Bismillah.
Alhamdulillah.
AnasAbdin
Today's Document
let's talk about Bridgerton tea, my ask is open

★
Game of Thrones Daily

Love Begins

Janaina Medeiros
No title available
Sweet Seals For You, Always

PR's Tumblrdome

❣ Chile in a Photography ❣

No title available

izzy's playlists!
almost home
I'd rather be in outer space 🛸

oozey mess

Product Placement
NASA

#extradirty
Alisa U Zemlji Chuda
seen from Ecuador

seen from United States
seen from United States

seen from United Kingdom

seen from Japan

seen from Malaysia
seen from Germany

seen from Türkiye
seen from United Kingdom

seen from United States
seen from Lithuania
seen from United States

seen from Türkiye

seen from Japan

seen from United States

seen from T1

seen from Australia

seen from T1

seen from United Kingdom

seen from United States
@ummuaisha
Bismillah.
Alhamdulillah.
Bismillah.
Alhamdulillah misi 8 berhasil ditaklukkan. Rekor ngerjain misi paling patas hehe Alhamdulillah Allah beri kemudahan. Jazakillah khoir teruntuk WI kak Yayan tersayang yang telah menyampaikan materinya dengan sangat epic sehingga terseraplah semua ilmunya dengan mudah.
Sedikit cerita, setelah selam berakhir tetiba suami nyeletuk “Jadi mau bikin project apa Mi?” Masya Allah, diam-diam suami pun ikut menyimak diskusi kak Yayan dan para penjelajah :D
Alhamdulillah project atau karya yang dirancang sudah rilis, semoga Allah mudahkan dalam eksekusinya nanti di Bunda Produktif. Aamiin. Matrikulasi sebagai gerbang awal menuju tahap perkuliahan ini benar-benar memberi pondasi dan gambaran bagaimana untuk melangkah ke depan. Masya Allah, salam takzim untuk para penyusun kurikulumnya. Barakallahu fiikum.
Bismillah. Alhamdulillah super sekali misi 7 kali ini. Selain mendapat ilmu baru kami juga mendapat kenalan baru dari para senior di HIMA. Suntikan semangat kami dapatkan juga melalui banyaknya spoiler jenjang perkuliahan yang ada di institut. Setelah memaparkan peta misi diri & keluarga dan mengenal jenjang perkuliahan di Institut, akhirnya saya bisa menyusun peta misi selama berada di Institut. Peta misi diri & keluarga saya alhamdulillah selaras dengan apa yang ada di perkuliahan institut sehingga saya siap menapaki setiap jenjang perkuliahan dengan optimis. Semoga Allah mudahkan. Aamiin.
Terima kasih untuk Widyaiswara dan HIMA Jakarta. Jazakunnallah khoir.
Bismillah.
Alhamdulillah, sebelumnya saya ingin mengucapkan terima kasih wa jazakillah khoir Mbak Hamidah yang telah membersamai kami dalam mencicipi hidangan “Misi 6: Karakter Moral Ibu Profesional” dengan sangat lugas dan menyentuh. Terima kasih juga wahai diri sudah berjuang sampai detik ini.
لَا حَوْلَ وَ لَا قوَّةّ إِلَّا بِا الله Your life is nothing more than a love story. Between you and God. Nothing more. Every person, every experience, every gift, every loss, every pain is sent to your path for one reason and one reason only: to bring you back to Him. (Yasmin Mogahed) 📸: @ukhasana 💕👌 (at Great Mosque of Central Java)
Jadi woles saja~ 🍃🍃🍃 Tugas kita hanya taat, insya Allah selamat dunia akhirat. #nohardfeelings #bapernyaBawaPerubahan #25Syawal1438H
Jadilah seperti bunga yang memberikan keharuman bahkan kepada tangan yang menghancurkannya. - Ali bin Abi Thalib
Mencari-cari kesalahan itu baik ... . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . baiknya dimulai dari diri kita sendiri =) _____________________________________ “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Hasyr: 18). #YukMuhasabah!
بسم الله الرحمن الرحيم يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ وَ عَلَى طَاعَتِكَ (at Indonesia)
BERUBAH MENUNGGU MUSIBAH (?)
Sambil menunggu bapak mertua yang akan dioperasi di rumah sakit, saya masuk dalam lamunan. Tiba-tiba jadi teringat kisah yang dituturkan dosen saya waktu kuliah pascasarjana dulu. Dalam sebuah momen ujian sidang tesis, di sela-sela menguji pak dosen penguji bercerita tentang pengalamannya sewaktu kuliah S2 dulu. Saat itu beliau mengontrak mata kuliah Filsafat Ilmu dan dosennya—yang juga adalah seorang guru besar—waktu itu nggak pernah masuk, tapi di akhir-akhir perkuliahan sang professor baru menampakkan batang hidungnya. Di kelas, berceritalah professor tadi kenapa dirinya nggak pernah masuk dan baru di akhir-akhir perkuliahan dia bisa mengajar, dia beralasan bahwa selama beberapa bulan ini dirinya dirawat di rumah sakit karena mengalami komplikasi parah dan hampir mengantarnya pada maut. Selama dirawat dia mengaku telah mengalami begitu banyak pengalaman spiritual yang mengantarkannya pada akumulasi kesadaran dan keinsyafan diri dari berbagai episode kemaksiatan yang pernah dilakukannya di masa lalu. Sang professor begitu emosional ketika menarasikan pengalamannya selama sakit sampai bercucuran air mata. Intinya, sakit parah yang dideritanya telah menyampaikannya pada benang merah hakikat hidup sejati yakni pengabdian pada sang ilahi yang selama ini agak "diremehkannya". Mungkin karena professor tsb selama berpuluh-puluh tahun bergelut dengan pemikiran 'rusak' filsafat sebagai disiplin ilmu yang digelutinya. Ini tentu sangat wajar karena pemikiran akan melahirkan pemahaman dan pemahaman akan mendorong perilaku seseorang. Perilaku apa yang dihasilkan amat tergantung pada konten pemahaman yang dimilikinya, jika pemahamannya sekuler maka perilakunya juga tidak jauh dari pemahamannya yang juga pastinya sekuler, pun sebaliknya jika mentajassad pada dirinya pemahaman Islam maka akan lahir pula dari dirinya perilaku sesuai tuntunan syariah. Sebelumnya sang professor yang notabene muslim itu dikenal liberal, anti syariah, dan anti hal-hal yg berbau Islam dan perjuangannya. Dengan kondisi pemahamannya yang demikian, jadilah dia banyak melakukan pelanggaran syariah dalam hidupnya mulai dari mengabaikan kewajiban solat lima waktu sampai bermuamalah melabrak hukum syara'. Peristiwa sakitnya itulah yang pada akhirnya mengantarkannya pada tobat, pada keinsyafan, menjadi insan yang lebih baik, dan lebih taat syariat. Diakhir sesi perkuliahan dosen sy kemudian bertanya kepada professor tsb (yang menurutnya, pertanyaan inilah yang mengantarkannya sebagai satu-satunya mahasiswa yang mendapat nilai 'A' dalam mata kuliah tsb) Pertanyaannya kurang lebih seperti ini.. "Izin bertanya prof... Begini, saya melihat ada begitu banyak orang pasca melewati musibah seperti kehilangan orang tercinta (bisa ortu, istri, atau anak), atau kecelakaan yang hampir merenggut nyawa, atau meninggalkan cacat fisik permanen, atau sakit yang mendera hingga koma, yang kesemuanya itu pada akhirnya mengantarkan dia pada kesadaran dan pertobatan serta membentuk visi hidup yangg tiba-tiba menjadi tertata, ingat mati, dan takut dosa. Jadilah dia sebagai orang yang lebih religius dan lebih perhatian pada agama, fokus beramal sebagai bekal menyiapkan kematiannya kelak. Lalu pertanyaannya haruskah tobat, berubah, dan menginsyafi berbagai kemaksiatan yang telah atau sedang kita kerjakan itu kita lakukan setelah mengalami berbagai musibah dalam hidup kita? Sementara boleh jadi kebenaran itu sudah berulang kali hadir di depan mata, entah melalui tausiyah, nasihat, atau ajakan langsung seorang ustadz pada kita. Apakah tobat kita itu harus menunggu momen ditinggal orang-orang tercinta? Dimana saat itu kita mengalami keterpurukan yang sangat karena meninggalnya ortu, suami, istri, atau anak-anak kita yang sangat lucu, lalu ditengah keterpurukan tsb kita berhasil mengkonversinya menjadi sebuah perubahan fundamenal dalam hidup kita untuk menjadi orang yang lebih baik dengan menjadikan kehilangan sebagai kekuatan. Apakah tobat itu harus menunggu kondisi kita mengalami sakit parah dulu? Atau kecelakaan yang sangat fatal? Lalu kita begitu ketakutan akan tibanya kematian sementara kita belum menyiapkan amal-amal soleh sebagai bekal di akhirat kelak. Apakah tobat itu harus menunggu saat dikejar-kejar utang yang membelit, terjerat kasus korupsi, dan kriminalitas lain yang menjadikan kita mendekam di penjara sebagai pesakitan? Apakah tobat itu harus menunggu saat kita dihampiri perasaan galau dan kecewa berat karena patah hati diputus cinta, ditinggal kekasih, atau dikhianati wanita? Atau apakah semua hal itu bisa kita skip saja seraya langsung kita jatuhkan pilihan hidup yang benar itu sesuai dengan ilmu atau pemahaman Islam yang kita terima dengan bantuan akal kita? Toh nyatanya kebenaran sudah di depan mata, yang benar dan salah juga sudah jelas. Mohon tanggapan professor.." Terhadap pertanyaan yang panjang lebar itu sang professor hanya meresponnya dengan manggut-manggut, matanya menatap tajam kedepan tapi hanya tatapan kosong, jari-jari tangannya disilangkan sambil menopang dagu. Dia tidak menjawab dan hanya memuji pertanyaan itu sebagai pertanyaan penuh kontemplasi yang mengandung filsafat yang begitu dalam. =============== Dari kisah itu, kita sebenarnya dapat dengan mudah mengambil pelajaran bahwa sesungguhnya dengan nikmat akal yang telah Allah berikan pada kita sejatinya kita dapat memilah dan memilih mana jalan yang baik dan yang buruk, yang benar dan yang salah, terpuji atau tercela untuk selanjutnya dengan pilihan itu kita berusaha untuk menjadi hamba Allah yang taat dan senantiasa terikat pada aturan-Nya, tidak harus menunggu saat musibah datang baru tobat. Mending kalau datangnya musibah itu tidak langsung mengantarkan kita pada kematian hingga kita dapat “menikmati” kesempatan kedua dari Allah dengan bertobat dan memperbanyak amal soleh, nah kalau nggak sempat tobat, bagaimana nasib kita di akhirat kelak? Tentu amat mengerikan jika kita membayangkan kematian dengan kondisi su’ul khotimah. Lebih jauh lagi bagi seorang pengemban dakwah, pelajaran yang paling berharga dari kisah tadi adalah terkait dengan perlakuan kita terhadap dakwah yang mulia ini. Sebagai refleksi bagi kita, mari sejenak kita renungkan, kita lakukan flashback, napak tilas kembali bagaimana dulu kita bisa bergabung dengan barisan perjuangan ini? Saya yakin bergabungnya kita dalam jamaah dakwah tidaklah tiba-tiba, pasti ada proses, ada kesadaran, bahkan bisa jadi bagi sebagian dari kita bergabungnya kita dalam barisan perjuangan dakwah membutuhkan banyak sekali pengorbanan baik waktu, tenaga, dan harta, juga ada banyak konsekuensi, ada pahit getir dalam menghadapi tantangannya, apakah itu datang dari keluarga, suami, istri, ayah, ibu, kerabat, atau yang lainnya. Perenungan ini penting kita lakukan, untuk mulai menghargai proses yang telah kita lewati, proses yang mungkin tidak mudah, dengannya diharapkan rasa syukur itu kian bertambah, rasa syukur bahwa pada akhirnya Allah Swt menghimpun kita dalam barisan perjuangan yang mulia ini, menjadi pengemban dakwah bagi tegaknya Syariah dan Khilafah. Selanjutnya mari kita tengok kondisi kita dimasa lalu ketika belum mengenal dakwah. Mungkin diantara kita banyak yang terjebak dalam lumpur maksiyat (membuka aurat, pacaran, riba, tidak pernah mengkaji Islam, tidak pernah berdakwah, ibadah asal-asalan, dll). Kalaupun kita merasa sudah cukup Islami sebelumnya (karena lahir dari keluarga yang cukup taat dalam beragama, atau ada perhatian pada agama), tapi kita baru menyadari apa yang dilakukan selama ini masih kurang, masih keliru, masih tidak sesuai syariah. Misalnya masih terlibat riba, muamalah leasing, anak dibiarkan pacaran asal islami, rajin baca qur’an dan sholat lima waktu saja sudah cukup, dll. Semuanya dilewati seolah-olah sebuah kebenaran, sampai pada akhirnya kemudian kita mendapat pemahaman Islam Ideologis dari salah seorang aktivis dakwah ideologis (entah didatangi langsung, mengikuti kajian, meminta untuk dikontak, atau ketidaksengajaan, dll). Akhirnya kita tercerahkan, terpuaskan, dan memutuskan bahwa bergabung dengan barisan dakwah adalah pilihan terbaik. Kita menjalani proses pembinaan yang cukup panjang dengan segala dinamikanya dan terus berinteraksi dengan dakwah. Saat itu kita berazam bahwa apapun resiko dan konsekuensi dari dakwah ini siap kita terima. Tapi mungkin saat itu ada rasa syukur yang belum sempat terucap atau belum disadari bahwa menjadi pengemban dakwah adalah sebuah kenikmatan tak terhingga yang sangat layak disyukuri (jika perlu sujud syukur). Kenapa? Karena dengan menjadi pengemban dakwah, artinya kita baru saja diangkat dari lembah kemaksiatan menuju jalan lurus, dikeluarkan dari kegelapan menuju cahaya terang benderang bernama dakwah. Kalau ilustrasi teman saya, kita diibaratkan selama ini sedang berkubang di dasar septic tank, kemudian dakwah mengangkat kita, membersihkan kita dari kotoran-kotoran yang melekat pada diri kita hingga bersih dan wangi. Lalu setelah kenikmatan itu kita peroleh, bagaimana kita mensyukurinya? Setelah kita menjadi pejuang Syariah dan Khilafah yang dengannya derajat kita bisa mulia apa yang kita lakukan? Tidak jarang dan bahkan banyak diantara kita yang setelah kenikmatan itu diperoleh malah mulai bermalas-malasan, jenuh, mulai mangkir dari dakwah, perlahan namun pasti mundur teratur dari dakwah. Apa sebenarnya yang ada dalam pikiran kita? Tahukan bahwa itu adalah keputusan bodoh. Tahukah bahwa sebenarnya kita terjebak pada kufur nikmat, tidak pandai bersyukur atas nikmat yang telah Allah anugerahkan pada kita berupa tertunjukinya kita pada jalan Islam, pada jalan dakwah yang mulia ini. Dalam sebuah Hadits dikatakan bahwa Aisyah r.a. sering melihat Rasulullah Saw berdiri sangat lama dalam setiap kali shalat malamnya, hingga kaki beliau bengkak-bengkak. Kemudian Aisyah r.a. bertanya kepada Rasulullah SAW: “Wahai Rasulullah, mengapa dirimu beribadah sampai demikian, hingga kakimu bengkak-bengkak? Padahal engkau telah Allah jamin masuk surga? Kemudian Rasul menjawab: Apakah tidak pantas aku menjadi hamba-Nya yang pandai bersyukur?”. Hadits ini memberi pelajaran pada kita bagaimana kita bersyukur terhadap nikmat yang telah Allah berikan, kita tahu bahwa Rasulullah Saw telah dijamin masuk surga oleh Allah Swt, tetapi Rasulullah Saw tahu betul bahwa Allah sama sekali tidak butuh harta beliau, tidak butuh apapun yang akan beliau berikan sebagai pengganti atas jaminan surga Allah tersebut, tetapi Rasulullah menyadari bahwa rasa syukur atas kenikmatan itu hanya bisa diberikan dengan ketaatan, dengan totalitas ibadah pada Allah Swt, dengan berjuang menolong agama-Nya dengan pengorbanan tenaga, waktu, harta, hingga nyawa sekalipun. Itulah makna sejati rasa syukur kita pada Allah Swt, demikian juga bagi para pengemban dakwah, INGAT dan CATAT ! Allah Swt sama sekali tidak butuh harta kita, tidak butuh materi apapun yang kita berikan untuk mengganti nikmat itu. Tetapi Allah Swt hanya butuh ketaatan kita, keistiqomahan kita, kesungguhan, dan totalitas dakwah kita, dengan berjuang serius menolong agama-Nya dengan pengorbanan tenaga, waktu, harta, hingga nyawa sekalipun. Maka kepada siapa saja para pengemban dakwah, antum adalah orang yang telah paham syariah, tahu bagaimana kondisi umat ini harus diubah dari jahiliyah ke arah Islam, paham bagaimana langkah perjuangan menegakkan syariah dan khilafah harus ditempuh. Jangan menunggu datangnya momen musibah untuk berubah agar serius berdakwah, jangan menunggu datangnya sakit parah dan kecelakaan fatal untuk jadi militan dalam dakwah, jangan menunggu datangnya ujian berat untuk jadi pengemban dakwah yang istiqomah. Segera lakukan sekarang juga! Serius berdakwah, tumbuhkan pengorbanan dan militansi,dan istiqomahlah. Wallahu'alam. Wa ma tawfiqi illa bilLah.. 🗨 Ust. Agus Suryana
بسم الله الرحمن الرحيم . Ibu laksana tiang peradaban setiap bangsa karena melalui rahimnya lahir generasi unggul yang akan berkontribusi pada pembangunan negara. Teruntuk calon ibu profesional, kuy rapatkan barisan! 🙆 (at Masjid Baitussalam, Dinar Mas)
[1st Great Muslimah Training 2017] Assalamu'alaikum Warohmatullahi Wabarokatuh Hai Shalihah semuanya !! Yang ditunggu - tunggu kini telah hadir.. 1st Great Muslimah Training Dengan tema, "Muslimah Berakhlak" Menghadirkan pembicara keren: Bunda Darosy - Dosen Psikologi, Undip - Penulis Buku 1. Baity Jannati 1 (Cahaya Cinta Ibunda) 2. Baity Jannati 2 (Permata Hati Ibunda) Yang akan berkolaborasi dengan putranya : Ilham, Mahasiswa Teknik Sipil Undip 2014 Penulis buku " Yuk Cari Berkah " Ani Shofwatillah - Runner Up Mawapres Psikologi 2016 - Sekjen BK MWA Undip UM 2016 Dilaksanakan Pada : Sabtu, 13 Mei 2017 07.00 - Selesai Ruang Teater Fisip Undip Peserta umum, khusus wanita. HTM: 15K Apa yang kamu dapat : ●Ilmu yang bermanfaat ●Sertifikat ●Seminar kit ●Snack ●Hiburan ●Free Personality Test 📝Format pendaftaran Nama_Universitas/Fakultas_No. Hp/idLINE Kirim ke contact person: Iin / 081225748810 Line : iin44 Pembayaran dapat langsung menghubungi contact person Penasaran kan.. gimana perspektif akhlak mulia dari sisi Akhwat dan Ikhwan, Yuk, daftar dan ajak teman-temanmu😉 Forum Keluarga Mahasiswa Muslim Fisip Undip 2017 Inovasi Tanpa Henti Official LINE : @fyw7881q Official IG : @fkmmfisipundip Email : [email protected] (at Gedung Teater Fisip)
[[ H.A.K. Istimewa ]] Pernahkah 'merasa' berbeda di antara yang lainnya? Pernahkah 'menjadi' berbeda di antara semuanya? Pernahkah merasa inferior dengan kondisi serupa? Pernahkah dianggap abnormal atau sejenisnya? Pernahkah dipandang sebelah mata atau bahkan dianggap tak ada? Pernahkah berpikir berbeda itu istimewa? Karena itu artinya Tuhan menilai diri kita lebih kuat dr mereka yang biasa. Tuhan hendak melihat seberapa tangguh seorang hamba melewati proses hidupnya di dunia. Tuhan hendak memberi kekuatan lewat doa doa yang tak pernah putus oleh asa. Tuhan menyayangi kalian sama dengan hambaNya yang juga bertakwa. Karena sungguh Tuhan tidak akan memberi ujian melebihi batas kemampuan hamba-Nya. Maka, teruslah berjuang! 👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇 https://ktbs.in/akr1p "Bantu share ya kawan, kami penderita CAH/HAK juga ingin hidup normal seperti yang lainnya. Silahkan bagikan, siapa tau ada teman, kerabat atau keluarga yg ingin membantu. Thanks 😁😉", said Tata and her sister-Rinda. Mereka berdua hanyalah salah satu dr sekian banyak rekan yang juga mengalami hal serupa. Memang prevalensinya sangat sedikit, itulah mengapa mereka termasuk orang-orang istimewa bagi saya. :) So, mari pahami lebih dalam agar kita lebih aware dan bisa turut merasakan. Barangkali di sekitar kita pun ternyata ada namun tiada karena kita yang tak peka 👉 http://bit.ly/WhatisCAHAK #YukDonasi #HAKIstimewa #SupportCAH #FastabiqulKhairaat (at Bogor, Indonesia)
Yakinlah. Pertemuan itu tak akan salah tempat, tidak akan salah waktu. Apalagi salah orang. Trust Him.
SHF
Sometimes you get results, sometimes you don't. You just have to walk away knowing you tried your best, and let Allah handle the rest. Trust Him!
SHF
بسم الله الرحمن الرحيم . . . Lidah memang tak bertulang, kawan. Sehingga mudah sekali orang mengucap hal ini dan itu sesuai pikiran dan suasana hati tanpa peduli kondisi kanan kiri. . Ya, lidah memang tak bertulang, sehingga apapun yang keluar dari lisan ringan saja terucap tanpa berpikir bagaimana diri ini bersikap. . Lidah memang tak bertulang, hingga terkadang perilaku kita aniaya sedang kita pun tau kematian pasti tiba. . Itulah sebabnya kita diperintahkan untuk senantiasa menjaga lisan agar jangan sampai menyisakan sesal pada akhirnya. Karena betapa banyak orang yang menyesal karena bicaranya dan sedikit yang menyesal karena diamnya. Orang yang paling celaka dan paling besar mendapat bagian musibah adalah orang yang lisannya senantiasa berbicara, sedangkan pikirannya tidak mau berjalan. . Maka jadilah orang yang berakal, orang yang lebih banyak mempergunakan kedua telinganya daripada mulutnya. Mereka menyadari bahwa Allah telah karuniakan dua telinga, dan hanya ada satu mulut, supaya manusia lebih banyak mendengar daripada berbicara. Hingga seorang ulama berkata: "Seandainya kalian yang membelikan kertas untuk para malaikat yang mencatat amal kalian, niscaya kalian akan lebih banyak diam daripada berbicara." . . Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ فَليَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُت . “Barang siapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir maka hendaklah ia berkata baik atau hendaklah ia diam.” (Muttafaq ‘alaih: Bukhari-Muslim) Karena ingatlah... . مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيد . ٌ "Tiada suatu kalimat pun yang diucapkan melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir." (QS. Qaf :18) #MenjagaLisan #MenjagaHati #BerkataBaiklah #AfirmasiPositif #FastabiqulKhairaat #selfreminder
[[ Allah, the Eternal, Absolute ]] Ada yang diuji dengan banyak pilihan Ada yang diuji dengan tak ada yang memilih Ada yang diuji dengan banyak yang mendekati Ada yang diuji dengan tak ada yang menyukai Ada yang diuji dengan kelapangan Ada yang diuji dengan kesempitan Ada yang diuji dengan paras rupawan Ada yang diuji dengan rupa biasa Ada yang diuji dengan ketenaran Ada yang diuji dengan kesepian Ada yang diuji dengan harta Ada yang diuji dengan tahta Apapun ujiannya, serahkan pada Allah Tempat menggantungkan harapan Tempat semua jawaban Yakinlah, selalu ada harapan di setiap ujian. (at Kebun Buah Mangunan)