aku pernah bertengkar hebat dengan kawan SD-ku, sama-sama mempertahankan argumen mana yang lebih ada dulu: ayam atau telur. selanjutnya berkali-kali aku bertengkar dengan diri sendiri, mempertanyakan mana yang idealnya ada lebih dulu: menyayangi atau disayangi. percaya atau dipercaya. begitu saja. dua sejoli manusia bisa punya konflik yang tak ada ujungnya, karena pertanyaan-pertanyaan sama--yang disertai dengan tuduhan-tuduhan pula. "dia nggak percaya sama aku," kata si laki-laki. "dia nggak bisa dipercaya," kata si perempuan. kalian punya masalah. sungguh kalian punya masalah besar. masalah terbesar kalian adalah mengurusi masalah orang lain tanpa menyelesaikan masalah sendiri. cobalah kalian ganti. "aku nggak bisa dipercaya," kata si laki-laki. "aku nggak bisa percaya," kata si perempuan. sekarang masalah kalian setingkat lebih gampang. hai tuan, jadilah seseorang yang bisa dipercaya--tak usah ribut dia akan percaya atau tidak. hai puan, jadilah seseorang yang bisa percaya--tak usah ribut dia bisa dipercaya atau tidak. mungkin masalah kalian bisa selesai. pertengkaran usai. hidup jadi lebih enteng kalau kita berhenti bertanya-tanya, meski nggak bisa--nggak boleh--berhenti mempertanyakan. berhenti mempermasalahkan. dan memulai menyelesaikan. nggak penting mana yang lebih dulu ada. yang penting ayam sama telur sama-sama ada.