menurutku, yang benar-benar menghancurkan bukanlah patah hati itu sendiri, melainkan momen setelah tak ada koneksi yang terjalin lagi: dari pernah dikenal dengan sungguh-sungguh menjadi berkeputusan untuk saling berpaling.
pikirkan, seseorang pernah begitu melihatmu, benar-benar melihatmu, lalu entah di hari kamis atau jumat yang acak mereka memutuskan bahwa kau belum— tidak layak lagi untuk dipertahankan, diupayakan.
bukan penolakannya yang menyakitkan, melainkan paparan, jenis paparan yang membuatmu berharap seandainya saja kau tidak pernah membuka pintu itu.
— Arief Aumar | Exposure














