Hai Capt, apa kabar disana? Bagaimana puasamu hingga hari ini? Masih lancar kan ya? Belum ada yang bolong kan ya Capt? Aku masih ingat dengan jelas, bagaimana tahun lalu kamu sibuk jaga hingga 3-4 shift sekaligus padahal lagi puasa. Menu buka mu juga itu-itu saja, gorengan, pentol dan es teh. Sampai sering sekali, aku ngomel. "Nanti buka pakai apa?" "kalau buka dengan menu yang biasa, aku delivery-in makanan ya biar dianter ke rumah sakit?" "Jaga sama kak Imran (perawat IGD, yang kebetulan sering lapor ini itu tentang capt) kan? Aku suruh beliin makanan ya?". Selalu saja kamu nolak capt. Hingga habis upayaku. "Andai dekat, aku beliin makanan di pasar sore, trus suruh tukang ojek anter." Karena bagimu cewek gak boleh keluar rumah kalau maghrib. Dan selalu berujung "Gak usah dek, nanti jam 9 pulang kok, makan dirumah". Kalau sudah seperti itu, cuman bisa "Ya udah, kalau dibilangin ngeyel. Yang penting Capt jangan sakit". *masih inget banget ya, padahal tahun lalu.
Tahun ini, udah gak berharap apa-apa lagi capt. Tau kamu baik-baik saja dari bunda, aku juga merasa baik. Bukankah tak ada kabar itu berarti kabar baik.
Capt, tema WP kali ini judulnya "Pengkhianatan". Gak tau mesti nulis apa, buntu aja sejak tadi pagi. Yang diingat cuman mau nulis tentang kamu. Padahal sejak WP 1 udah niat gak mau tulis kamu lagi. *miannne...
Capt, mengenai pengkhianatan. Aku kembali berkaca akan kita. Siapa yang lebih dulu mengkhianati siapa? Siapa yang lebih dulu menanam luka terhebat ini?
Mengetahui kamu diam2 sedang (ingin) ta'aruf dengan perempuan lain. Apakah itu bentuk pengkhianatan Capt? Sedang selama 4 tahun ini, kita dekat tanpa kejelasan. Bisakah aku menganggap ini sebuah pengkhianatan capt? Bolehkah? Ahhhh, aku ragu capt. Tapi apa arti dekat tanpa sekat kemarin?
Capt, diluar sana banyak orang yang mengetahui tentang kita. Banyak yang berfikiran kita akan berujung pada pernikahan. Aku sudah sering bertemu dengan keluarga besarmu, kamu pun juga demikian capt. Aku tahu semua upaya yang kamu lakukan untukku, untuk keluargaku.Bahkan kamu menjadi emergency call jika ada keluarga yang sakit. Yang kadang kamu tiba2 telpon, "Dek, tadi anaknya si A sakit (keluarga). Kamu udah tau belum, bilang keluarganya desi?" Dan untungnya kamu tidak marah capt jika keluargaku mencarimu.
Banyak juga yang bilang, "pasti di jodohkan, kan keluarga sudah saling kenal sejak kalian masih SD". "Cocok, sama-sama dokter." Masih banyak lagi. Capt, seandainya kamu jadi aku? Kamu akan seperti apa? Jika tiba2 "kok, gak jadi sama Capt? Denger2 mau tukar cincin" Bisa bantu jawab?
Capt, jika nanti setelah lebaran Allah buat skenario untuk kita bertemu. Bisakah kita selesaikan semua ini dengan baik-baik dengan kepala yang dingin. Akan ku lupakan sejenak rasanya dikhianati. Percayalah, aku (akan) baik-baik saja selepas kita bertemu dan menyelesaikan semuanya.
Capt, yang berakhir itu kita. Bukan aku dengan bunda dan Bapak, bukan kamu dengan papah dan mamah.