur Sendang Sedayu atau Sendang Maerokoco yang terletak di sisi Utara komplek Candi Arjuna. Saya sendiri telah menunggu di sana untuk mencari posisi terbaik.
*Pendopo di depan area sumur untuk "Ruwatan"
Dari jauh sudah mulai terlihat kerumunan. Satu persatu anak gimbal dalam balutan pakaian warna putih pun muncul. Masing-masing dilindungi oleh payung, masuk ke area sumur yang telah dipersiapkan. Terlihat juga dubes asing dan putrinya yang mengikuti ritual ini dalam pakaian tradisional Jawa. Orang asing saja mengapresiasi dan ikut langsung dalam budaya kita, tentunya kita juga harus lebih peduli kan?
*Rombongan pemangku adat dalam balutan pakaian tradisional Jawa
*Air untuk "Ruwatan" ditampung dengan batok kelapa
*Masing-masing anak rambut gimbal dibasuh
Sayang, walaupun telah diberi garis batas untuk penonton, mayoritas banyak yang melewati dan berkerumun. Tidak ada bedanya dengan pembagian beras raskin. Orang kita memang perlu banyak belajar soal menghargai budaya yang khususnya sakral. Saya jadi teringat keramaian saat upacara Waisak di Candi Borobudur tahun 2013 lalu. Tanya kenapa?
Usai "Ruwatan" di area sumur, rombongan pun berpindah ke Candi Arjuna untuk upacara pemotongan rambut anak gimbal. Di Candi Arjuna sendiri telah terlihat meja panjang besar yang penuh dengan persembahan dan sesajen, seperti kepala ayam, tempe gembus, kambing etawa, marmut, dan berbagai hasil bumi Dieng.
*Meja dengan berbagai persembahan dan sesajen.
Bagusnya, pengaturan di Candi Arjuna lebih tegas dan mantap. Bukan hanya tali saja yang membatasi, tapi pagar besi seperti di acara konser musik cadas. Sehingga arus penonton pun menjadi lebih rapi dan teratur. Baru ingat, yang bisa masuk sampai depan sekali cuma penonton yang punya VIP Pass. Weit, nonton acara budaya seperti ini juga ada kelas dan harganya masing-masing. Tidak bisa sembarang masuk.
*Para pemangku adat yang bersiap di Candi Arjuna
Tari-tarian dan atraksi budaya pun ditunjukkan di hadapan pemangku adat dan anak rambut gimbal. Maksudnya adalah untuk menghibur roh penunggu rambut gimbal dan penonton sendiri.
Usai tarian, setiap anak rambut gimbal pun dipanggil, didampingi oleh orangtuanya. Sebelum dipotong rambutnya, seorang ibu yang sudah sepuh melemparkan beras kuning dan uang koin. Barulah setelah itu rambut gimbal sang anak dipotong dan ditaruh dalam satu wadah.
*Pemotongan dilakukan di Candi Arjuna langsung
Ekspresi sang anak pun berbeda, ada yang biasa saja, ceria, sampai yang menangis ketakutan. Disanalah peran orangtua menjadi penting, untuk menenangkan sang anak yang akan dipotong rambut gimbalnya.
*Malah buka amplop ini anak
*Pihak Duta Besar Negara lain yang diundang khusus
*Mengangkat rambut gimbal yang dipotong sebagai bukti
Layaknya anak yang usai meniup lilin kue ulang tahun, anak yang telah dipotong rambutnya turun dan dipersilakan mengambil permintaannya. Memang dasar anak kecil, mereka semua terlihat senang menerima hadiahnya masing-masing.
*Turun tangga udah gak gimbal lagi
*Ini anak cowok atau anak cewek coba? Gaya rambut sama semua!
Ada yang meminta kambing, topi Mickey Mouse (yang gak terlihat seperti Mickey, sampai sepeda roda tiga. Tidak terlihat ada hadiah yang heboh dan sulit. Kelihatannya si roh penunggu rambut gimbal tidak meminta request yang sulit kali ini.
*Kayaknya ini kambing bakal diguling beres acara xD
*Topi Mickey Mouse yang lebih mirip panda daripada tikus
Setelah semua anak rambut gimbal dipotong gimbalnya, rambut gimbal yang telah dikumpulkan didoakan terlebih dahulu oleh pemangku adat. Setelah didoakan, barulah dilarung di Danau Telaga Warna. Acara ini pun selesai sudah. Semua orang pun puas, khususnya bagi sang anak rambut gimbal sendiri.
*Potongan rambut gimbal yang akan didoakan dan dilarung
Hari itu, hari bersejarah dalam hidup anak rambut gimbal. Mereka dipestakan, diruwat, dikabulkan hadiahnya, dan disaksikan oleh orang banyak. Pesta yang sangat meriah, sekali seumur hidup mereka. Saya pun senang bisa menyaksikannya. Ikut menjadi bagian dari acara besar mereka.
Betapa indah dan uniknya budaya bangsa ini, bangsa Indonesia.
PS: Foto bareng anak rambut gimbal yang lucu dan ramah :))