Pasrah
Titik pertemuan itu akhirnya muncul; kesadaran diri dan menyadari kuasaNya.
Namun seringkali, untuk mencapai titik itu, kita dibawa terlebih dahulu dengan kapal takdir kita masing-masing. Pun ombak yang dihadapinya juga berbeda-beda. Dan kejadian, pertemuan, interaksi, di atas kapal itu juga berbeda; tapi bermuara ke satu titik, pasrah
"Kayaknya gue udah pasrah klo buat masalah ini"
"Eh gimana ini, masa deadlock kaya gini, gua khawatir banget"
Entah kenapa teguran soal ini, seringkali hadir dari orang yang tak disangka, juga di waktu yang tak disangka pula, tapi ya begitulah, akhirnya kesimpulannya sama, kita harus pasrah
Titik pasrah, pertemuan dari kesadaran diri dan menyadari kuasaNya
Maka, sadarlah, reka ulang dalam ingatan kita, mulai dari kita lahir sampai hari ini. Apakah memang jalan yang kita tempuh itu mendekatkan kepadaNya atau justru seperti kata orang-orang "sejauh ini, ini yang paling jauh"; pulanglah
Maka, sadarlah, omongan kita soal, kita bisa mandiri, kita tidak butuh tuhan, nakal dulu lah mumpung masih muda, gak perlu perhatian soal kesehatan; sejatinya itu bukan datang dari nurani kita, itu muncul saat kita memang tidak sadar saja; tarik nafaslah kemudian hembuskan
Pejamkan mata!
Kemudian sadari kuasaNya. Udara yang kita hirup begitu segarnya, hujan yang turun begitu dinginnya, tumbuhan yang beraneka ragam; pohon yang menjulang dengan akar yang menghujam hingga yang mudah dicabut serta dzikir para binatang yang tak kita pahami maknanya; bukankah semua diberikan kepada kita dengan cuma-cuma
Nikmati saja perjalanan kita di kapal takdir masing-masing; mungkin suatu saat kita akan bertemu di lautan yang sama, menyapa satu sama lain, saling menguatkan, untuk pada akhirnya menuju titik yang sama; pasrah
Bukankah begitu yang diajarkan kekasih Allah, Nabi Ibrahim saat diperintahkan untuk menyembelih anaknya
Bukankah begitu yang diajarkan khaatimul nabiyyin, Nabi Muhammad, saat berdoa "Allahumma in tuhlika hadzal qaumu laa tu'bad"
Mari berpasrah diri :)












