Kesadaran Bersyukur
Ada satu ayat Quran yang saat membaca terjemahannya untuk pertamakali, saya langsung cirambay. Nggak bisa membendung air mata, dan semakin merasa kecil sebagai seorang manusia. Ayat ini merupakan doa Nabi Sulaiman ketika sedang mendengar obrolan semut. Bunyinya begini:
رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَى وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَدْخِلْنِي بِرَحْمَتِكَ فِي عِبَادِكَ الصَّالِحِينَ
Ya Rabb-ku, berilah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakku, dan untuk mengerjakan amal saleh yang Engkau ridai. Dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu, ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang saleh. (QS. An-Naml: 19)
Hal yang ada di benak saya, bahkan untuk bersyukur aja, sebuah perasaan yang seharusnya naluriah dimiliki manusia atas segala nikmat yang Allah berikan, saya harus minta sama Allah. Bersyukur aja mesti minta! Se-nggak berdaya itu loh saya sebagai manusia. Sekecil itu.
Syukur, adalah kemauan dan kesadaran untuk meresapi apa-apa saja hal yang Allah titipkan bagi saya, bagi kita sebagai manusia. Sebuah bentuk pengakuan dan penghaturan rasa terima kasih untuk setiap hal yang melekat dalam kehidupan saya. Namun demikian, bahkan kalau Allah nggak kasih rasa syukur itu, saya, kita, sebagai manusia nggak akan punya pemahaman, bahwa apa-apa saja yang ada dalam hidup saya adalah bentuk kasih sayangNya.
Saya jadi berandai-andai, apa mungkin kesadaran untuk bersyukur ini adalah tingkatan nikmat paling mendasar yang Allah berikan, agar senantiasa kita sebagai hambaNya menerima tiap kepingan kisag dalam hidup kita dengan penuh kelapangan hati, karena sejatinya apa yang Allah berikan pasti yang terbaik untuk manusia itu? Wallahualam bi shawab. Di kesempatan liqo berikutnya, saya akan coba mengkonfirmasi ini ke murobbi saya.
Waktu saya coba research sedikit tentang syukur, hati saya tersentuh dengan kalimat penutup dari artikel tentang syukur yang ada di website Republika (klik di sini). Katanya, memahami makna syukur akan menguatkan kita untuk berupaya menjadi hamba syakur, hamba yang mau dan tulus secara sadar mengucapkan terimakasih pada Tuhan yang telah memberi hidup juga memanfaatkan nikmat-nikmat tersebut kepada sesama makhluk-Nya.
Robbi auzi’ nii an asykuro ni’mataka.
Aamin, ya Allah, ya Mujib..
---
Bandung Barat, 06/07/2021 | 06:27














