Sebening Ayna
Sebuah ulasan Novel Best Seller Bidadari Bermata Bening karya Habiburrahman El Shirazy.
Seperti Fathimah, semasa santrinya, Ayna menjadi khadimah Bu Nyai di pesantren. Bangun di saat yang lain masih terlelap demi menyiapkan sahur atau sarapan santriwati. Pergi berbelanja kebutuhan dapur hingga kebutuhan pribadi Bu Nyai. Kadang Ayna juga mengajak cucu Bu Nyai agar mau mengerjakan tugas sekolahnya dengan senang hati. Hingga sesekali menggantikan Kang Bardi mencuci pakaian Gus Afif, putra kedua Bu Nyai yang diam-diam Ayna kagumi.
Seperti Aisyah, meskipun memegang amanah sebagai khadimah, di akhir masa sekolahnya, Ayna mendapat nilai UN tertinggi bidang IPS se-Provinsi Jawa Tengah, dan tertinggi nomor sepuluh tingkat nasional. Tidak berakhir di situ, selulus pesantren, hidup Ayna penuh ujian dan cobaan. Ujian keluarga, cinta, harta, seakan ombak yang terus bergantian menerpa pijakan Ayna. Tapi cara pandang dan keyakinanannya akan takdir Allah begitu menguat menambah kejelitaannya.
Seperti Asiyah, menjaga kesucian adalah hal yang paling utama bagi Ayna. Pernikahannya (bisa dikatakan secara paksa) dengan Yoyok tidak kemudian meruntuhkan kemuliaan Ayna. Bagaimana bisa, seorang gadis jelita lulusan terbaik pesantren menikah dengan putra salah satu orang terkaya di Kabupaten Grobogan, sekaligus biangnya kemungkaran di Purwodadi? Begitu pandangan tetangga-tetangga Ayna. Namun Ayna punya cara tersendiri melaluinya. Bukankah doa-doa Asiyah terabadikan dalam Al Quran meskipun ia seorang istri Fir'aun?
Seperti Khadijah, ujian demi ujian yang Ayna hadapi mengantarkan ia kepada Bu Rosidah, Direktur perusahaan ternama di Bogor. Perusahaan yang bergerak di bidang pelayanan kebugaran dan kesehatan, memiliki dua puluh lima cabang di sepuluh kota besar Indonesia. Ayna meneguk ilmu dan pengalaman bisnis langsung dari mata airnya. Hingga Ayna berhasil mendirikian perusahaan roti dan rumah peduli anak jalanan yang dinamai Bayt Ibnu Sabil.
Jika di Ayat-Ayat Cinta penulis menciptakan tokoh ideal laki-laki bernama Fahri, maka di Bidadari Bermata Bening kita temui sosok muslimah ideal dalam diri Ayna. Keempat perempuan mulia yang Nabi sabdakan kelak menjadi sebaik penghuni Surga.
“Sebaik-baik wanita penduduk surga adalah Khadijah binti Khuwailid, Fatimah binti Muhammad dan Asiyah istri Fir’aun.” (HR Ahmad)
“Yang sempurna dari kaum lelaki sangatlah banyak, tetapi yang sempurna dari kaum wanita hanyalah Maryam binti Imran, Asiyah binti Muzahim, Khadijah binti Khuwailid dan Fatimah binti Muhammad. Sedangkan keutamaan Aisyah atas seluruh wanita adalah seperti keutamaan tsarid (roti yang diremukkan dan direndam dalam kuah) atas segala makanan yang ada.” (HR Bukhari)
Saya tidak berhobi membaca novel. Namun di satu kesempatan, saya merasa butuh mengkaji ulang bagaimana wanita-wanita mulia bisa meneguhkan hatinya dari berbagai cobaan. Penjagaan hati yang merapuh, kemanfaatan yang memudar, kejelitaan etika yang mengeruh, membuat pribadi ini tenggelam dari cahaya kesholihahan. Dan benar, terkadang cerita fiksi menjadi satu cara yang ampuh tuk menggambarkan fakta. Realita yang sebetulnya bernafas lama di kehidupan kita. Tapi diri sering tidak sadar karena menganggapnya hal biasa.
Bidadari Bermata Bening tidak hanya menjadi motivasi, tapi penulis juga mampu memasukkan beberapa hukum-hukum fiqh dengan apik dalam alur ceritanya. Seperti contoh siapa yang berhak menjadi wali dalam pernikahan, bagaimana muamalah dengan kerabat yang bertentangan, dan yang terpenting, bagaimana meneguhkan penjagaan dan hati yang saling mencintai.
Semoga keberkahan melimpah bagi penulis Bidadari Bermata Bening, pembaca, pihak-pihak yang terlibat dalam penerbitan dan pendistribusian, serta siapa pun yang mau mengambil ibroh darinya. Juga untuk segenap sholihaat di mana pun berada, semoga kita menjadi Bidadari dunia dan Surga.












