Puisi dari Aban, Paradoks Instrinsik
Puisi adalah cermin untuk meminjam realita yang sebenarnya untuk dijadikan realita dalam pinjaman. Puisi pun berupa sebuah kerumitan yang indah. Puisi menjadikan kerumitannya sebagai keindahannya. Para pecinta dunia "coding" bahkan mengatakan "code is a poetry," yang artinya kode adalah sebuah puisi. Dan tentu kita tahu bagaimana rumitnya sebuah kode. Kerumitan puisi, saya kira, tidak terletak secara fisikal saja. Kerumitan puisi pun dapat lahir dari puisi yang tidak rumit. Maksud saya apa? Saya bermaksud mengatakan bahwa rumitnya gaya bahasa, pilihan kata, pengaturan imaji dan rima tidak menjadi penentu rumitnya sebuah puisi. Rumitnya puisi ditentukan juga dengan latar belakang penulisan dan amanat yang disampaikan. Dengan begini hal yang dimaksud mengenai "kerumitan" menjadi lebih seimbang, bukan? Unsur intrinsik berbaur unsur ekstrinsik. Jika ditakar, mungkin jumlah penulis yang memprioritaskan unsur intrinsik atau unsur ekstrinsik (selanjutnya dibaca: penulis intrinsik atau ekstrinsik) akan mencapai jumlah yang tidak jauh berbeda. Namun dalam perkembangannya di dunia penulisan puisi modern, jikalah boleh saya menilai, banyak penulis yang hanya mengutamakan unsur instrinsiknya saja. Latar belakang dan amanat puisinya sering kali berputar-putar membahas tentang "roman" atau cinta terhadap lawan jenis. Ada seorang penyair, kebetulan ia teman saya, menulis puisi selalu dengan pakaian yang sederhana. Ia menulis puisi selalu untuk menyampaikan sesuatu, bukan untuk menampilkan jas kebesaran atau sekadar "galau-galauan". Namanya Aban Tampomas, tapi beberapa bulan terakhir ia menampilkan dirinya yang baru dengan nama Vian S. Aban, atau Vian, merupakan seorang produktif puisi. Puisinya bisa dilihat di akun facebook miliknya dengan pembaharuan hampir setiap hari. Puisi yang ditulisnya selalu mengenai pesan atau komentar terhadap realita yang dilewatinya. Dan bukan hanya tentang "roman" atau "galau-galauan." Aban selalu menulis puisi dengan kalimat yang sederhana, sesekali memilih diksi, kata yang dipilihnya menjadi ramuan yang pas dan tidak terkesan terlalu "harum." Beberapa dari kita, penulis-penulis lain, memilih diksi untuk mengangkuhkan diri dan membentuk opini "aduhai, puisimu begitu kaya dengan kata-kata." Tetapi Aban tidak. Berbalut pakaian atau kalimat sederhana, ia menyampaikan pesan dalam puisinya. Ini ada secarik puisi terbaru dari Aban, sekitar 6 (enam) jam yang lalu. ___ Televisi Salam 'Alaika Kebenaran mulai lindap di mata Kabar yang datang itu-itu saja Memenuhi telinga hingga pekak Menjadikanku si buta yang malang Apa pentingnya Perselingkuhan, perceraian, sodomi, gay, lesbi, pemerkosaan, pembunuhan, peperangan, penghinaan, korupsi, narkoba. Negeri ini kok buruk sekali Kenapa yang kau tunjukkan cuma aib dan aib lagi, sampai kapan? Apa tanah surga ini, sudah hilang budi pekerti, sudah habis toleransi, dan gelap nurani Apa tanah surga ini, tak ada lagi kebun kopi, kacang, bawang, rambutan, durian, duku dan semacamnya Kemana larinya gunung-gunung, hutan, sawah, ladang dan lautannya Jika di matamu yang indah cuma lampu-lampu kota, apa daya desa-desa yang cuma punya gubuk tua dan rumah daerah Hai, televisi! Sepertinya dirimu sudah layak mengaku nabi sebagai pembawa kabar dan berita-beritamu itu 1806 07:40 ___ Kita bisa melihat, bagaimana Aban menyampaikan puisi begitu sederhana. Penggunaan unsur intrinsik dalam puisi tersebut begitu sederhana, namun latar belakang penulisan dan amanat yang disampaikan cukup dalam. Bahkan bisa dikata puisinya ini mengandung corak ekspresionisme, yang hanya menggambarkan perasaan, emosi, dan mimik penulis dalam bentuk kata-kata. Dari hal ini saya ingin mengambil pemahaman bahwa menulis puisi adalah menari bersama-sama dengan kegiatan menulis tersebut. Puisi hanya menjadi robot apabila hilang rasa spiritualnya. Bandung, 19 Juni 2016 Cc. @kelaspuisi @menatapmu @katakakiku *esai ini ditulis untuk memenuhi PR Kelas Puisi angkatan 8. Horas!






