Perantauan
Aku pergi, bukan karena tak cinta, tapi karena cinta ini butuh ruang untuk tumbuh. Tanah kelahiran terlalu sempit untuk mimpi-mimpiku, terlalu bising oleh harap orang lain yang belum tentu untukku.
Di kota asing, aku hanyalah nama tanpa riwayat, wajah baru di antara lalu lalang yang tak peduli. Namun justru di sanalah aku belajar menjadi manusia—yang rapuh, yang tangguh, yang tak menyerah walau patah.
Rindu menjadi teman yang setia menghantui malam, mengendap di balik doa dan angin senyap. Kadang ia menitik lewat mata, kadang hanya diam—menyesakkan dada.
Tapi dari perih itu, aku temukan cahaya: bahwa pulang bukan soal arah, melainkan siapa yang menanti di ujung cerita.
Dan bila suatu hari aku kembali, bukan lagi sebagai anak manja yang berlindung di balik nama ayah-ibu, melainkan jiwa yang telah ditempa waktu, membawa pulang luka, tawa, dan kisah penuh makna.










