Berjuang Itu Butuh Alasan!
(Tadabbur QS. As Shaff oleh Ustadz Azzam Ismail di @lingkariman.id)
#Pembahasan letak surat
Sebelumnya adalah QS. Al Mumtahanah
Berbicara tentang wanita yang hijrah dari Mekkah ke Madinah lalu diuji. Jadi, setelah beriman tidak lantas lancar dan tidak diuji. Surat ini juga berbicara tentang wala; (kesetiaan) dan bara’ (melepas). Juga tentang Ibrahim yang melepaskan dirinya dari ayah dan Tuhan ayahnya.
Lalu,ada QS. As Shaff, yang berisi tentang berjuang dalam barisan.
Setelahnya adalah QS. Al Jumu’ah, berisi adanya pembersihan dalam suatu barisan tersebut.
Dilanjutkan dengan QS. Al Munafiqun, berkisah tentang adanya orang-orang naf’i /pragmatis/cari untung dalam dakwah.
Maka, surat-surat ini menjadi bagian yang berkesinambungan.
QS. As Shaff
Ayat 1
“Telah bertasbih kepada Allah apa saja yang ada di langit dan apa saja yang ada di bumi; dan Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”
Teguran keras dari Allah. Ia ingin kita memurnikan niat kita dalam berdakwah. Hanya untuk mengharapkan ridha Allah. Keikhlasan seperti susu di antara darah. Tidak bisa dinikmati ketika ada 1 titik darah di dalamnya.
Berdakwah adalah fardhu kifayah. Siapa yang bergabung di dalamnya mendapat kemuliaan. Pertanyaannya; maukah kita mulia? Dakwah ini akan terus ada walaupun kita gerak atau engga, sampai hari kiamat nanti.
Ayat 2
“Wahai orang-orang yang beriman, kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan?”
Dakwah pertama yang paling mudah adalah keteladanan (qudwah hasanah). Dakwah akan lebih sampai ke hati jika kita sudah memulai melakukannya. Misal, melarang riba, menghafal quran. Kita sudah menjadi bagian orang yang mengusahakannya tersebut.
Dakwah tidak hanya menyampaikan, tapi sampai pada orang lain.
Ayat 3
“Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan”
Laa taf’aluun; yang salah adalah ketika menghimbau/mengingatkan, namun tidak melakukan. Bukan belum melakukan.
Ayat 4
“Sesungguhnya Allah menyukai orang yang berperang dijalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh”
Allah mencintai mereka yang berperang dalam barisan. Maka, jika kita berjuang sendirian, hati-hati Allah tidak suka..
Yuqootiluuna; berperang. Menghabiskan segala daya dan upaya.
Shoffaan; dalam barisan barisan, ada komando.
Ayat robbishrahli……… adalah 7 ayat hanya untuk meminta kawan untuk berjuang bersama dalam suatu barisan.
Marshus; kokoh.
Ayat 5; Cara Berdakwah
“Dan (ingatlah) ketika Musa berkata kepada kaumnya: "Hai kaumku, mengapa kamu menyakitiku, sedangkan kamu mengetahui bahwa sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu?" Maka tatkala mereka berpaling (dari kebenaran), Allah memalingkan hati mereka; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang fasik”
Sekelas Rasul disakiti umat. Apalah kita yang bukan nabi dan rasul. Maka dengan kata lain, ketika kita ada di gerbong dakwah, kita sudah siap disakiti, siap menempuh jalan yang sulit.
Tabiat da’i; hati nya harus luas. Da’i harus arrahman.
Jika kita menolak satu-dua kali kebaikan, cukup diam. Jangan mengingkarinya, hati-hati dijauhkan dari ketaatan, dari hidayah.
Ayat 6
“Dan (ingatlah) ketika Isa ibnu Maryam berkata: "Hai Bani Israil, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu, membenarkan kitab sebelumku, yaitu Taurat, dan memberi khabar gembira dengan (datangnya) seorang Rasul yang akan datang sesudahku, yang namanya Ahmad (Muhammad)". Maka tatkala rasul itu datang kepada mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata, mereka berkata: "Ini adalah sihir yang nyata"
Musa as sering disakiti, Isa as dibilang penyihir.
Maka, selektif memilih mad’u (sasaran dakwah). Jangan menghabiskan waktu pada orang-orang yang belum pasti menerima, banyak argumen, banyak menentang Islam.
Maka, jangan senang berdakwah di medsos, dsb; dapat like dan followers banyak. Karena masih banyak di pelosok, kampung-kampung yang butuh sentuhan dakwah. Banyak anak yang belum lancar aqluran, orangtua tidak tahu cara solat, dsb.
Ayat 7
“Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang mengada-adakan dusta terhadap Allah sedang dia diajak kepada Islam? Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang zalim”
Jangan habiskan waktu kita untuk berdakwah pada orang yang secara terang-terangan membenci Islam. Allah saja sudah membiarkan mereka zalim. Biarkan tugas Allah untuk itu. Masih banyak yang membutuhkan dakwah kita.
Ayat 8
“Mereka ingin memadamkan cahaya Allah dengan mulut (tipu daya) mereka, tetapi Allah (justru) menyempurnakan cahaya-Nya, walau orang-orang kafir membencinya"
Jangan habiskan energi pada orang-orang yang selalu membenci. Palingkan wajah kita. Allah yang akan menyempurnakan cahayanya.
Ayat 10-11
“Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkanmu dari azab yang pedih? (yaitu) kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui”
Batasan minimal (kkm) seseorang selamat dari api neraka adalah ketika kita beriman, berdakwah di jalan Allah dengan harta dan jiwa (dua-duanya).
Ayat 12
“Niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosamu dan memasukkanmu ke dalam jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; dan (memasukkan kamu) ke tempat tinggal yang baik di dalam jannah 'Adn. Itulah keberuntungan yang besar”
Kita berjuang bukan untuk menang, namun tujuan besarnya adalah agar Allah mengampuni dosa kita, Ia masukkan ke Surga, masukkan ke Surga ‘Adn. Inilah kemenangan yang agung.
Dan dalam sejarahnya, kemenangan itu tidak akan bermasa lama (Rasulullah saw 23 tahun, Abu Bakar, Umar, Ali, dsb bisa dibilang berdakwah dengankurun waktu yang singkat). Kenapa? Agar ada orang-orang yang terus berjuang.
Ayat 14
“Hai orang-orang yang beriman, jadilah kamu penolong (agama) Allah sebagaimana Isa ibnu Maryam telah berkata kepada pengikut-pengikutnya yang setia: "Siapakah yang akan menjadi penolong-penolongku (untuk menegakkan agama) Allah?" Pengikut-pengikut yang setia itu berkata: "Kamilah penolong-penolong agama Allah", lalu segolongan dari Bani Israil beriman dan segolongan lain kafir; maka Kami berikan kekuatan kepada orang-orang yang beriman terhadap musuh-musuh mereka, lalu mereka menjadi orang-orang yang menang”
Jika dokter perlu sumpah dokter, hakim harus sumpah hakim untuk mengamalkan kerjanya, begitupun dengan pendakwah.
Dakwah perlu komitmen yang jelas, berjanji setia.
Rasulullah saw-pun membaiat sahabat-sahabatnya dalam baiat Aqobah, dsb.
Wallahua’lam bishawab.













