“Dek, gimana pertemuan beasiswanya kemarin?” Tanya Mama sembari menyeruput teh hangat buatannya. Ya, kami terbiasa duduk di meja makan untuk sekadar cerita hal-hal sederhana.
“Nggak gimana-gimana, Ma. Ada kemungkinan, baru bisa berangkat tahun 2019. Soalnya, adek kan harus pindah jurusan.”
“Ya kemungkinan mau mengajukan berangkat tetep 2018, toh adek cuma ganti jurusan, kampusnya tetep di Groningen kok, ini lagi mengusahakan, soalnya temen yang sama-sama perwakilan ada yang berhasil mengajukan berangkat 2018 juga. Aldo, namanya. Dia waktu submit berkas belum upload Letter of Acceptance (LoA)dari kampusnya, tapi pas wawancara dia udah keterima di Inggris. Bisa-bisa aja kok, apalagi adek udah submit LoA sebelumnya”
“Tanya temanmu itu, mudah-mudahan bisa dikasi rejeki yang sama.”
“Iya ini lagi mau nanya, Ma. Btw sebenernya adek agak males sama Aldo, masak loh Ma, waktu hari pertama kenal, dia ngelarang adek manggil mas, padahal semua tak panggil mas atau mbak loh.”
“Ya wajar, Ibu dulu waktu waktu kuliah di Bogor juga gitu, ada temen Ibu bilang jangan dipanggil Bang, kayaknya terkesan spesial gitu kalo manggil Bang atau Mas. Kalo dia pake bahasa lu gue juga gapapa karena emang bahasa sehari-harinya dia kayak gitu. Tapi kalo adek ya pake bahasa adek sendiri aja.”
“Ih enggak, dia biasa aja, manggil aku-kamu kok, Ma. Baik kok orangnya, cuma nggak banget pas kenalan di awal itu aja. Tapi dia sama perwakilan yang lain lu gue, kalo sama adek enggak, mungkin karena tau adek orang jawa ya.”
“Ya mungkin. Eh apa jangan-jangan naksir loh dek”
“WOHH YO ENGGAKLAAAH, MAAAA... orang baru kenal dan ketemu 4 hari mosok naksir itu gimanaaaa”
“Hahahaha, iya, pokoknya adek fokus sekolah loh ya” pungkas Mama
Kami kembali menyeruput teh hangat dan membicarakan hal lainnya yang menurut kami lebih asyik.
Masih di hari yang sama, 7 Desember 2017, maksud hati ingin menanyakan soal permohonan pengajuan keberangkatan studi di tahun 2018, Aldo malah menghubungiku terlebih dahulu melalui pesan instant whatsapp.
“Lin, sibuk nggak? Aku mau mastiin kalo keuangan cukup buat booking kos deket wisma hijau, buat temen-temen yang dari luar kota. Termasuk kamu.”
“Cukup, kalo semuanya pada bayar iuran sukarelanya, Aldo. Tapi kalo pun ada yang nggak bayar karena keberatan kayaknya masih aman, bisa diakali, merchandise nya cari yang lebih murah aja.”
“Eh iya, Lin maksudnya, aku soalnya sambil kontekan sama Anit juga, karena sebenernya yang nanya ini bukan aku tapi Anit, terus ketuker-tuker manggilnya.” Ya, mba Anit adalah salah satu perwakilan PK-123, khususnya penanggung jawab proyek sosial, sekaligus narahubung angkatan, selain aku.
“Lha mba Anit kenapa ngga kontak langsung aja? Kan aku yang in charge? Tapi okelah kan yang ngurusi kosan peserta bukan aku. Tapi jauh sih Lin sama Nit.”
“Lah yang beda cuma sehuruf, ada panggilan singkat lainnya nggak? Biar nggak ketuker?”
“Val aja kalo nggak mau ribet”
“Oke deh Val, hehe, kalo gini insyaAllah nggak ketuker.”
Tanpa tedeng aling-aling, aku langsung menanyakan prosedur pengajuan keberangkatan studi. Aku sempat cerita deng, kalau sebelumnya aku sudah menanyakan ke teman-teman terdekatku dengan beasiswa yang sama, tapi tidak ada respon signifikan. Alhamdulillah, Aldo langsung mem-forward korespondensi e-mail yang ia kirim, beserta balasan persetujuannya. Kuucap terima kasih sambil cepat-cepat membuat surat ke pemberi beasiswa dengan format yang sama seperti Aldo buat.
“Iya sama-sama, see you on January ya Val.”
Semakin mendewasa, lingkaran inner-circle semakin mengecil, tapi tidak dengan pertemanan, ia justru semakin meluas. Keputusanku untuk menjadi bagian dari perwakilan PK-123 LPDP bukan hal yang merugikan (seperti kata sebagian orang), justru melalui menjadi perwakilan inilah, saya jadi dipertemukan dengan orang-orang baik yang ngga ribet ketika dimintai tolong. Salah satunya Aldo, wakil ketua angkatanku. Aku yang dulu sempat memanjatkan doa pada Allah agar “kalau bisa” tidak terlalu banyak urusan sama Aldo, manusia inilah yang jadi perantara Allah, mengirimkan berkas permohonan studi lanjutnya agar tetap di tahun 2018. Alhamdulillah. Barangkali momen ini membuatku sedikit sadar, tidak semua doa dikabulkan oleh Allah dalam bentuk yang sama. Kadangkala, Allah kabulkan dengan jalan yang di luar ekspektasi kita, tapi ternyata ada hikmah di balik keputusan-Nya. Seseorang yang kuhindari, ternyata jadi teman yang cukup membantu dalam urusan administrasi perpindahan jurusan (yang semoga disetujui oleh LPDP)
Menjadi pengurus inti PK-123 tidak seenteng saat mengambil keputusan. Ternyata, cukup banyak yang harus diurus: nama, maskot, dan lagu angkatan diantaranya. Aku tidak ahli dalam membuat nama-nama unik, apalagi mendesai untuk maskot, jelas saja kupilih jadi tim lagu angkatan. Ada beberapa teman lainnya yang juga diminta untuk menyusun lagu angkatan, dan lagu buatan teman-teman saya bagus-bagus loh, ngerekamnya serius, pake aplikasi. Apalah saya yang cuma mengandalkan recorder HP. Tidak disangka, lagu buatan saya terpilih jadi lagu angkatan berdasarkan hasil voting. Antara senang, sekaligus mikir PR berikutnya: menyusun anggota band. Ini dipikir belakangan saja maunya, tapi.... sebuah pesan Whatsapp kembali muncul.
“Wih mantap lagunya kepilih, selamat ya Val”
“Iseng aja, Aldo, hehehe makasih yaa, biar ada sumbangsihlah sebagai pengurus, hahaha”
“Lhah ini luar biasa loh, ngurus keuangan angkatan, lagu angkatan, data diri 123 peserta, aku mah nggak sanggup.”
“Aku kalo disuruh bikin robot juga nggak bisalah Do, hehe. Saling bantu dan melengkapi aja, angkatan kan juga tim”
“Hehe, iya, saling melengkapi, btw kalo butuh gitaris di band PK, aku mau deh nyobain, tapi udah lama nggak main gitar.”
“Oh gapapa Aldo, tapi tetep latihannya seminggu sebelum PK, karena nggak mungkin banget waktunya. Apalagi aku di Jawa Timur, anda semua di Jawa Barat hahahaha”
“Yah nanti siapa tahu januari bisalah kita ketemu buat latihan bentar.”
“Sip, liat nanti ya, makasih udah menawarkan diri jadi gitaris ya, Do, hehe”
Dia hanya membalas dengan emoticon jempol. Percakapan terhenti sore itu. Aku selalu menafsirkan bahwa balasan hanya emoticon senada seirama dengan end-chat tapi halus hahaha. Ya gapapa, yang penting satu gitaris sudah ketemu, meski masih harus mencari personil lainnya.
Saya mendapatkan undangan pernikahan adik dari teman saya (semoga nggak bingung, hehe). Acaranya di Jogjakarta. Adoh men yo? Tapi, sekalian jalan-jalan kayaknya seru deh ke Jogja. Perjalanan yang berbeda buat saya, karena saya berangkat dari Surabaya bersama salah satu sahabat saya, Raih, dan Ibunya Raih. Ya, kami bertiga sahaja. Mama saya? Beliau berhalangan ikut karena sejak 2015 jadi pengurus posyandu, dan tentu dedikasinya luar biasa untuk organisasi ini. Yang menarik dari perjalanan kali ini adalah, saya lebih seperti Event Organizer, semua dalam kendali saya, mulai tiket perjalanan, tempat penginapan, destinasi kulineran, dan segala urusan lainnya. Tak lupa untuk menyempatkan silaturahim ke rumah bude-bude saya di Jogjakarta.
“Lhoh, dek Ina kapan to berangkat sekolahnya?”
“InsyaAllah Agustus 2018, Budhe...”
“Oh yo wis alhamdulillah, sekolah dhisik yo, dhek, eh apa punya pacar?”
“Nggaak punya, Budhe, hahahaha iya sekolah dulu pastinya, insyaAllah...”
“Lhoh, Budhe kira yang pernah nyanyi bareng sama dek Ina itu...”
“Bukan Budheee, itu temen dek Ina juga...”
“Lhoh yen jodoh kan sopo ngerti yo mbak?” menanyakan persetujuan Raih yang kebetulan disamping beliau.
“Enggak, Budhe... beneran, hehehe”
Ya, semenjak kakak saya menikah di tahun 2016, disusul sepupu saya (yang usianya lebih muda dari saya, tapi anak budhe saya) menikah di bulan September 2017, keluarga besar selalu melontarkan “kapan nyusul?” tapi tentu nggak seheboh itu juga, karena alhamdulillah sebenarnya itu hanya godaan belaka, alias keluarga besar cenderung mendukung studi lanjutku, daripada buru-buru menikah padahal calonnya memang belum ada.
Perjalanan ke Yogyakarta kala itu adalah perjalanan di akhir pekan panjang menjelang natal. Baru malam pertama perjalananku, tetiba sebuah pesan WA melayang lagi.
“Hi, Val, long weekend kemana aja nih?”
Ya, sebuah pesan singkat dari Aldo. Terbaca dari notifikasi, tapi sengaja tidak kubaca. Kubiarkan saja pesan itu tidak bercentang biru, meski sudah kubaca.
Biarkan aku hening dan menikmati perjalanan, tanpa perlu memberitahu siapapun, apalagi orang yang tidak signifikan dalam hidupku. Kumatikan ponselku, dan meletakkannya di atas meja, dengan kondisi charging, supaya besok waktu kondangan dan jalan-jalan bisa lebih awet. Hehe. Sebentar ya, aku mau menepi dulu. Mungkin nanti saat perjalanan pulang baru akan kubalas, tapi bisa juga tidak kubalas, kalau kelupaan. Saatnya jalan-jalan duluuuu, pikirku saat itu.
Gunung Anyar Tambak, 29 Agustus 2020
Masih dalam rangka merapikan ingatan, supaya tidak berantakan diterkam kondisi hidup yang (masih) tidak terlalu ramah.