Pergerakan Manusia Lintas Negara yang Mengancam Kesehatan Masyarakat
Masyarakat dunia saat ini tidak bisa menghindari dari apa yang disebut dengan globalisasi. Globalisasi ini ibarat arus sungai yang deras. Arus sungai ini dapat mengantarkan kita ke suatu tempat yang ingin kita capai. Namun, arus ini juga bisa menyeret kita ke tempat yang tidak ingin kita tuju. Atau bahkan arus yang kejam ini justru dapat menenggelamkan kita sehingga kita tidak bisa mencapai tempat yang ingin kita tuju. Fenomena di atas menggambarkan bahwa suatu negara pasti memiliki tujuan atau arah akan dibawa ke mana rakyatnya. Sekarang tinggal apakah suatu negara bisa membaca peluang dalam globalisasi untuk membawa rakyatnya ke arah yang lebih baik, atau justru sebaliknya.
Globalisasi ini sangat mempengaruhi segala aspek kehidupan masyarakat di dunia, baik sisi ekonomi, sosial, budaya, kesehatan, dan masih banyak lagi. Berbicara mengenai masalah kesehatan, sebelum adanya globalisasi pun masalah kesehatan sudah begitu kompleks. Apalagi dengan datangnya globalisasi, masalah kesehatan ini menjadi begitu kompleks.
Salah satu fenomena dalam globalisasi yang mengancam kesehatan masyarakat yaitu migrasi. Migrasi di sini merujuk pada migrasi internasional, yaitu perpindahan individu dari suatu negara ke negara lain. Pada tahun 2005 tercatat sejumlah 191.000.000 manusia (3% dari total populasi dunia) tinggal di luar negara tempat di mana ia dilahirkan. Faktor migrasi ini bermacam-macam, baik faktor pendorong maupun penarik, misalnya ketidakpuasan terhadap upah dalam negeri, melanjutkan studi, atau bahkan hanya sekedar megikuti trend. Ya, mengikuti trend. Di zaman yang semakin modern ini, orang akan merasa derajatnya meningkat jika dia pernah melakukan perjalanan ke luar negeri. Dalam satu tahun tercatat bahwa terdapat 1 juta manusia yang melakukan perjalanan lintas negara. Bahkan pada tahun 2009 terdapat 54.317 rute penerbangan dengan 4.381 bandar udara di seluruh dunia.
Migrasi yang tidak terkontrol merupakan ancaman bagi kesehatan masyarakat. Ancaman pertama dari migrasi ini yakni meningkatnya persebaran penyakit infeksius akibat pergerakan manusia lintas negara yang juga semakin meningkat. Ancaman selanjutnya ialah kondisi kesehatan migran yang terabaikan dan tidak sebaik kondisi kesehatan native penduduk asli negara tujuan migrasi. Kemudian, ancaman terakhir yaitu persaingan antara tenaga kesehatan luar negeri dan tenaga kesehatan dalam negeri. Hal ini meliputi masuknya dokter/tenaga kesehatan asing ke Indonesia dan fenomena brain drain dimana para tenaga kerja kesehatan lebih memilih untuk mengaplikasikan ilmunya di luar negara asal.
Orang yang melakukan migrasi atau migran merupakan ‘pembawa penyakit infeksi’. Berdasarkan fakta pada tahun 2001, angka kejadian penyakit TBC (tuberculosis) di Australia, Hongkong, Malaysia, Singapura tidak mengalami penurunan untuk beberapa tahun. Hal ini diakibatkan TBC justru terjadi pada imigran baru di negara-negara tersebut. Selain itu, masih banyak penyakit infeksi lain yang awalnya tidak terdapat di negara tersebut namun tiba-tiba muncul menjadi suatu wabah, misalnya SARS (Severe Acute Respiratory Syndrom). Kemudian HIV/AIDS yang pada mulanya dijumpai di Afrika pada seekor kera, kini orang yang terinfeksi virus HIV sudah tersebar di mana-mana. Melihat fakta-fakta tersebut, siapa lagi penyebabnya jika bukan manusia yang berpindah lintas negara yang turut andil menyebarkan penyakit-penyakit tersebut. Sebenarnya tidak hanya manusia yang ‘membawa’ penyakit lintas negara. Komoditas impor juga bisa ‘membawa’ penyakit, misalnya makanan yang dapat menularkan virus hepatitis C. Selain itu, rokok juga dapat dikatakan sebagai ‘pembawa penyakit’. Ya, berbicara mengenai rokok memang tidak ada habisnya. Indonesia sendiri merupakan sasaran empuk dari para produsen rokok asing. Indonesia termasuk dalam kategori 5 besar dari negara konsumen rokok terbanyak di dunia, dimana Indonesia menempati peringkat ke-4 setelah Cina, Rusia, dan Amerika Serikat. Celakanya lagi, menurut hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2007 dan 2010, usia mulai merokok meningkat justru pada usia yang lebih muda.
Ancaman selanjutnya yakni kondisi kesehatan dan kesejahteraan migran yang terabaikan. Pada mulanya, para migran, dalam hal ini Tenaga Kerja Indonesia (TKI) melakukan migrasi dengan tujuan mencari lapangan pekerjaan yang lebih layak dengan harapan derajat kesejahteraan mereka meningkat. Menurut Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi, TKI kebanyakan memilih Malaysia dan Saudi Arabia sebagai tempat mengadu nasib. Sayangnya, apa yang diharapkan para migran di tempat tujuan tadi tadi belum tentu terwujud. Kesejahteraan para migran justru terabaikan, termasuk kondisi kesehatannya. Kondisi kesehatan migran yang terabaikan sangat dipengaruhi oleh banyak faktor. Faktor tersebut di antaranya, gangguan psikososial, entah itu karena culture shock, perlakuan dari pemilik lapangan kerja terhadap migran, atau karena migran-migran tersebut harus melakukan usaha yang lebih keras untuk bisa bertahan hidup di negara tetangga. Semua kondisi tadi dapat membuat migran tertekan baik fisik maupun mental. Hal ini dapat meningkatkan faktor resiko penyakit kardiovaskular pada migran akibat stress yang dialaminya.
Ancaman terakhir migrasi terhadap kesehatan yaitu persaingan antar tenaga kesehatan meliputi masuknya tenaga kesehatan asing ke dalam negeri dan fenomena brain drain. Dengan diberlakukannya AFTA (ASEAN Free Trade Area) atau perdagangan bebas 2014 di kawasan ASEAN, tidak hanya barang saja yang dapat bebas diperdagangkan. Tenaga kerja, termasuk tenaga kesehatan pun bisa ‘diperdagangkan’ secara bebas. Hal ini berarti akan timbul persaingan antar tenaga kesehatan di Indonesia dengan tenaga kesehatan asing. Menurut data statistik Indonesia, terdapat 20.000 hingga 25.000 tenaga kerja asing yang masuk ke Indonesia sejak 2001 hingga 2004 yang kebanyakan berasal dari Jepang, Amerika, dan Australia. Di samping masuknya tenaga kesehatan asing ke Indonesia, di sisi lain tenaga kesehatan Indonesia justru tidak sedikit yang memilih untuk mengabdikan diri ke negara lain. Inilah yang kemudian menimbulkan fenomena yang disebut dengan brain drain. Brain drain merupakan salah satu dampak migrasi yang sangat mengenaskan bagi kesehatan masyarakat. Bagaimana tidak. Jika kita lihat dari arti katanya saja, brain artinya otak, sedangkan drain artinya terkuras sehingga dapat dikatakan bahwa brain drain adalah fenomena ‘terkurasnya otak’. Yang dimaksud dengan ‘terkurasnya otak’ adalah suatu negara kehilangan tenaga kerja yang pandai dan berkompeten karena sebagian besar mereka justru memilih bekerja di luar negeri daripada di negeri sendiri. Hal ini dapat terjadi karena faktor upah yang kurang memuaskan atau kesejahteraan tenaga kesehatan itu sendiri terabaikan. Berbicara mengenai upah memang merupakan sesuatu yang sensitif. Persoalan yang dapat kita lihat di Indonesia misalnya kebijakan adanya BPJS (Badan Pekerja Jaminan Sosial) per Januari 2014. Dengan adanya kebijakan tersebut nanti, gaji yang diperoleh dokter atau premi yang dibayarkan masyarakat untuk mendapatkan jaminan kesehatan mungkin tidak sebanding dengan bagaimana perjuangan keras untuk menjadi dokter, baik dari segi waktu studi yang lama, biaya yang dikeluarkan, serta usaha untuk menguasai ilmu kedokteran itu sendiri yang memang tidaklah mudah karena menyangkut nyawa manusia. Bagaimana tenaga kesehatan dapat mensejahterakan masyarakat jika tenaga kesehatannya sendiri terabaikan kesejahteraannya. Oleh karena itu tak heran jika tidak sedikit dari mereka lebih memilih mengabdi di luar negeri dimana kesejahteraan mereka lebih terjamin.
Ketiga ancaman tadi mungkin tidak terlalu mempengaruhi negara maju, namun bagi negara berkembang seperti Indonesia harus memiliki tameng untuk mengahadapi ancaman tersebut. Semua ancaman di atas tadi harus bisa kita hadapi karena sebenarnya Indonesia adalah negara yang potensial dari segi apapun, hanya saja potensinya belum dimaksimalkan. Perbaikan tidak hanya dilakukan pada aspek kesehatan, namun menyinggung semua aspek kehidupan masyarakat. Jadi semua permasalahan tadi dapat diibaratkan berada dalam satu lingkaran yang sama. Sekarang tinggal apakah kita hanya akan melihat lingkaran itu terus berputar sendiri ataukah masuk ke dalam lingkaran dan mengendalikan putarannya.
-------------------------------------------------------------
Huyen, Maud MTE, Martens, Pim, Hilderink, Henk BM 2005, ‘The health impacts of globalisation: a conceptual framework’, BioMed Central, vol. 1, no. 14, pp. 1-12, viewed 1 November 2013, http://www.globalizationandhealth.com/content/pdf/1744-8603-1-14.pdf
Kristiansen, Maria, Mygind, Anna & Krasnik, Allan 2007, ‘Health effect of migration’, Dan Med Bull, vol. 54, no. 1, pp. 46-47, viewed 1 November 2013, http://www.danmedbul.dk/DMB_2007/0107/0107-artikler/DMB3871.pdf
Martens, Pim, Akin, Su-Mia, Maud, Huynen & Mohsin, Raza 2010, ‘Is globalization healthy: a statistical indicator analysis of the impacts of globalization on health’, BioMed Central, vol. 6, no. 16, pp. 1-14, viewed 1 November 2013, http://www.globalizationandhealth.com/content/pdf/1744-8603-6-16.pdf
Public Health Action Support Team 2011, ‘Migration and the Health Effects of International Trade’, Departement of Health, viewed 1 November 2013, http://www.healthknowledge.org.uk/public-health-textbook/medical-sociology-policy-economics/4c-equality-equity-policy/migration
WHO 2003, ‘World Health OrganizationInternational migration, health, and human rights’, viewed 1 November 2013, http://www.who.int/hhr/activities/en/FINAL-Migrants-English-June04.pdf
Wanna read another title -> just see Buku Kastrat BEM KM UGM 2013 : Menatap Indonesia dari Kampus Bulaksumur
read now : http://www.scribd.com/doc/194700970/Buku-Kastrat