Hey! Aku lagi di Dinkes nih. Bukan pertama kali emang ke sini, but rasanya pasti seneng klo ke sini. Gimana gg seneng, sambutan beliau-beliau yang notabene bekerja di sini udh ngebuat aku jatuh hati, tak ada rasa enggan untuk menyapa, bercengkrama, dan berbagi, bahkan ketika kita (baru aja) kenal. For your information, aku disini bukan lagi magang loh ya, seriously! Tapi gegara baru ada kesempatan kerjasama gitu sama pihak Dinkes dari Organisasi di Kampus, so here I am. Btw, aku selalu sendiri klo ke sini, gg ada temennya. Pertama kali ke tempat ini rasanya kayak anak ilang hahaha, tapi tertiba ada seorang ibu yang melihat keberadaan saya baru parkir motor, tertiba ibu nya malah menutup muka dengan map yang ia bawa tapi tertiba berkata “wahh ini anak manis dari poltekkes ada disini mau ngapain ini?”. Habis itu…hening sejenak…aku speechless, jujur, aku gg nyangka ada yang kenal sama almamater kampus. Buru-buru aku jabat tangan ibunya, cium punggung tangan, and then jawab pertanyaan ibunya sambil diawali tertawa pendek “Hehhe…injih buk. Ini saya hendak *(panjangxlebarxtinggi dan bervolume volume klo aku ketik jawabannya)* ” Habis itu dengan sangat ramah dan hangat nya ibu tadi, beliau langsung mengantarku ke ruangan Dinkes bagian Gizi untuk menemui seseorang. Oh iya, btw nama ibunya ibu suharti. Sepanjang jalan, dirangkul saya serius, kayak anaknya sendiri, trus ya bincang-bincang pendek gitu. Sampai akhirnya sampai di ruangan yang aku tuju dan harus bertemu dengan orang yang lain lagi, tapi walaupun berbeda orang, sikap mereka yang sangat ramah dan hangat patutlah di acungi jempol. Mantab Qolbu lah pokoknya.
Btw, kenapa aku tadi sempet bilang speechless ketika ada orang yang tau almamater kampusku, jujur aja, setiap kali bahkan setiap orang atau temen yg tanya aku kuliah dimana, mereka pada gg tau itu Poltekkes itu dimana dan seperti apa kampusnya. Sedih emang, rasanya waktu aku masuk dikampus yang otw jadi kampus biru di Jogja setelah UB ini, raga sudah rela tapi jiwa masih blm bisa. Karena aku anggap, kampus ini blm menonjol namanya blm tersohor. But, ketika aku kayak gitu, kok ya ada-ada aja pencerahan perantara dari Sang Maha Kehendak. Bulek kesayangan yang dari Malang pulang ke Jogja dan ngasih wejangan. Salah satu wejangannya “Iku lho mbak, banyak sekarang itu anak-anak yang kuliah milih kampus gegara biar dinilai keren atas nama kampusnya, padahal juga kuliah itu bukan nama kampusnya yang ngebuat bsk lulus njut sarjana njut kerja, tapi karna belajarnya iku yang bakal dipake, ilmunya iku yang bakal diterapno. Percuma kuliah di kampus bergengsi tapi gg bisa berprestasi. Justru jauh lebih baik kuliah di kampus yang notabene akreditasinya bagus walaupun gg bergengsi tapi kamu bisa jadi yang terbaik di sana.” And I got the point from it!
Di Dinkes ini pula aku dpt pertanyaan “Ambil D3 atau D4 kuliahnya?” Udh bukan satu dua bahkan sepuluh kali aku ditanyain kyk gitu ama orang-orang sejak aku masuk kuliah. Intinya jawabannya adalah “D3” jawaban aku sembari quickly jump ahead to their point and processing my adequate level of response. Dan beliau tanya udh mau lulus blm, kalau udh bsk kerja aja di sini. Wah, rasanya kayak pengen" cpt wisuda aja gg usah pake KTI-KTI-an. Mumpung ada yg ngajakin kerja nihh, tapi sayang, dengan berat hati aku bilang kalau aku baru semester 3. Btw, sampai mana ya tadi? Oh iya, sejujurnya dengan pertanyaan D3 atau D4 tadi I was like, “This question again. The same explanation again. And I am bored.” Jadi aku lebih sering milih respon singkat, nggak panjang-panjang. Buat apa juga panjang-panjang. Dan kalau ada nih yang biasanya tanya kok gg D4? Kok gg S1 aja? Then I said, “Biar punya double goals.”
…
Rata-rata temen SMA aku emang pada kuliah ambil S1 kebanyakan, ada sih yang ambil D1 atau D3 atau bahkan ada yang udh ambil S2 diumur yang segini nih, otw kepala 2. Trus gegara itu makanya tiap orang yang tau klo aku ambil D3 pada kayak menyayangkan gitu. Not once, but to the point that it annoyed me so much. Padahal klo dipikir what’s wrong? Gg ada yang salah ketika pilihan kuliah emang jatuh sebagai anak mahasiswa D3.
This whole thing got me thinking, apakah poin dari hidup adalah untuk buru-buru ngelakuin sesuatu? Ngapain juga kita bubu-buru ngelakuin sesuatu? Cepet-cepet archieve sesuatu? Dan kenapa kita harus ngikutin pattern yang udh ada, yg ikut-ikutan gitu? I’m 19 now. Apakah aku seharusnya ambil S1 aja gitu, trus biar sama kyk tmn" yang lain? Trus apa aku salah klo aku gg ngelakuin hal yg sama?
I was that kind of person, who planned everythings from A-Z. After learning that what you want isn’t necessarily what you’ll get in a hard way, I now know that life isn’t a race with everybody else. Life is a place to learn and eventually you will gain something, archive something. But the whole point of living is to learn. Ketika ada yang tanya ke aku, tepatnya kemarin waktu acara MTQ-MN di UB dan kebetulan tmnku jadi delegasi kampus utk ikut lomba, dan dia kirim foto dan video gimana kemegahan kampus biru ituh apalagi masjidnya yg ikonik bgt, dia lalu nyeletuk “Kalau seandainya kamu ada kesempatan buat muter waktu balik, kamu bakal dateng pakai form SBM mu test S1 di sini? Trus kuliah di sini?” My answer was no and no and still a no will be always be a no! Karena aku tau betapa udh banyak hal pelajaran yg aku dapet di kampus ku Poltekkes Kemenkes Yogyakarta. Blm pasti ketika aku di UB, aku bisa dapet semua pengalaman yg udh aku dapetin ini. Let’s say me studying at Poltekkes Kemenkes Yogyakarta has changed the way I look at things and the way I think of things.
Gg pengen kah punya title Sarjana? Of course aku mau. Tapi–realistically speaking–aku blm bisa. Kadang manusia sering lupa: everybody has their own problems, conditions what not. Dan aku 100% sadar betul apa kendala yg aku punya sehingga menahan aku buat moving forward ke life goals lainnya, seberapa berat kendala itu, dan bagaimana cara aku menyelesaikannya. Karena aku emang gg tau takdir aku kyk gimana. Dan aku juga gg tau kapan Allah bilang aku siap. Atau bahkan justru kerinduan-Nya padaku mentakdirkan aku utk menutup list-list daftar planningku yg blm terwujud.