13. Bertetangga
Manusia sebagai mahluk sosial tentu secara fitrah untuk bersama, berkomunikasi, dan menjalin hubungan dengan yang lain. Dalam konteks yang lebih khusus sebagai seorang muslim, ada hak dan kewajiban kepada sesama muslim atau manusia seluruhnya.
Beberapa tahun belakangan ini, bagiku bertetangga menjadi unik. Sekali waktu pernah sekamar dengan tipe orang yang dingin dan suka 'dingin'. Tak ada cakap panjang, basa-basi, atau sejenisnya. Jika berjumpa sekedar sapa dan salam lalu berlalu saja. Aku memang bukan tipe yang cukup berani memulai cakap. Menariknya lagi ia dan kawan se-negaranya sangat suka hawa dingin. Tak ada kata henti bagi ac dan kipas di kamar kami.
Hari berganti berhitung pekan dan bulan, ia dan kawannya satu persatu lulus setelah tamat kuliahnya. Pergi satu datang seribu... kawan baru tiba, dengan sifat dan watak yang jauh berbeda. Semua mereka baik. Yang satu datang dengan segala humor dan cerita masa lalu yang selalu mengundang gelak tawa dan canda. Yang satu cukup dewasa, baru menikah dan sedang hangat bulan madu penuh cinta. Bercakap, bercanda dengan ia nun jauh disana, bukan dengan kami. Lalu tersebab satu negara kami jadi saling bersua. Duduk bersama saling bertukar cerita lebih lagi latar kehidupan kami yang tak sama.
Semua ada masanya. Tak ada yang abadi di dunia. Tetiba aturan baru mengharuskan aku dan semua kawan di gedung itu hijrah mencari kamar baru, alasan renovasi katanya. Tak lama berselang, tetangga baru kutemui, sambil berharap ada keselarasan hati di kamar baru nanti. Senyum hangat menyambut dari balik pintu. Lalu pergantian hari memberi isyarat padaku akan sikap dan laku.
Bagiku di tempat baru,
Diam adalah mutiara dikala ucap dan kata hanya menambah risau jiwa. Bersikap adalah pilihan, salah satu nasehat Aa Gym bertitah. Baik dan tidaknya perilaku tetangga adalah urusan mereka, sedang sikap kita adalah pilihan.
Pada akhirnya hidup memang ujian. Kala bertetangga pun jiwa kita diuji. Maka ingatkan aku tentang sabda Nabi termasuk pribadi yang terbaik adalah yang baik pada tetangganya. Ingatkan aku pada pesan ilahi untuk tidak mengghibah saudara sendiri.
Rumah adalah tempat terhangat melepas lelah. Rumah yang baik menjaga penghuninya dari letih harinya, juga aib dan alpa hingga tak ada yang tahu sebab Tuhan pun hendak menutupnya. Jika kata nussa, "tidur bukan sekedar rutinitas melepas lelah tapi juga bagian dari ibadah", apalagi hidup bersama dan bertetangga?.
26.3.40














