Ngobrol Soal Parasite
Karena film Parasite (2019) arahan Bong Joon-ho baru saja memenangkan kategori paling bergengsi pada ajang penghargaan Piala Oscar 2020, yakni Best Picture atau Film Terbaik, saya jadi pengen ngobrolin hal-hal yang saya dapatkan setelah nonton film ini.
Poster Film Parasite
Parasit/pa·ra·sit/ n 1 benalu; pasilan; 2 organisme yang hidup dan mengisap makanan dari organisme lain yang ditempelinya; 3 ki orang yang hidupnya menjadi beban (membebani) orang lain.
Jika dilihat secara gamblang, keluarga Ki- (Kim Family) jelas menjadi parasit. Mereka seakan memeras kekayaan keluarga Parks dengan memanfaatkan kepolosan atau sebenarnya kecerobohan Parks Family. Peristiwa ini mengingatkan saya pada salah satu dialog yang diucapkan Chung-Sook, yang kira-kira berbunyi demikian, “Mereka baik karena mereka kaya.”. Ya, ucapan tersebut cukup mendeskripsikan sifat Nyonya Parks yang gampang sekali meng-iyakan sesuatu seakan ia tidak perlu melindungi apapun, seakan ia tidak akan bisa kehilangan apapun—of course karena ia memiliki banyak uang, semuanya bisa dibeli dengan uang, bukan? Namun agaknya Nyonya Parks melupakan satu hal bahwa uang tidak bisa membeli nyawa.
Dari sudut pandang saya sebenarnya masing-masing golongan, Si kaya dan SI Miskin, yang berusaha dibahas film ini, memiliki parasit sendiri-sendiri, yaitu sifat buruk, sifat yang hidup di dalam pemikiran dan mengisap hal-hal baik dari manusia. Parasit yang menggerogoti pemikiran golongan miskin adalah rasa malas. Mereka memiliki obsesi namun tanpa aksi, obsesi untuk memiliki uang, rumah yang besar, mobil mahal atau properti lain digadang-gadang adalah simbol kekayaan namun mereka melupakan fakta bahwa untuk manusia biasa—bukan keturunan konglomerat dsb—hal tersebut hanya bisa didapatkan dengan kerja keras, dikumpulkan perlahan-lahan sedikit-demi sedikit hingga menjadi bukit.
Seperti pada awal film diceritakan bahwa orangtua Ki-Woo masih dalam kondisi yang sehat wal afiat namun tidak bekerja. Keluarga tersebut menerima pekerjaan freelance untuk melipat box pizza. Sang ayah terobsesi untuk cepat menyelesaikan pekerjaan tersebut dengan melihat tutorial di youtube sampai-sampai melanggar aturan lipatan yang sudah dibuat. Melalui beberapa dialog juga disebutkan bahwa Ki-taek (Sang Kepala Keluarga) tidak memiliki rencana untuk keluarganya. Hal tersebut mengindikasikan bahwa mereka minim usaha untuk mengubah nasib namun berkemauan tinggi. Andai kata Kim Family bekerja dengan tekun dan jujur lama-kelamaan nasibnya besar kemungkinan bisa berubah.
Sedangkan parasit pada Golongan kaya adalah sifat sombong. Mereka terlalu menganggap diri mereka eksklusif sampai mereka lupa bahwa mereka adalah manusia biasa, bahwa mereka harus membumi, harus berendah hati. Hal ini ditunjukkan dengan adengan Mr.Parks yang sedang membicarakan aroma tubuh Ki-Taek yang seperti stasiun bawah tanah, juga saat di dalam mobil, Nyonya Parks tanpa sungkan menutup hidungnya lalu membuka jendela mobil, juga adegan saat Ki-Taek dan Mr.Parks mengenakan kostum indian dalam acara ulang tahun putranya. Ki-Taek yang sepertinya memiliki banyak pikiran di kepala terlihat tidak fokus, wajahnya memerah—namun Mr.Park melihat itu seperti keengganan Ki-Taek untuk melaksanakan permintaannya sehingga ia malah membahas upah, menghitungnya sebagai lembur. Adegan lainnya adalah ketika tragedi pertumpahan darah terjadi, di tengah kepanikan Jessica, Kim familiy dan tamu lainnya Mr.Parks sama sekali tidak mau menolong Jessica yang sedang kritis berdarah-darah, ia malah ngotot meminta kunci mobil dan berniat untuk kabur, namun kunci tersebut jatuh lalu ditimpa mayat suami mantan PRT Parks family, Mr.Parks terlihat jijik sekali dengan mayat tersebut yang notabenenya adalah manusia.
Pada akhir film, setelah kehilangan banyak hal, akhirnya Ki-woo berhasil mengenyahkan Parasite yang menggerogoti pikirannya—dia membuat rencana, rencana paling dasar seperti fondasi untuk menyelamatkan nasib ayahnya dan keluarganya. Ia membuang batu yang awalnya dianggap jimat ke dalam sungai dan ternyata batu tersebut mirip serpihan fondasi rumah yang hancur—sama seperti serpihan yang sudah ada di sungai tempat ia membuangnya. Jangan-jangan dari awal memang itu hanyalah batu biasa—bukan batu ajaib yang serta merta bisa membuat pemiliknya jadi berduit.
Terlepas dari ironi tentang gap antara golongan kaya dan miskin yang memang seakan sudah mengakar, kita semua rasanya memiliki parasite yang menggerogoti pemikiran dan menghisap jiwa positif dari raga ini. Hidup kita bukan soal rencana muluk-muluk—benar kata Ki-Taek sebaiknya kita melakukan apa yang ada sekarang, namun “apa yang ada sekarang” bukan berarti jalan di tempat, “apa yang ada sekarang” adalah rencana kecil seperti fondasi yang harus diambil berdasarkan apa yang kita alami sekarang.













