Bapak tua yang penuh dengan keistimewaan, terimakasih karena telah membuka mata saya bahwa dunia itu terlalu indah klo dipenuhi keluh kesah, terimakasih karena membuka hati saya untuk belajar membaca takdir Tuhan, terimakasih karena memberikan energi untuk selalu menjalani kehidupan dengan iklas dan lapang dada.
Terimakasih pak, semoga bapak sehat, dan selalu dimuliakan Allah.
Kuperhatikan setiap hari ketika melewati tempat tersebut. Pernah aku ingin membantu, tetapi teringat pesan teman, “jangan sekali-sekali membatu kerja orang tua karena mereka akan tersinggung, dikiranya kita menganggap mereka sudah tidak mampu kerja!”
Padahal aku sudah ingin mendekatinya kemudian kuurungkan juga. Aku hanya memandangnya dari jauh. Sengaja tidak kupedulikan jam masuk kantor yang sudah mepet. Aku pasti telat hari ini, dan ups mungkin aku tidak sia-sia.
Suara percikan air membangunkanku dari lamunan. Sebuah sepeda motor yang melewati genangan air di dekat bapak tua itu otomatis membasahi tubuhnya.
“Oi... anak muda... kembali kau!” jeritannya bersuara serak yang diselingi oleh getaran. Mungkin karena panas atau kelelahan yang menjangkiti raganya.
Bergegas kupercepat langkah meninggalkan lelaki tua itu sebelum ia menyemprotkan isi kebun binatang kepadaku.
@@@
“Tumben... si Bapak...,” aku mencari-cari sosok Bapak tua yang sering mengumpulkan puing-puing kebakaran yang menghalangi jalan. Terasa tidak biasanya ketika tidak melihat Bapak tua itu membereskan sedikit demi sedikit puing yang tidak dipedulikan orang. Mungkin karena berdekatan dengan pemukiman kumuh dan tidak berniat untuk membangun kembali bangunan kayu yang habis dilalap di jago merah, bahkan pemerintah pun seperti menutup mata. Padahal puing-puing itu sangat menghalangi jalan.
Ataukah karena hari minggu, si Bapak cuti membersihkan? Pikiranku membuat perasaan geli juga.
“Kenapa ketawa?” sebuah suara yang berasal dari depanku mengusik lamunan. Ah, kenapa aku bisa melamun di depan puing-puing ini?
“Ti... tidak Pak.”
“Ya udah, segera pergi... jangan menghalangi jalanku. Ini belum beres, harus segera dibereskan kalau tidak mau terjadi kecelakaan! Puing ini menghalangi jalan!” usir Pak tua itu mendorongku untuk menjauh. Jalanan di dekat sana memang sangat kecil. Dengan adanya puing-puing itu hanya akan memperkecil dan membanjiri jalan tersebut.
Seminggu terakhir ini lebih mendingan. Karena berkat Bapak tua ini, jalanan terlihat lebih lenggang dan enak dilewati motor maupun pejalan kaki.
Mendengar niat Bapak tua demi keselamatan pejalan dan pembawa motor, membuat hatiku trenyuh. Tidak banyak tindakan mulia yang bisa dilihat secara langsung di jaman modern ini. penyelamatan kecil si Bapak tua memang harus dilestarikan.
Aku segera beranjak ke rumah.
Tidak lama kemudian, aku kembali dengan membawa sekop dan karung-karung bekas. “Aku bantu Pak!” setelah berucap demikian dan tanpa mendengar persetujuan di Bapak tua, aku segera bekerja dengan giat.
“Ya ampun Nak... nggak usah!” usirnya menghentikan kegiatan menyekopku.
“Kenapa Pak? Bapak kira saya tidak bisa?”
“Bukan.”
“Terus kenapa?”
“Pakaianmu sayang ... kelihatannya masih baru.” Aku tersenyum mendengar penuturan kepolosan si Bapak tua.
@@@
Suatu hari, Bapak tua itu mengungkap sebuah pelajaran paling berharga padaku yang tidak akan dapat kulupakan. Bakti, ketabahan, cinta kasihnya kepada sesama atau pun keluarganya.
“Bapak kena kanker prostat,” tuturnya membuatku terhenyak. Bagaimana boleh seorang penderita prostat bekerja berat seperti ini? pantas saja tubuh Bapak tua ini sangat kurus. Setelah hari itu, setiap pagi-pagi sekali aku pasti keluar untuk membantu Bapak tua. Pak Rahmat ternyata sangat ramah dan baik hati. Ia melakukannya tidak dengan Cuma-Cuma. Imbalannya hanya sederhana saja, “agar tidak ada yang kecelakaan.”
“Bapak tidak boleh kerja lagi!” kini aku bangkit dari tempat dudukku, wajahku panas, hatiku sedih mendengar keadaan sahabat tuaku ini.
“Tidak! Bapak tidak bisa diam saja sampai puing ini bersih!”
“Aku yang akan menggantikan Bapak! Aku tidak rela Bapak makin menahan sakit dan harus benar-benar jatuh sakit!”
“Tidak! Bapak tidak bisa berhenti. Bapak ingin membersihkan dengan kedua tangan ini juga agar tidak ada yang mengalami seperti yang Bapak alami!”
“Bapak alami? Apa Pak?” kemarahanku berganti dengan keingintahuan.
“Anak Bapak meninggal di sini ... kecelakaan saat sakit prostat Bapak kambuh. Saat ia terburu-buru dan terpaksa melewati undakan penuh puing yang tidak rata. Ia terjatuh dan membentur puing-puing dan meninggal seketika. Putriku yang masih belia meninggal hanya seminggu setelah kebakaran terjadi.” Bapak tua menyusutkan air mata yang sudah mengalir.
Trenyuh mendengar kisah sedih si Bapak tua yang ternyata memiliki kesedihan dibalik aktivitas sosialnya. Puing reruntuhan yang merengut anak gadisnya. Sekarang aku mengerti mengapa Pak Rahmat tidak cuti sehari pun untuk mengerjakan tugasnya ini.
“Maaf, Pak ...,” ucapku tulus.
“Tidak apa-apa, Nak.” Ia menepuk-nepuk punggungku seakan berbalik memberi kekuatan batin padaku. Padahal kutahu, dialah sosok yang memerlukan dukungan moril. Kanker prostat yang dideritanya sudah tidak dapat diobati lagi. Ia hanya menunggu waktu untuk dijemput putrinya.
“Bapak sudah makan asam garam. Di sini pun Bapak tidak luput dari sakit hati. Ada yang mengira Bapak bekerja karena mendapat duit atau ingin mencuri kayu yang masih bisa dijual, sisa kebakaran itu. Kadang-kadang preman usil sengaja menghancurkan hasil jerih payah Bapak. Atau pun anak muda kurang ajar yang sengaja mencoba semulus apa usaha Bapak untuk membersihkan jalan. Alhasil, seperti ...,”
Aku kemudian menyambung, “menciprati Bapak dengan genangan air.”
Bapak Rahmat tersenyum. ia tidak marah atau pun mendumal, malah ia terlihat tulus ikhlas untuk membantu mengurangi resiko kecelakaan.
@@@
Beberapa hari ini Pak Rahmat tidak terlihat lagi. Sisa puing pun sudah sedikit. Aku sangat tahu bahwa Bapak tua menderita penyakit yang tidak bisa disembuhkan. Malahan beberapa hari terakhir ini ia terlihat kepayahan. Padahal aku sengaja mengurangi porsi kerjanya. Kadang-kadang sengaja tidak membawa sekop atau pun mencekokinya makanan sehingga ia bisa menyibukkan diri untuk makan.
Tetapi tindakanku sangat dipahami olehnya, tidak bisa membohonginya. “Terima kasih.” Ucapannya begitu tulus dan mengukir di hatiku. Aku bangga denganmu, Pak!
Kutatap langit yang cerah benderang, tiba-tiba air mataku menetes mengingatnya. Mungkinkah putrinya sudah datang menjemputnya, mengapa tiba-tiba perasaanku penuh, sesak? Bahkan awan-awan membentuk wajah tua si Bapak. Dan hari ini juga, jalanan kecil itu sudah bebas dari puing-puing perengut nyawa.
Tuhan, lindungi Pak Rahmat. Bapak tua yang sangat baik hati.