Pelari yang ingin menang juga larinya sambil napas, kamu lari ngejar ambisi malah lupa napas.
Hehehe. Pelan pelan saja yuk, nanti juga sampai.

seen from United States

seen from Germany
seen from United Kingdom
seen from United Kingdom

seen from Russia
seen from United States
seen from Germany
seen from China
seen from China
seen from Yemen
seen from United States

seen from United Kingdom
seen from Iraq
seen from United States

seen from Sweden
seen from Canada

seen from Australia
seen from China
seen from China

seen from Maldives
Pelari yang ingin menang juga larinya sambil napas, kamu lari ngejar ambisi malah lupa napas.
Hehehe. Pelan pelan saja yuk, nanti juga sampai.
Perihal Izin
Perihal Izin
Bagi beberapa orang izin merupakan hal yang biasa yang tidak terlalu pentng bahkan. Tapi lagi-lagi semakin berusia semakin banyak hal yang terpikirkan dan semakin banyak pula yang menjadikan diri semakin berkontemplasi dengan keadaan. Izin mungkin bagi sebagian orang tidak penting, tapi tidak bagi diri pribadi perihal izin merupakan hal yang sangat krusial dan sangat-sangat penting. Kenapa?
Karena menurutku perihal izin merupakan hal yang membuat hidup kita lebih terjaga dan lebih berhati-hati. Barangkali kita pernah menjadi orang yang seringkali melalaikan izin, contoh memberikan kontak pribadi teman/saudara/kolega kepada orang lain tanpa izin, atau dengan mengunggah foto tanpa persetujuan si pemilik foto. Hal ini seringkali terjadi dalam kehidupan kita karena kita merasa bahwa hal tersebut tidak memerlukan persetujuan. Namun, kita lupa bahwa semua hal yang kita lakukan akan ada pertanggungjawabannya. Bagaiman bila seseorang yang ada didalam gambar tersebut tidak ridho? Bagaimana nomor yang telah dijaga tersebut merupakan hal privasi? Bagaimana jika kita malah membuat si ‘pemilik’ tersebut merasa bahwa hidupnya tidaklah nyaman.
Di era media sosial yang mampu menampakan apa saja ini. Haruslah kita menjadi pribadi yang lebih hati-hati lagi. Termasuk share informasi, foto orang lain, tulisan orang lain, ctatan orang lain, dan buah emikiran orang lain. Karena semua hal tersebut memerlukan orang yang bersangkutan agar dapat menjadi keridhoannya sehingga kelak saat Allah meminta pertanggungjawaban kita memiliki jawaban yang tepat.
Perihal izin juga merupakan hal yang penting terlebih ketika nanti sudah berumah tangga karena kelak sebagai perempuan kita akan membutuhkan izin suami dan juga keridhoannya. Maka belajarlah dari hal-hal yang kecil untuk meminta izin. Seperti meminjam barang orang lain, dan memberikan kontak pribadi kepada seseorang, mengunggah foto yang ada orang lainnya. Mintalah izin dan keridhoannya agar hidup kita lebih tenang. Semoga hal tersebut menjadi bentuk kehati-hatian kita sebagai hamba-Nya.
Bandar Lampung, 11 Agustus 2020
Hakikatnya, apa-apa yang di unggah atau di post di sosial media adalah hanya sebagian kecil dari apa-apa yang ingin diperlihatkan. Selebihnya mungkin tidak perlu diketahui.
Karena ini forum yang sangat luas - sesuatu yang di upload oleh seseorang - Bahkan tanpa seizin pemiliknya pun dengan SANGAT MUDAH nya di download, save, reshare, re-post atau screenshot itu gampang banget di akses.
Kalau kita suka postingannya, kita bisa reshare, kasih komentar dan like, atau bahkan kita bisa menyimpannya digaleri kita. Forum ini luas, dan mengizinkan untuk hal itu. Apalagi handphone yang syuper canggih ini, screenshot yaa cuman sorotin 3jari kelayar handphone lalu tersimpanlah digaleri,ini sih versi O*po ya:')
Itu sah-sah aja.
Tapi kalau masalah sopan-santun (etika) - yang seharusnya mintalah izin terlebih dahulu, dan menampilkan siapa penciptanya. Karena ini juga penting.
Tapi bukannya apa-apa yang kita upload di sosial media adalah apa-apa yang kita perkenankan untuk diakses atau dilihat oleh banyak mata? Dengan konsekuensi dan tanggungjawab masing-masing...
Misalnya foto kita ada di akun sih B, atau karya kita dihak-milik orang lain dengan tidak memunculkan siapa penciptanya... Banyak kasus sih..
Tapi dipastikan, apa-apa yang kita tuang disini adalah apa-apa yang lebih banyak manfaatnya dan lapanghatilah bila sewaktu-waktu ada hal yang tidak mengenakkan diri. Karena pada akhirnya semua kembali pada diri,
'kenapa kau mempostingnya?'
Akhir Februari, 28th 2019 | Yumi Sastriyansah
Harapanku perlahan-lahan mulai redup, dibunuh diam-diam oleh rasa takut yang terperangkap dalam fikiranku sendiri.
22:48 wib
Hati-Hati
Memasuki usia yang mana berteman dengan kawan beda jenis menjadi sangat berhati-hati bagiku.
Aku, terlalu takut bila tercipta rasa yang belum waktunya untuk hadir. Untuk ku juga untuk kawan lawan jenisku itu.
Akupun tak ingin menjadi manusia yang egois jika hanya perkara perasaanku yang ingin ku jaga. Bukankah, ia pun tercipta lengkap sempurna dengan perasaannya?
Maka, disuatu sore, sampailah aku pada permintaanku kepada Tuhan, "izinkan aku tetap menjaga perasaanku hanya untuk ia yang Engkau ridhoi."
Pun untuknya, aku berdoa pula "dan untuk dia, semoga Engkau izinkan dia menjaga perasaannya untuk ia yang Engkau ridhoi."
Dan setelahnya, ringan saja bagiku mengabaikan chat yang ku rasa tidak ada tempatnya dan tidak ada keperluan untukku membalasnya.
Setiap orang ada masanya dan setiap masa ada orangnya bukan?
Jika waktu belum berkonspirasi dengan segala keadaan, ku rasa memberi ruang untuk diri kita menyelesaikan urusan urusan diri adalah bijak adanya.
Dan semoga dengan demikian, tiba saatnya waktu dan keadaan saling bertemu, memberi kita kesempatan menyelesaikan urusan urusan bersama.
Drama dalam Penculikan
Belakangan ini, penculikan anak semakin marak terjadi. Bahkan dalam 2 tahun terakhir, kasus penculikan anak meningkat 2 kali lipat. Banyak orang tua tidak tahu tentang taktik penculikan yang satu ini. Pelaku sangat berani, walaupun Anda orang tuanya berada di samping.
Baru-baru ini, ada seorang netizen membagikan kejadian yang dialaminya ke internet guna menghimbau orang tua lain untuk berhati-hati jika bertemu orang tak dikenal yang seakan "terlalu ramah". Begini ceritanya:
Baru kemarin saya bawa anak saya pulang ke rumah ibu saya. Kita naik kereta. Di samping saya duduk seorang ibu-ibu, usianya kira-kira sudah 60 tahun. Sepertinya dia bawa cucu, usianya kira-kira 7-8 tahun.
Selama perjalanan, ibu ini ngobrol terus sama saya. Bukan cuma itu, dia juga mengingatkan saya kalau di kereta banyak orang, harus perhatiin barang bawaan. Cucunya juga kadang main-main sama anak saya.
Anak saya perempuan baru mau genap 1 tahun. Ibu itu tanya-tanya anak saya umur berapa, kapan lahir, lahir di mana, berat badannya, bla bla bla, terus dia juga cerita tentang cucu dia.
Saya pikir dia cuma ajak ngobrol biasa, namanya ibu-ibu, duduk di kereta, kebetulan sama-sama bawa anak, yah ngobrol.
Dia juga tanya anak saya minum susu apa, seberapa sering, yah saya jawab aja.
Tapi entah kenapa semakin lama pertanyaannya semakin aneh… makin mendalam dan mendetil. Masa dia tanya anak saya lahir jam berapa? Saya pikir ini kurang bagus untuk orang lain tahu yah, jadi saya bilang saya lupa.
Terakhir, dia tanya anak saya siapa namanya. Yah saya kasih tahu nama panggilan anak saya, tapi dia tanya NAMA LENGKAP!
Di sini saya sudah semakin curiga. Merasa ada yang tidak beres, saya pun memberitahukan nama palsu.
Sebelum sampai stasiun, saya pamit ke toilet. Ibu itu malah menawarkan saya untuk menitipkan anak kepadanya. Dalam hati saya sudah sangat curiga. Saya ingin mencari tempat duduk di tempat lain, namun sudah penuh semua, jadi terpaksa saya kembali lagi duduk di samping ibu itu. Kelihatan sekali dia menunggu saya di kursi itu sampai saya kembali.
Turun di stasiun, ibu itu bantu saya bawa koper tanpa disuruh. Kita jalan bareng sampai pintu luar stasiun. Dia tanya apakah saya ada yang jemput. Saya bilang tidak… (padahal ada)
TIba-tiba, ibu itu mau gendong anak saya. Dia bilang terima kasih sudah menjaga "cucunya".
Saya langsung kaget. Saya bilang, "Ibu! Ini apa-apaan sih!?"
Anak laki-laki yang ikut di sampingnya pun, "Orang jahat! Kembalikan adik saya!"
Saya langsung syok anak kecil itu ngomong begitu. Banyak orang liatin saya, kirain saya culik anak. Tiba-tiba ada satu cewek datang, panggil nama anak saya (nama palsu yang tadi saya kasih tahu) dan bilang, "Duh kamu ke mana aja dari tadi ibu cari-cari! Ayo kita pulang!"
Dia ngotot mau gendong anak saya. Saya langsung naik taksi yang ada di depan gerbang, tapi ngerinya, wanita ini ikut naik. Dia tarik-tarik anak saya. Saya peluk anak saya erat-erat. Anak saya pun nangis.
Di tengah kekacauan seperti ini, pak supir juga gak berani jalan. Saya cuma bisa turun lagi dan menghadapi wanita itu. Mendengar tangisan anak saya, semua orang berhamburan keluar, kirain saya culik anak.
Anak kecil itu bilang, "Bu, kembaliin adik saya cepet! Kita mau pulang!"
Saya bilang, "Apa-apaan kalian!? Ini anak saya!"
Tangan dan kaki saya sudah bergemetar. Hati saya sudah dag dig dug, takut anak saya diambil sama mereka. Bagaimana pun, dua lawan satu.
Tiba-tiba, ada orang yang manggil. Pas saya lihat, ternyata itu bapak sama ibu! Mereka datang jemput saya!
"Ada apa ini rame-rame begini!?", tanya bapak.
"Itu pak, mereka mau culik anak, bilang ini anak mereka!"
"Ini anak saya kok!", bela wanita itu. Saya tahu tanggal lahirnya, golongan darahnya, namanya….. dan lain-lain, semua ia sebutkan satu-satu.
Saya pikir, Astaga…. Itu kan yang tadi informasi tentang anak saya yang saya kasih tahu ibu-ibu itu di kereta. Saya pikir cuma sekedar ngobrol, gak nyangka bisa jadi seperti ini! Untung saya kasih tahu nama palsu anak saya.
"Kalau gitu, nama anak saya siapa?", teriak saya.
"Nadin!", sahut mereka.
"Bukan! Nama anak saya putri! Nadin itu nama palsu!", teriak saya.
Semua orang yang di sana, termasuk 2 wanita itu pun hanya bisa terdiam.
Saya langsung semprot, "Kalian ini masih punya hati nurani gak!? Bisa-bisanya ajak anak kecil untuk ikut bohong sama kalian culik anak orang! Dosa tahu gak!? DOSA!"
Mereka langsung diam gak berani ngomong sepatah kata pun. Saya langsung naik mobil didampingi ayah dan ibu saya lalu pergi.
Duduk di mobil, badan saya masih gemetaran. Air mata saya mulai bercucuran. Saya peluk erat-erat putri saya. Kalau saja ayah dan ibu tidak datang tepat waktu… bisa-bisa anak saya beneran direbut sama dua orang itu...
Setelah sampai di rumah, sudah agak tenang, kami langsung lapor polisi. Ternyata polisi juga bilang kalau akhir-akhir ini kerap terjadi penculikan anak. Mungkin ini adalah salah satu cara yang mereka gunakan, menargetkan ibu muda yang bawa anak, pura-pura dekat dan mencari kesempatan untuk mengambil anak ketika sang ibu tidak memperhatikan. Untung dari awal saya tidak pernah lengah melepaskan kedua mata dari putri saya.
Dengar-dengar belum lama ini juga ada kejadian anak diculik di pasar. Seorang ibu tua tak dikenal datang ke seorang ibu yang lagi bawa anak dan bilang, "Ternyata kamu di sini!" Tiba-tiba seorang pria tak di kenal seumuran ibu muda itu datang dan langsung menampar ibu muda itu dan mendorongnya.
"Udah tau anak sakit masih dibawa keluar!", bentak laki-laki itu.
Ibu tua itu pun langsung gendong bayinya yang ada di dorongan dan ngomel-ngomel, "Anak udah sakit gini masih dibawa keluar juga… Mana ada ibu macam ini!?"
Ibu tua itu bawa anak pergi duluan, sedangkan laki-laki itu masih di sana marahin sang ibu yang tidak tahu apa-apa dan tak berdaya menghadapi laki-laki sebesar itu seorang diri.
Terakhir, laki-laki itu naik motor lalu pergi. Ibu itu cuma bisa menangis kebingungan bilang anaknya diculik, tapi gak ada yang peduli. Orang-orang kirain itu cuma masalah keluarga, pasangan lagi berantem. Sampai beberapa saat kemudian baru tahu ternyata ada anak diculik. Anak itu juga kira-kira berusia 10 bulan.
Kalau didengar-dengar, saya gak nyangka kalau hal ini akan benar-benar terjadi pada saya. Sebagai orang tua, kita tidak boleh lengah. Kalau menjumpai orang tak dikenal yang tiba-tiba nyapa, sok kenal sok dekat, tanya-tanya hal yang kedengarannya aneh atau minta gendong anak sebentar, TOLONG JANGAN! Kita tidak akan pernah tahu apa maksud orang di belakang, untuk itu dengan mengantisipasi dan menjaga jarak adalah satu-satunya hal yang bisa kita lakukan.
HATI-HATI, SIAPA TAU, DIRIMU JADI SEBAB SEDIH ORANG LAIN, KECEWA ORANG LAIN, DAN MARAH ORANG LAIN.
KARENA, MANUSIA SERING MELAKUKAN BANYAK HAL TERLALU BERLEBIHAN HINGGA LUPA, BAHWA LOGIKA PERLU DILIBATKAN TAPI HATI MENANG TANPA PERDEBATAN.
Listiana, 2018
Mencintai dengan (Hati) Hati
Cinta, siapa yang belum pernah merasa? Karena cinta kita dapat bahagia dan merana. Karena cinta kita bisa berduka dan ceria. Walau punya dua sisi, sebagian besar orang berani mengambil risiko patah hati demi mendapatkan cinta.
Dengan latar belakang budaya orang Indonesia yang sering ‘kebelet kawin’, wajar jika kaum perempuan was-was saat sudah lama melajang. Buat saya pertanyaan yang lebih penting bukan 'sudah siapkah kita untuk menikah', tapi 'sudah siapkah kita untuk mencintai'?
Ada perbedaan besar antara mencintai karena takut kesepian dan mencintai dengan ‘alami’. Ada orang yang begitu takut menjalani hari-hari sendiri, merasa tidak bisa hidup kalau jomblo. Orang-orang macam ini biasanya (tidak selalu sih) kalau memiliki hubungan yang di ambang kehancuran sudah mulai mencari pengganti sebelum resmi putus. Mengapa? Selain mungkin ada yang mentalnya suka selingkuh, banyak yang berlaku demikian karena tak mau kesepian. Alasan yang cukup menyedihkan. Bahaya sekali kalau kita memulai hubungan baru hanya karena takut sendiri.
Orang yang takut sendiri nantinya akan menuntut banyak dari pasangan. Menuntut ditemani, disayangi, dan dibuat tidak kesepian lagi. Beda kalau sebelum memulai hubungan, kita sudah nyaman dengan diri sendiri. Kita nyaman hidup sendiri, namun siap untuk jatuh cinta. Jadi ketika memulai hubungan dengan orang lain, yang ada hanyalah saling melengkapi dan menambah kebahagiaan, bukan menambal kesepian atau kekosongan.
Ibaratnya, orang yang takut sendiri itu seperti gelas kosong yang terus meminta diisi air. Ia selalu haus dan berharap orang lain akan memberinya air. Orang yang siap mencintai sudah punya air dalam gelasnya. Ia sudah cukup tanpa harus diisi oleh orang lain. Jadi dalam hubungan yang baik, dua gelas berisi air akan saling memberi hingga isinya tumpah-ruah. Cinta dan kebahagiaan melimpah.
Bagaimana dengan kita? Apakah kita hanya meminta ‘diisi’ tanpa punya kapasitas untuk ‘mengisi’?
***
Pernah punya teman yang tidak mau putus padahal kekasihnya itu kasar, posesif, atau punya sifat buruk lain? Alasannya bisa karena ‘sudah terlalu biasa’, ‘sudah nyaman’, ‘sudah dekat dengan keluarga’, atau ‘sudah telanjur terlalu cinta’. Coba tanya pada mereka, semisal sehabis putus ada jaminan dia bisa mendapatkan pacar baru yang lebih baik, maukah mereka putus? Saya kok yakin pacar itu akan langsung diputuskan. Berarti sebenarnya bukan sudah nyaman atau sudah terlalu cinta. Alasannya lebih karena takut sendiri lagi dan harus mengulangi proses mencari pasangan dan pacaran dari awal.
Memang putus cinta itu menyakitkan, semua pasti setuju. Tapi setelah itu jangan terburu-buru. Sebelum memulai suatu hubungan ada baiknya kita mengecek kondisi diri sendiri. Sudahkah hati kita siap? Apakah kita mencari pacar hanya supaya malam minggu tidak sendirian? Apakah kita mencari pasangan hanya supaya bisa segera menikah dan punya anak? Apakah kita mencari kekasih hanya agar diberi sebuket bunga dan cokelat? Pertanyaan-pertanyaan ini bukan hanya untuk orang yang putus cinta. Orang yang belum pernah atau sudah lama tidak pacaran pun belum tentu siap untuk memulai hubungan baru.
Menjalani suatu hubungan itu bukan perkara memenuhi imajinasi kita akan kisah romantis ala film. Justru mengharapkan hal-hal romantis dari pasangan itu seringkali kurang baik. Kalau kita punya terlalu banyak ekspektasi, pada akhirnya yang ada hanyalah kekecewaan.
Bayangkan saat ada teman pergi liburan. Kalau berharap dibawakan oleh-oleh dan ternyata tidak diberi, pasti akhirnya kita merasa tidak diperhatikan. Namun ketika kita tidak berharap apa-apa dan teman itu datang dengan oleh-oleh, pasti senang kan? Jadilah seperti itu dengan pasangan. Jangan terlalu muluk berharap, maka setiap hal kecil yang dilakukan pasangan akan jadi berkesan. Ingat, kalau kita terlalu banyak ekspektasi jadinya justru akan frustrasi. Kalau pasangan memang sama sekali tidak romantis, terimalah dia apa adanya. Jangan paksa dia jadi prince charming seperti di cerita dongeng. Tidak bisa terima dia apa adanya? Berarti dia bukan tipe yang tepat untuk Anda. Coba pahami apa yang Anda harapkan dari pasangan dan cari orang yang memenuhi kriteria itu.
***
Sadar tidak, dengan berani mencintai sebenarnya kita membuka tameng hati dan bersiap untuk disakiti. Berani mencintai berarti harus berani ditolak, dilupakan, diputuskan. Tapi jangan takut juga, berani mencintai berarti berani mengejar mimpi untuk mendapatkan cinta sejati. Semoga kita semua bisa mencintai dengan hati dan hati-hati :)