“Menurut saya, teman-teman yang datang ke sini tuh “orang gila”. Gimana enggak? Mau-maunya dateng jauh-jauh ke Semarang, weekend, terus bakal diminta komitmennya buat jadi pemandu.” –Hamas, di Dauroh Pemandu Madrasah KAMMI (DPMK) Semarang 2017
Akhir-akhir ini semesta semacam menyajikan berbagai cerita dan kata kunci yang menuju ke suatu sasaran. Kata kunci itu seolah menjawab pertanyaan anak usia 20-an (aku) yang sedang merasakan sulitnya merawat mimpi.
Kata kunci pertama: Kaderisasi
Sebenarnya aku adalah orang yang cenderung menghindari kata kaderisasi. Bahkan dulu ketika bidang pengawasanku di SM Undip ditambah PSDM, rasanya kayak mau pindah komisi aja. “I know nothing, man!” pikirku waktu itu. Buku-buku tentang manajemen manusia bukanlah buku-buku yang berhasil membuatku melek. Tapi ya, there’s no one-man-show. Aku dikelilingi orang-orang, yang entah mereka sadar atau tidak, telah membantuku memahami barang ini. Yah, paling tidak untuk setahun kepengurusan di SM Undip. Setelah itu... bye, kaderisasi!
Eits, mau kemana? Aku ternyata tidak bisa benar-benar bye, karena kemudian aku masuk ke bentuk lain kaderisasi: Biro Pengembangan Organisasi. Ah, nggak ngerti gue. Semua terasa begitu abstrak. Haha. Mungkin benar...
Sometimes, the more we counter
The more we fall deeper
The tighter we hold
The more we should let go
Semakin aku menerima hal yang mesti kuterima, semakin mulus jalan yang kulalui. Kini semua semakin terang. Apalagi setelah ikut DPMK, yang membuatku merasa KAMMI bukanlah organisasi abal. (Hoho, promosi dikit.) Ibarat tubuh manusia, aku belajar hal-hal sistemik semacam pola kaderisasi, sampai tingkat sel seperti persoalan menyentuh hati.
Kaderisasi ada dimana pun.
Kaderisasi adalah pendidikan.
Kaderisasi melanjutkan kehidupan.
Salah satu kebiasaanku adalah menganalogikan ilmu-ilmu di luar kedokteran dengan hal-hal kedokteran yang kudapat di kampus. Kalau di KAMMI punya alur kaderisasi yang sedemikian rupa, aku juga melihat alur semacam itu di Kedokteran. Berawal dari sertifikasi di tes masuk PTN, pendidikan S1, dokter muda, kemudian lanjut jalur pendidikan spesialis atau S2. Semua itu untuk memenuhi kompetensi. Jika dengan ikut DPMK, kami dibilang “orang gila”, menurutku orang yang mengikuti alur kaderisasi Kedokteran tidak kalah gilanya.
Kata kunci kedua: Pengorbanan
Bicara tentang waktu seringkali menyangkut masalah lain: pilihan. Waktu yang kamu gunakan untuk bermain, bukanlah waktu yang kamu gunakan untuk belajar. Waktu yang habis untuk memulai bisnis, misalnya, bukan pula waktu yang kamu gunakan untuk memulai penelitian klinis. Intinya, waktu yang dipakai seorang dokter di rumah sakit, bukanlah waktu yang dia gunakan untuk keluarganya. Apakah kita harus membenturkan hal-hal semacam itu? Mungkinkah kita menjalani keduanya? Di satu titik, ya, kemungkinan itu selalu terbuka. Tapi akan ada suatu titik dimana kamu benar-benar harus memilih salah satu.
Tidak semua dokter akan berhadapan dengan kondisi gawat darurat, pulang terlambat, atau bertugas saat libur. Akan tetapi, sebagai Koas, yang belum tahu akan dibawa kemana oleh Sang Pemberi Nasib, harus siap dalam kondisi-kondisi itu kan? Menit ini kamu ada di rumah, menit berikutnya kamu sudah berjalan terbirit-birit di koridor rumah sakit. Detik ini kamu bilang akan bertemu seseorang, detik berikutnya bisa saja kamu mengirimi dia pesan minta maaf harus batal.
“Kamu nih ya, sukanya ngecewain orang,” ujarnya.
“Dia kemana sih? Nggak pernah kelihatan. Koas sesibuk itu ya?” kata seseorang bukan kepadaku.
“Kamu tuh ya, nggak tahu apa kalau diharepin dateng?” tanya yang lain.
“Kamu nggak bisa dateng? Yah, padahal pengen ngomongin sesuatu Nggi,” kata orang satunya lagi.
“Emang Anggi mah suka PHP,” sebutnya.
Meski sering berhadapan dengan situasi semacam itu dan orang-orang dengan baiknya memaklumiku, still it broke my heart to hear such words. Haha. Mungkin aku yang kurang pandai mengatur waktu, atau terlalu banyak minta dimaklumi, atau terlalu banyak memberi harapan. Aku juga paham rasanya dibatalkan, yang mana juga nggak aku sukai. Jadi ya udah lah ya, semoga mereka mengerti dan aku bisa lebih baik lagi. Atau aku yang terlalu banyak mengeluh? Melihat kehidupan residen, ada yang pulang jam 3 pagi, membuatku berpikir bahwa hidupku nggak ada apa-apanya. Iya kan? Hahaha. Patah hatiku jadi cepat sembuh.
Apapun niat seseorang untuk menjadi dokter, dia memikul tanggung jawab untuk menjadi “yang lebih tahu dibanding yang lain”. Pengorbanan yang ia lakukan untuk belajar dan berada di rumah sakit suatu hari akan berubah menjadi pengorbanan untuk dibutuhkan. Memang ya, semakin kita dewasa, faktor yang mempengaruhi pengambilan keputusan akan semakin banyak. Bukan sekadar suka atau tidak.
Kaderisasi dan Pengorbanan, 2 Hal yang Bersentuhan
Makanya, aku merasa menjadi “orang gila” dengan mau masuk ke alur kaderisasi Kedokteran.
Awalnya aku masih berpikir untuk bisa menjadi seperti orang-orang pada umumnya: kerja pagi, pulang sore. Berkali-kali butuh penyadaran diri bahwa...
“Everything will not be the same”
Masuk sebuah alur kaderisasi (apapun), artinya kamu akan lebih tahu daripada orang lain. Sebuah visi jangka panjang akan diserahkan padamu untuk diteruskan. Itu artinya, kamu bukanlah orang yang sama seperti sebelumnya. Jika kamu tak melakukan apapun seiring dengan tingkatan yang kamu punya, apalah artinya kaderisasi. Apalah arti pemahaman yang telah diberikan padamu?
Memasuki sebuah alur kaderisasi, memasuki fase pengorbanan yang baru, memasuki potensi baru.
(Laah kok malah tanya aku? Jawab dhewe.)
NB: Aku jadi teringat novel-nya Dan Brown yang judulnya The Lost Symbol, sedikit banyak membahas kaderisasi juga. Hahaha. Kontroversial sih, tapi namanya juga fiksi.