Dua Buah Cangkir di Atas Meja
Kala itu,
suara rintik hujan menemani sore.
Begitu pula dengan dua buah cangkir ini.
Sama seperti kamu,
hangat ragamu menemani jiwa,
yang sedang penuh luka ini.
Suatu pertanyaan terlontar dariku,
“Gimana caranya? Gimana caraku untuk memaafkan diri?”
Sebuah dekapan menjadi penenang,
sentuhan hangat menjadi penguat,
dan sepatah kata menjadi penjawab.
“Kamu gak sendiri, ada aku, ada keluargamu, ada temanmu serta Tuhanmu yang akan menjagamu.”
Hanya saja,
itu semua hanya,
kala itu,
bukan kala ini.
karena kala ini,
suara rintik hujan menemani malam.
begitu pula dengan sebuah cangkir ini.
tanpa ada kamu,
dinginnya malam menghantam jiwa,
yang telah hancur diterpa badai.
Kembali terlontar suatu pertanyaan dariku,
“Gimana? Gimana caranya agar aku selalu kuat?”
Sebuah isakan menjadi pemuas,
keheningan telah menjadi teman,
dan jawab dari doa menjadi harapan.