Bismillah.
Alhamdulillah.
seen from Kazakhstan
seen from Portugal
seen from Germany

seen from United States
seen from China
seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from Canada

seen from Malaysia
seen from Tunisia
seen from Germany
seen from Malaysia
seen from France
seen from United States

seen from France

seen from United States
seen from United States
seen from United States
Bismillah.
Alhamdulillah.
Menjadi Change Maker menurutku tidak mudah, karena akan aku temui pikiran, kebiasaan, budaya, sifat, hati orang lain diluar diriku. Jadi perlu proses yang juga tidak sebentar.
Sederhananya seperti yang disampaikan Mba Zahra:
Ketika kondisi rumah berantakan dan kita ingin ada perubahan di sana yaitu anak bisa membereskan mainannya sendiri, maka harus ada proses yang kita usahakan agar anak mau bekerjasama dengan kita menjadi tim beres-beres.
Ini masih dengan anak sendiri ya, bagaimana jika dengan orang lain di luar keluarga kita? Tentu butuh usaha lebiiiiih.
Mari mulai perubahan dengan menggunakan kacamata empati. Inilah tugas awal misi 10.
Awal mendapat tugas ini, aku langsung terpikirkan visi-misi keluarga. Tapi itu masih cukup jauh prosesnya, kemudian ku tengok lingkungan tempat tinggal ku, ku temukan hal yang ingin ku rubah. Tapi rasanya masih belum klik, maka ku coba tengok diri dan keluarga ku sendiri. Ah! Memang baiknya yang harus ku fokuskan adalah keluarga ku sendiri terlebih dahulu. Jadilah kacamata empatiku tertuju kedalam sini.
Ada beberapa hal yang aku soroti tapi aku akan mulai dari perbaikan kesehatan dan kebugaran keluarga. Karena kami mempunyai alergi dan intoleran, maka sering sekali hal ini terasa menjadi penghalang dalam berkegiatan dengan maksimal. Aku perlu berkerjasama dengan anak toddlerku agar aku mampu memasak sehat sendiri setiap hari. Aku perlu support dari suami untuk belajar tentang kesehatan holistik. Dan kami (aku dan suami) perlu saling menguatkan satu sama lain.
Bismillah.
Tugas selanjutnya pada misi 10 adalah membuat surat cinta untuk suami sebagai orang terdekat yang senantiasa mendukungku untuk bertumbuh. Ternyata aku butuh waktu cukup lama untuk ini :)). Meski aku kadang mengalirkan rasa tentang suami dalam memo harian, pun membuat jurnal kebaikan suami, itu tidak lantas menjadikan ku mudah dalam menulis surat. Tapi alhamdulillah sudah terkirim juga suratnya. Dan ternyata cukup panjang yang ku sampaikan.
Dari tugas ini aku merasa bernostalgia dengan segala kenangan yang telah kami lewati. Bagaimana kami bertumbuh, perubahan apa yang terjadi dalam diri dan keluarga kami, juga impian-impian kami. Rasanya menulis surat kepada pasangan perlu jadi agenda tahunan deh minimal karena selain bisa memperkuat ikatan, juga bisa jadi alternatif menyampaikan rasa, buat refleksi diri hihi.
Sekian misi 10 ku sampaikan. Banyak hal yang ku dapat dari tiap misi, alhamdulillah. Semoga bisa ku praktekan semuaaaa secara istiqomah huhu, aamiin.
🤍🤍🤍