Menikmati Sunyi Pada Bibir Cangkir
Sebentar lagi malam 'kan datang. Senja tiada. Di kota ini, para pecinta malam mulai terlihat hiruk-pikuk. Ada yang sedang dalam perjalanan menuju ke rumah setelah bosan dengan aktivitas kantor. Ada yang sedang dalam perjalanan pulang dari sebuah perjalanan yang jauh. Dan, ada banyak kesibukan yang tak dapat dieja satu per satu. Saya adalah salah satunya.
Memilih berjalan kaki bersama Maria menuju sebuah taman doa. Sambil menikmati sisa senja. Habiskan cerita-cerita masa kecil. Dan, melambungkan doa kepada Dia dengan harap segala yang sudah dan sedang terjadi adalah cerita yang tak pernah akhir.
Membaca buku puisi sambil tertawa kecil. Sesekali merayu agar tak ada yang merasa kaku. Sesekali saling menatap agar tahu apa itu saling menghargai ketika lawan bicara sedang berbicara.
Memang asyik ketika semua itu dibalut dalam rasa persahabatan. Tanpa sekat yang memisahkan lantaran tak begitu dekat dalam keseharian. Sebab, di antara kami terdapat kesibukan masing-masing.
Pun, malam tiba, Maria kembali ke rumahnya. Saya memilih ke sebuah caffe di tengah kota ini. Sebuah caffe yang sederhana. Pengunjung tidak begitu ramai. Maklum caffe ini baru dibuka dan banyak yang belum tahu. Caffe Eat itulah namanya.
Sesampainya di Caffe tersebut, saya memesan kopi panas dan bukan cappucino. Memilih sebuah buku yang dipajang. Membaca dan sesekali tertawa. Ditemani Fourtwenty, Banda Neira, dan Felix. Suasana semakin asyik dan enak untuk berbincang dengan diri sendiri.
Menikmati sunyi di bibir cangkir itu mengasyikkan. Tanpa harus benar-benar sunyi untuk mengatakan bahwa ini sunyi. Yang benar-benar sunyi itu ketika engkau mampu menempatkan diri dalam keramaian. Mengambil jarak tetapi tidak apatis.
Memang asyik apalagi berdua. Tetapi sayang, saya memilih sendiri. Menikmati malam dan gelisah yang terus beranak pinak dalam kepala. Sebab, dalam keadaan demikian, saya yakin bahwa sendiri dalam kesendirian itu bukan sesuatu yang menyakitkan. Tetapi itu adalah sebuah kemajuan dalam mematangkan diri lebih cepat dari yang sesungguhnya.
Boleh sendiri tetapi tidak menyakiti siapa saja pada kesempatan yang lain. Kalau pun berdua dan pada akhirnya menciptakan luka, maka sia-sialah.
Yang sering merasa sendiri, jangan takut. Sebenarnya dirimu tidak benar-benar sendirian. Ada orang lain yang sedang meluangkan perhatiannya untukmu. Tetapi kau tidak merasakan itu. Sebab, saking pedulinya mereka, mereka lupa memedulikan diri sendiri.
Mari menjadi sendiri sebelum akhirnya kita tahu apa itu kemandirian saat berdua.
Dan, kopi telah selesai diseruput. Saya pulang dan menertawakan diri sendiri sambil berterima atas segala yang pernah terjadi.
Pokoknya, kopiku kamu rasanya.
Fian N
Maumere, 2019
Desember 17













