Perjuangan Amerika Menentang Disinformasi dalam Era Kecerdasan Buatan | www.ceboz.com
Bagaimana demokrasi seperti Amerika Syarikat dan sekutunya menghadapi peperangan maklumat dari musuh-musuh mereka dalam era kecerdasan buatan?
seen from Belarus
seen from China
seen from United States
seen from United States

seen from Russia
seen from Maldives
seen from Belgium
seen from China

seen from Suriname
seen from Türkiye
seen from China
seen from China
seen from Macao SAR China
seen from China

seen from Malaysia

seen from Maldives

seen from Italy
seen from Australia

seen from Finland
seen from Türkiye
Perjuangan Amerika Menentang Disinformasi dalam Era Kecerdasan Buatan | www.ceboz.com
Bagaimana demokrasi seperti Amerika Syarikat dan sekutunya menghadapi peperangan maklumat dari musuh-musuh mereka dalam era kecerdasan buatan?
Facebook dan Twitter dilaporkan telah menghapus jutaan konten berita-berita palsu terkait informasi COVID-19. • Dilansir dari The Straits Times, Jumat (26/3/2021) juru bicara Twitter mengatakan bahwa pihaknya telah menghapus lebih dari 22.400 tweet dan memblokir 11,7 juta akun di seluruh dunia yang berisi konten bermasalah sejak tahun lalu. • Sementara itu, sejak bulan Februari Facebook telah menghapus dua juta konten dari Facebook dan Instagram, setelah memperluas daftar klaim palsu yang akan dihapus selama pandemi. • Twitter juga telah memperluas kebijakannya seputar berita palsu dengan memasukkan vaksinasi. • "Tweet yang menyebarkan narasi berbahaya, salah atau menyesatkan tentang vaksinasi COVID-19 akan dihapus." kata juru bicara Twitter. Source: detik.com © All right's and Credits Reserved To The Respective Owner(s). Does not intend to infringe copyright. Please Contact Us For Credit or Removal #facebook #twitter #hapus #beritapalsu #covid_19 #paparannews #paparanmediadotcom https://www.instagram.com/p/CN-6VTrlhI6/?igshid=1cw0wp6c2mrln
Aplikasi Pihak Ketiga Cek Fakta Facebook Tidak Efektif
Liputanviral - Facebook terus berusaha memerangi kampanye berita palsu dan misinformasi dalam platformnya. Salah satunya adalah menggandeng pihak ketiga yang bertugas untuk meninjau konten yang beredar di Facebook. Dilansir dari CNBC, ternyata terungkap tidak banyak konten yang mampu ditinjau oleh pihak ketiga. FactCheck.org salah satunya, Situs tersebut mengaku kepada The Wall Street Journal bahwa rata-rata dalam sehari pihaknya hanya meninjau kurang dari satu konten. FactCheck menugaskan dua orang dari delapan orang untuk bekerja secara khusus untuk Facebook. FactCheck mengakui tidak banyak pekerjaan yang dilakukan. Perusahaan pihak ketiga lainnya juga melaporkan minimnya beban kerja yang serupa. "Tidak ada 'peluru perak' (senjata yang bisa mematikan manusia serigala) untuk melawan misinformasi. Pengecekan fakta merupakan bagian yang penting dari usaha kita, tapi bukan berarti ini hanya satu-satunya strategi yang kami gunakan," kata juru bicara Facebook dalam pernyataan resmi. Facebook juga menargetkan akun palsu dan perilaku yang terkait unggahan palsu hingga click bait. Facebook pertama kali mengumumkan kerja sama dengan pihak pengecekan fakta ketiga. Pada saat itu Facebook bekerja sama dengan FactCheck.org, Snopes, Politifact, dan ABC News. Facebook kini juga mengajak kerja sama Associated Press (AP) dan The Weekly Standard Fact Check. Facebook berjanji akan mengerahkan 20 ribu karyawan yang akan bekerja untuk melakukan moderasi konten dan integritas pada akhir tahun. "Bahkan ketika organisasi pemeriksa fakta benar-benar ada, tidak cukup untuk meninjau semua klaim palsu yang berpotensi secara online. Diperlukan waktu beberapa jam atau bahkan hari untuk meninjau satu klaim," ujar Manajer Produk NewFeed Facebook Tessa Lyons. Perusahaan besutan Mark Zuckerberg telah meningkatkan upaya deteksi konten kampanye hitam dalam pemilihan presiden Amerika pada 2016 lalu dan menjelang pemilihan paruh waktu (midterm election) pada November mendatang. CEO Mark Zuckerberg bersaksi di depan Kongres bahwa algoritme kecerdasan buatan (AI) Facebook semakin baik. Kendati demikan Zuckerberg menekankan di samping penggunaan AI, pengecekan fakta yang dilakukan manusia juga penting. Read the full article
#FakeNews #BeritaPalsu (at Kumpulan Media Karangkraf)
Show room Perodua terbaru di Mak Mandin! #beritapalsu
Epidemi Berita Bohong di Amerika
Berita bohong yang sensasional, yang diputarbalikkan, dipenggal-penggal ataupun dihubungkan satu sama lain tanpa bukti, telah membanjiri media sosial selama musim kampanye pemilu lalu sehingga menyesatkan banyak orang di Amerika.
Termasuk Edgar Maddison Welch yang mendatangi restoran piza Comet di Washington DC dengan membawa senapan serbu dan mengancam nyawa. Untungnya tidak ada yang cedera ketika pria berusia 28 tahun itu melepaskan tembakan yang membuat karyawan dan para pelanggan yang sedang makan di sana panik dan menelepon polisi yang segera tiba untuk mengamankannya.
Comet Ping Pong ternyata sudah berminggu-minggu menjadi pusat teori konspirasi #PizzaGate yang digaungkan oleh kelompok supremasi kulit putih dan sejumlah website berita palsu. Mereka menyebarkan berita tanpa didukung fakta bahwa Hillary Clinton dan manajer kampanyenya terlibat dalam jaringan prostitusi anak dengan menggunakan restoran piza itu sebagai kedok.
Salah satu website yang dicap pabrik berita bohong atau hoax (AP)
Gosip yang kemudian menjadi hastag atau tagar dan berkembang menjadi teori konspirasi itu akhirnya benar-benar menjadi berita setelah Welch datang jauh-jauh dari North Carolina untuk menyelamatkan anak-anak teraniaya yang dia yakini disembunyikan di terowongan-terowongan misterius di bawah restoran piza itu.
Insiden ini menunjukkan konsekuensi nyata sebuah berita bohong yang menyebar dengan sangat cepat di dunia maya.
Tampilan berita yang tidak masuk akal, aneh, tetapi dikemas seperti berita konvensional itu sering kali diterima begitu saja di dunia maya dan bahkan disebarkan oleh para pejabat tanpa mengecek keakuratannya sehingga bisa menciptakan reaksi berbahaya, atau mungkin pertumpahan darah.