Kata Nabi, tebar hadiah dan raih cinta. Singkat sekali pesan Nabi tersebut, sederhana nampaknya, tetapi penuh makna dan kaya solusi.
Ya, saling memberi hadiah adalah salah satu cara yang paling efektif untuk meredamkan konflik yang terjadi. Mendinginkan suasana hati yang sedang panas, merekahkan senyuman di wajah yang sedang kaku, dan mencairkan cinta yang tadinya membeku.
Hadiah adalah pembuka cinta. Mungkin begitu maksud Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Karena memberikan hadiah sama dengan memberikan kebahagiaan, maka cinta akan tereguk kembali.
Memberikan hadiah terbaik dengan cara yang terbaik tidak selalu harus berlabel mahal nilainya. Karena jika ukurannya adalah nilai maka materi akan selalu habis dan manusia tidak pernah puas. Maka perhatikanlah pada perhatian kita kepada teman tersebut ketimbang nilai materi yang ada. Selama masih mencari yang paling bernilai, tidak akan pernah ditemukan barang apapun di dunia ini yang mampu dijadikan parameter bagi kepuasaan jiwa. Berikanlah hadiah dengan misi membahagiakan orang lain walaupun barang tersebut sederhana dan mungkin murah meriah.
Hadiah dapat mengikis permusuhan, memadamkan api kebencian, dan tidak jarang menyingkirkan penyakit-penyakit kejiwaan akut yang disebabkan kebusukan hati dan menodai kesucian ukhuwwah.
Kisah Nabi Sulaiman dan Ratu Bilqis dalam surat An-Naml ayat 34-36 cukup untuk memperkuat hal tersebut. Ratu Bilqis menjadikan hadiah sebagai upaya merayu Sulaiman agar menghentikan gerak pasukan ke negerinya. Dalam benak Ratu yang cerdas dan cekatan ini, kedatangan raja-raja dan pasukan hanya akan menjajah dan mengeksploitasi sumber daya di negeri yang didatangi. Bilqis tidak mengetahui bahwa Sulaiman adalah raja yang sekaligus nabi. Oleh karena itu, Sulaiman mengembalikan hadiah yang diberikan kepadanya.
Pribadi-pribadi yang cerdas dan cekatan biasanya akan memilih cara ini dalam berinteraksi dengan orang lain, dengan orang yang sudah dikenalinya, yang belum dikenalinya, apalagi yang sedang bermusuhan dengannya. Memberikan hadiah tidak memberikan efek samping negative. Sangat jarang ditemukan orang yang mengembalikan hadiah walaupun kedua bilah pihak sedang dalan konflik atau permusuhan. Karena hadiah tersebut seakan menjadi permintaan maaf si pemberi kepada si penerima. Jika dikembalikan, maka tidak diragukan si penerima adalah sosok pendendam. Dan tampaklah dari lingkaran ukhuwwah sesiapa yang mempunyai sifat terpuji dan sesiapa yang tercela.
Kembali ke indahnya sebuah pemberian dalam persaudaraan, bahwa membahagiakan mereka yang disayang adalah energi cinta tersendiri. Sebab tidak semua memberi bermakna cinta. Tapi cinta pasti tak berhenti untuk memberi.
|| Bagian 2: K E M B A L I