Sekelumit tentang Kerukunan Bertetangga
Tetangga adalah saudara kita yang paling dekat. Mau minta cabe sampai terasi, tetangga yang kita datangi. Mau pinjam pompa sampai palu, tetangga siap membantu. Saat berbahagia, kepada tetangga kita bercerita. Saat bersedih, tetangga menghibur tanpa pamrih. Kita adalah tetangga bagi tetangga kita. Bisakah kita menjadi tetangga yang baik, sebagaimana tetangga baik kepada kita.
Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam bersabda “Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia memuliakan tetangganya”
Memuliakan tetangga itu mudah. Saat tetangga sakit, kita menengok. Saat tetangga susah, kita membantu. Tak perlu syarat tambahan saat akan membantu: tetanggaku apa agamamu, engkau Muhammadiyah atau NU. Memuliakan juga bukan berdasar golongan. Jika memuliakan tetangga hanya dengan yang sama gologannya saja, bagaimana jika tetangga kita berbeda agama.
Hidup bertetangga membuat saya belajar arti toleransi. Toleransi dalam aplikasinya dapat kita temui dalam suasana Lebaran, misalnya. Seusai solat Idul Fitri, kita bergegas menemui tetangga untuk saling bermaaf-maafan, bersalaman kepada semua tetangga, apapun agamanya. Bersalaman bukan berarti ikut merayakan. Momen bersalam-salaman lebih terasa erat saat Lebaran. Sama halnya dengan membuat ketupat dan opor ayam. Memasak ketupat dan opor bagi tetangga kita yang berlainan, juga bukan berarti mereka ikut merayakan. Momen makan ketupat dan opor juga lebih terasa nikmat jika disantap saat Lebaran.
Bagi saya, toleransi bukan hanya sekadar memberi ucapan “selamat” kepada tetangga saat hari besar agamanya. Tolong menolong antar tetangga merupakan wujud nyata toleransi. Pak Hari misalnya, tetangga saya yang murah senyum dan ramah kepada anak-anak di kampung. Sikapnya tegas untuk tidak memberi “selamat” kepada tetangga yang berlainan agama. Suatu hari sebelum berangkat ke Gereja, mobil Pak Johanes mogok sebelum keluar dari gapura kampung. Saat itulah, Pak Hari bergegas memberikan kunci mobilnya kepada keluarga pak Johanes agar tetap bisa menuju ke Gereja. Toleransi seperti inilah yang kita butuhkan dalam bertetangga. Rasa saling menyayangi dan saling memudahkan dalam segala urusan. Itu semua lebih dari sekadar ucapan “selamat”.
“Barangsiapa membebaskan satu kesusahan seorang mukmin dari kesusahan-kesusahan dunia, maka Allah akan melepaskannya dari satu kesusahan di antara kesusahan-kesusahan akhirat. Barangsiapa memberikan kemudahan kepada orang kesulitan, maka Allah akan memudahkannya di dunia dan di akhirat. Barang siapa menutup aib seorang muslim, maka Allah akan menutup aibnya di dunia dan di akhirat. Dan Allah akan selalu menolong seorang hamba selama hamba itu menolong saudaranya” (HR. Muslim)
Hidup bertetangga membuat saya belajar arti gotong royong dan tolong menolong. Di kampung saya, menghias gapura untuk dilombakan dalam acara Agustusan selalu dikerjakan bersama-sama. Oleh siapa saja, apapun agamanya. Bapak-bapak sibuk dengan gapura yang akan dihias. Ibu-ibu menyiapkan es sirup dan gorengan untuk disajikan bersama.
Kampung adalah miniatur bangsa Indonesia dalam skala paling kecil. Di dalam kampung terdapat Nusantara yang Bhineka. Gotong royong sebagai wujud bangsa yang Tunggal Ika. Membangun kampung merupakan kerja yang nyata secara sederhana serta besar manfaatnya. Indonesia tak akan menjadi besar tanpa adanya peran dari warganya yang bergerak secara pertisipatif membangun kampungnya--membangun miniatur Indonesianya. Gotong royong adalah kearifan lokal bangsa Indonesia yang sejalan dengan ajaran Islam.
“...dan tolong menolonglah kamu dalam mengerjakan kebajikan dan takwa, dan janganlah tolong menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran, dan bertakwalah kamu kepada Allah. Sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya (QS. Al Maidah: 2)
Meskipun perbedaan pendapat sering saya temui di pos ronda, di halaman mushola, hingga saat temu karang taruna, tapi itu semua merupakan hal yang wajar. Solusinya adalah musyawarah. Islam mengajarkan bermusyawarah dalam berbagai urusan.
Bermusyawarah dalam urusan yang dimaksud yaitu urusan dunia seperti perdanganan, sosial dan kemasyarakan. Termasuk perbedaan pendapat. Kita akan memahami satu sama lain jika kita selalu bertemu. Maka, pertemuan rutin antar tetangga tak lain adalah mencoba mempertemukan berbagai persoalan dan merumuskannya dengan bermusyawarah.
“...dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu, kemudian apabila kamu telah mebulatkan tekad, maka bertawakal kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakal kepadaNya” (QS Ali Imran: 159).
Keberagaman dalam keberagamaan dapat kita temui dalam bertetangga. Toleransi merupakan jalan tengahnya, gotong royong wujud kerjanya, dan musyawarah mempertebal ukhuwah.
Saya selalu berdoa agar dijauhkan dari tetangga yang buruk, dengan cara menjadi tetangga yang baik.