Untuk Sebuah Kebaikan
“Jangan berharap imbalan untuk sebuah kebaikan,” ujar seorang bapak kepada anaknya.
Lalu lintas sore itu memang begitu padat. Kendaraan berlalu lalang ke sana ke sini, didominasi oleh roda dua. Memang di jam-jam itu, orang-orang berlomba menuju tempat ternyaman mereka—rumah. Aku tertegun diam mendengar ucapan itu. Kendaraanku dan angkutan umum itu memang berhenti bersampingan, menunggu lampu hijau.
Enam puluh detik berlalu. Tak ada lanjutan perbincangan selain kalimat terakhir yang aku dengar dari perbincangan bapak dengan anak di dalam angkutan umum itu.
“Sebuah kejadian langka,” ujarku dalam hati sambil terus mengemudikan sepeda motorku.
Sepanjang perjalanan aku terus memahami kalimat yang baru saja aku dengar itu. Pelan-pelan, kontemplasi itu mulai terefleksikan ke dalam hidupku. Memutar ulang kejadian-kejadian yang sifatnya memberi kebaikan—apapun itu. Ingatanku jatuh ke dalam sebuah memori lama akan nasihat kawan lamaku di kampus.
“Hanya mereka yang merasa cukuplah yang akan berbuat ikhlas di sekelilingnya,” begitu nasihat kawan lamaku.
“Mengapa begitu?” tanyaku yang saat itu belum begitu memahami.
“Karena mereka hanya mengharap imbalan dari Tuhan. Cukuplah demikian bagi mereka.”
Dan sore itu, ketika aku mendengar bagian lain dari nasihat kawan lamaku. Aku semakin yakin bahwa cukuplah ikhlas di atas segala dasar dalam memberi kebaikan. Tanpa secuil embel-embel apapun. Aku rasa tak ada imbalan yang lebih berharga daripada imbalan yang datangnya dari Tuhan. Bukankah demikian untuk sebuah kebaikan?






