“Aku selalu nggak tega liat orang-orang yang jalan kaki ketika aku dengan enaknya berkendara.” Ujarku sore itu.
“Ah, nggak juga. Kayaknya kalo aku yang jalan nggak ada yang ngasihani kayak gitu.” Jawabnya.
“Ya iyalah, kamu kan meskipun jalan justru lebih bahagia.”
“Karna kamu sedang bersama orang yang tepat. Dimana kamu selalu ingin menghentikan waktu ketika ia ada di sisimu. Right?”
“Sudahlah, jangan lagi dibahas. Pertemuan kita hanya tinggal menghitung hari. Semoga kedepannya kita tetap bisa terus berdamai, ya?”
“Ya, Semoga. Dan semoga kedamaian itu bukan lagi sandiwara.”
Semoga Allah benar-benar berkenan mempersatukan hati kita. Sebagaimana Ia persatukan Muhajirin dan Anshar dalam keindahan ukhuwah karena-Nya..
Benarlah kata orang; jangan terlalu sering lihat spion. Karna fokusmu akan buyar, dan jalanmu tidak lagi terarah.
Boleh lihat ke belakang. Sesekali saja. Untuk mengambil pelajaran dari jalan yang pernah salah. Sebab jalan di depan masih panjang. Masa depanmu lebih pantas untuk diperhatikan.
Berdamailah dengan yang lalu. Kau hanya perlu menerimanya dengan penerimaan yang indah dan hati yang lapang. Lupakan apa-apa yang membuatmu sakit. Lupakan hal-hal yang hanya akan membuatmu patah.
Tersenyumlah. Lihatlah ke depan. Masih banyak hal-hal yang pantas kau syukuri daripada kau rutuki
YA, Karna kau berhak untuk bahagia.