“Allah SWT. tidak mencabut ilmu secara langsung dari dada manusia, tetapi Dia mencabut ilmu dengan mematikan para ulama. Sehingga tidak ada alim yang tersisa, dan akhirnya manusia berkiblat kepada orang-orang jahil, yang jika dimintakan fatwa maka mereka pun berfatwa tanpa dasar ilmu, sehingga mereka sesat lalu menyesatkan.” (Muttafaq Alaih)
Ulama adalah pewaris jalan nabi. Merekalah yang menghidupkan sunnah-sunnah Rasulullah dan menjaganya agar tetap menjadi bagian dari kehidupan manusia. Mereka juga yang selalu berusaha memberikan yang terbaik kepada umat dan melakukan perbaikan-perbaikan.
Sayang sekali, umat Islam kini banyak yang terkena penyakit barat. Kebanyakan dari kita lebih menghargai orang-orang yang tidak banyak memberikan manfaat, baik untuk kehidupan dunia maupun kehidupan akhirat. Kita lebih suka menghargai atau memberi penghormatan kepada selebriti, pemain bola dan artis-artis daripada ulama.
Tentunya keberadaan para ulama yang beramal dan mengajarkan itu serta yang menjadi dai kebenaran dalam suatu umat atau bangsa adalah rahmat dari Allah SWT. bagi kita, dan nikmat-Nya yang diberikan kepada kita. Mereka itulah yang menjelaskan kebenaran-kebenaran, membantah berbagai kebatilan, menyingkirkan berbagai syubhat, meluruskan berbagai pemahaman yang menyimpang, dan membawa manusia menuju keridhaan Ilahi. Mereka mengajak kepada kebaikan dan memerintahkan yang makruf serta melarang dari kemungkaran, mereka mengatakan kebenaran meskipun pahit, tunduk kepada perintah Allah.
Jika tidak ada orang-orang yang membawa petunjuk itu, niscaya kejahilan akan mengalahkan ilmu pengetahuan, kesesatan mengalahkan petunjuk, dan kegelapan kebatilan akan menutupi cahaya kebenaran, serta pasukan kebaikan akan kalah menghadapi serangan kejahatan.
Jika keberadaan ulama seperti mereka itu merupakan rahmat, berkah dan nikmat bagi umat, maka kematian mereka tentunya adalah musibah, hilangnya mereka berarti kerugian, dan lenyapnya mereka dari kancah kehidupan ini merupakan suatu bencana. Terutama jika tidak ada orang yang menggantikan kedudukannya, menjaga warisan mereka, dan menghidupkan kembali peninggalan mereka.
Ali ra. berkata, “Jika seorang alim meinggal, maka dalam Islam akan ada sesuatu kekurangan, dan tiada yang dapat menutupi kekurangan itu, kecuali jika ada penerus yang menggantikan posisinya.”
Musibah itu menjadi semakin besar jika kematian para ulama itu terjadi secara berturut-turut dalam waktu singkat, dan sesuatu yang paling berbahaya bagi kehidupan maknawi umat Islam adalah ketika para ulama meninggal dan digantikan oleh orang-orang jahil, yang mengenakan pakaian ulama dan memakai julukan ulama, sementara mereka tidak bersandar pada ilmu, petunjuk dan kitab yang bercahaya. Mereka itu berfatwa tanpa dilandasi ilmu pengetahuan, jika memutuskan suatu ketetapan tidak sesuai dengan kebenaran, dan jika berdakwah tidak dengan bashirah.
Dalam buku ini ustadz Dr. Yusuf Al-Qaradhawi menceritakan 14 kisah ulama yang kisahnya terlupakan oleh umat. Ulama-ulama yang berjuang dalam bidang pemikiran, fiqh, kebudayaan, pergerakan Islam, media, akademisi, hingga politikus. Dari 14 ulama tersebut, ku ambil satu untuk ku ceritakan kembali kisahnya dalam #AyoBaca kali ini. Semoga banyak pembelajaran yang dapat kita teladani dan kita aplikasikan kembali dalam kehidupan.
“Al-Ustadz Anwar Al-Jundi
Rahib Kebudayaan dan Pemikiran”
Al-Ustadz Anwar Al-Jundi adalah seorang penulis yang produktif. Beliau menggunakan penanya untuk kepentingan Islam, kebudayaannya, peradabannya, dakwahnya dan umatnya selama lebih dari setengah abad. Tetapi kematian beliau baru diketahui umum setelah beberapa hari dan tidak diekspos koran, tidak dibicarakan radio dan tidak diberitakan oleh TV. Miris. Beliau seakan-akan seseorang yang tidak pernah meninggalkan kekayaan yang besar berupa buku-buku dan ensiklopedia, dalam berbagai bidang kebudayaan Arab dan Islam. Padahal beliau adalah anggota penuh Lembaga Tinggi Urusan Islam di Kairo dan salah seorang generasi pertama persatuan wartawan yang telah menerima penghargaan negara pada tahun 1960.
Buku pertama dari Al-Ustadz Anwar Al-Jundi adalah Ukhrujuu min Bilaadina yang artinya adalah “Keluarlah dari Negeri Kami”. Yang beliau maksudkan adalah penjajah Inggris yang pada saat itu ‘masih’ menjajah Mesir. Setelah buku itu dirilis beliau dipenjara dan ditangkap selama beberapa hari di era Raja Faruq. Setelah itu beliau dibebaskan.
Buku yang berhasil ditulis oleh Al-Ustadz Anwar Al-Jundi sebanyak 100 buku mulai dari ensiklopedia hingga buku bacaan ringan. Gaya penulisan Al-Ustadz Anwar Al-Jundi memang cenderung menggunakan bahasa yang mudah dan sederhana, dan mendekatkan pengetahuan umum kepada massa yang terpelajar, tanpa membuatnya sulit dan asing. Sehingga redaksi yang beliau gunakan mudah, jelas dan terang benderang.
Buku-buku yang beliau tulis dengan bahasa ringan tersebut memang difokuskan secara khusus untuk memberikan pengarahan kepada pemuda muslim, dan membentengi mereka dari serangan budaya Barat yang materialis dan sekuler. “Pembicaraan dalam buku ini ditujukan kepada pemuda Islam dan Arab. Karena mereka adalah unsur kekayaan negara yang besar, generasi hari esok yang penuh tanggung jawab dan konsekuensi, dan mereka itulah yang akan mengemban amanah untuk membela akidah ini dalam menghadapi berbagai bahaya yang mengepungnya dari seluruh penjuru. Oleh karena itu, menjadi hak mereka terhadap generasi kita agar diberikan kumpulan pemikiran dan pengalaman yang telah ada saat ini. Dan, kita mengembalikan kepada mereka jalan menuju tujuan yang diharapkan. Hal ini adalah tanggung jawab kita terhadap mereka, yang jika kita tidak melaksanakan niscaya kita berdosa, dan berarti kita harus bertanggungjawab atas kesalahan itu.” Tuturnya.
Al-Ustadz Anwar Al-Jundi adalah sosok yang zuhud di dunia dan segala perhiasannya, merasa cukup dengan rezeki yang sedikit. Beliau merasa cukup dengan hidup secara sederhana.
Suatu hari Syekh Abdus Salam Al-Basyumi datang ke Kairo bersama crew TV Qatar untuk mengadakan wawancara dengan Al-Ustadz Anwar Al-Jundi. Mereka tidak mendapatkan background yang bagus di rumah Al-Ustadz Anwar Al-Jundi untuk shooting wawancara. Berangkatlah mereka (crew dan ustad) ke suatu hotel. Setelah selesai wawancara, direktur produksi memberikan sejumlah honor kepada beliau. Al-Ustadz Anwar Al-Jundi menolak honor tersebut dengan tegas sambil berkata, “Saya bertemu dengan kalian tidak disertai niat untuk mengambil honor, dan saya tidak siap untuk mengubah niat saya, dan saya pun tidak memberikan sesuatu yang membuat saya berhak mendapatkan honor.”
Beliau juga adalah sosok yang rabbani. Putrinya pernah bercerita jika ayahnya senang untuk selalu dalam keadaan berwudhu, sehingga ayahnya makan dalam keadaan berwudhu, menulis dalam keadaan berwudhu, dan beliau tidur setelah isya kemudian bangun sebelum fajar untuk shalat tahajud dan shalat shubuh. Beliau juga senang membantu tetangga dengan mengisi bak air jika air terputus dan meletakannya di depan rumah mereka.
Al-Ustadz Anwar Al-Jundi aktif menulis pada fase cobaan di era Abdun Nashir, dibeberapa majalah yang bukan Islami, tentang biografi beberapa pimpinan pembebasan dan revolusi yang mempunyai kecenderungan agama, seperti Umar Al-Mukhtar di Libya dan Abdul Karim Khathabi di Maghrib. Yaitu di majalah Al Mujtama’ Al-'Arabi Mesir pada era tahun lima puluhan dan enam puluhan. Dan beliau berkata tentang era tersebut, “Saya berkeyakinan harus ada suara yang terus dikumandangkan -jika bukannya suara yang keras dengan secukupnya- untuk mengatakan kalimat Islam, meskipun di bawah nama lain apa pun. Dan tak seharusnya seluruh pembawa dakwah bertiarap di belakang tembok.”
Setiap umat mempunyai masa jaya dan masa keterpurukannya, juga masa kaya dan masa miskinnya. Hal itu terjadi jika kendali kepemimpinannya dipegang bukan oleh orang-orang yang kompeten dan berpengetahuan.
Maka alangkah celakanya umat yang dipimpin oleh orang-orang yang sesat, yang tidak menunaikan amanah umat, tidak menjaga risalah umat itu, dan tidak menghormati kekhususannya.
Dalam shahih Bukhari dikatakan bahwa seseorang bertanya kepada Rasulullah SAW, “Kapan kiamat tiba?” Beliau bersabda, “Ketika amanah disia-siakan, maka tunggulah datangnya kiamat itu.” Ia bertanya lagi, “Apa bentuk penyia-nyiaan amanah itu?” Beliau bersabda, “Yaitu jika kepemimpinan diberikan kepada bukan ahlinya maka tunggulah kiamat.”
Wallahu a'alam bish-shawwab
“Ya Allah, berikanlah kepemimpinan kami kepada orang-orang yang terbaik dari kami, dan jangan berikan hal itu kepada orang-orang jahat dari kami. Kami juga berlindung kepada Engkau dari zaman yang kepadanya urusan manusia dipegang oleh orang-orang bodoh.” Dr. Yusuf Al-Qaradhawi