Kata akrostik berasal dari bahasa Prancis ‘acrostiche’ dan Yunani ‘akrostichis’. Akrostik; kata benda, yang artinya sebuah sajak (kata lain dari puisi) yang huruf awal baris-barisnya menyusun sebuah atau beberapa kata, apabila dibaca secara vertikal dari atas ke bawah akan memunculkan sebuah nama, sebutan (contoh: Ayah, Ibu, dll). Bisa juga menggunakan nama binatang kesayangan (contoh: Kucing, Beruang, dll), benda-benda mati (contoh: Nisan, Kalung, Gelang, dll), dan kata-kata motivasi atau kata-kata mutiara (contoh: Semangat, Tegar, dll), serta sebuah perasaan (contoh: Sedih, Bimbang, dll) dan kata-kata lainnya.
Puisi akrostik memiliki tema yang tidak jauh dari nama yang diangkat sehingga ia hadir sebagai puisi yang memiliki tujuan spesifik, tapi bukan berarti sebagai puisi ekslusif lantaran dapat juga diimplementasikan oleh pembaca menjadi apa saja. Tidak ada yang berbeda dengan puisi akrostik dengan kebanyakan jenis puisi, karena ia tetap diisi oleh aspek intrinsik dan ekstrinsik. Yang berbeda hanya pada pola memulai puisi yang harus menggunakan huruf yang telah dipilih dari sebuah nama tersebut.
Kesulitan membuat puisi akrostik biasanya dirasakan oleh para penyair yang sudah terbiasa dengan kebebasan ekspresi. Hal yang paling sering dikorbankan dalam puisi akrostik adalah enjambemen. Selain itu, pilihan kata awal masing-masing larik sangat terbatas, namun dari keterbatasan itu, puisi juga dituntut untuk saling berikatan dan berkaitan antar satu larik dengan larik yang lain dan antar bait yang satu dengan bait yang lain. Artinya, keutuhan tema harus dipertahankan. (Rangkuman Materi Oleh Kelompok 14 - Iput, Pin, Inong, Froza).
Berikut adalah beberapa contoh puisi akrostik tentang perjalanan dari teman-teman kelas puisi. Selamat menikmati! :)
Penuh prasangka kaki meraba
Engkau dalam keping-keping
Ranjau dan duka di sepanjang ramai
Jikalau saja, siuh menjadi jalan sunyi
Adakah engkau selamatkan bara jiwa?
Lambat dan senyap yang memekik aku
Antara ceruk di terik telinga
Namamu-pun semakin memapah kenang
Ataukah para peziarah akan lupa
Nada agung yang terkubur debu waktu
Stabat, 2016
Ditulis oleh @scramscream
Pendaki di dalam kepalanya
Enggan siuh dari bukit sel
Rantai tiap keping neuron; ia
Jejaki jalan hanya setapak tempat
Antara rindu dan luka ingatan
Lama kian mengendap berbatu
Alasan ia jatuh sekian kali
Namun asanya tak reda menemukan
Akhir terik puncak masa
Nian berganti ke penghujung nadir
Pergi menjauh darimu adalah sebuah
Eksekusi mati. Siuh tanpa bekal selain
Resah yang terbakar terik sepanjang
Jalan tak berpengujung juga tanpa
Alamat sebagai tempat berkunjung.
Langit jelaga enggan menjadi petunjuk
Arah yang hilang. Lalu pada suatu kota
Nafasku memilih mengakhiri kerjanya.
Aku menghela dan keping ingatan juga
Namamu di dadaku: meledak.
Ditulis oleh @jemarikanan