Lagi-lagi mengalami apa yang saya sebut After Film Syndrome. Yaitu ketika merasa into the film banget sampai terngiang-ngiang setelah filmnya beres ditonton. Biasanya, film yang -menurut saya- bagus yang bisa bikin efek begini.
Jadi ceritanya tadi siang akhirnya jadi juga nonton AADC 2. Setelah sebelumnya ngajak orang-orang tapi gak pada bisa dan hampir berputus asa mau nonton sendiri, pada akhirnya ada juga yang bisa diajak pergi. Gak jauh-jauh: Uci, adik saya sendiri, yang untungnya hari ini lagi libur sekolah dan sudah berumur 17 tahun Januari kemarin, jadi bisa saya ajak nonton ini.
Dibalik filmnya yang memang hits dari AADC pertama, AADC 2 ternyata masih mampu bikin saya se-into-the-film ini. Sungguhan bikin terngiang. Bukan hanya puisi-puisinya Aan Mansyur dan pembacaan puisi oleh Rangga-nya saja yang bikin film ini nggereget, tapi musiknya, lagunya, bahkan setting tempatnya menambah kesyahduan film ini. Jelaslah, Jogja. Ah, siapa sih yang tak menganggap kota ini istimewa? Jelaslah begitu, kota ini, nyatanya hampir selalu menjadi destinasi karyawisata dari mulai SMP, SMA bahkan saat liburan kuliah tiba. Dan sudah barang tentu banyak menyimpan memori yang justru menjadi ‘harta'nya kota ini. Iya, memorinya ituloh. Duh….
Tentang percakapannya Cinta dan Rangga, ah tak usah dibahas. Semua juga sudah tahu, penggunaan bahasa indonesia yang baik dan benar, dan Saya-Kamu nya Cinta dan Rangga nyatanya juga menjadi bumbu-bumbu yang membuat film ini makin…dikenang. Dan terkesan lebih elegan. Meskipun sebenarnya kadang ke-cheesy-cheesy-an, tapi cheesy-nya lucu dan dibalut dengan apik, dan jadinya bikin ikutan senyum-senyum sendiri. Hmm.
Ada satu yang menarik perhatian saya dari film ini, tentang alasan Rangga meninggalkan Cinta begitu saja sembilan tahun yang lalu. Rangga bilang Ia pergi karena takut tidak dapat membahagiakan Cinta karena katakanlah-ia masih kurang mapan dibanding Cinta yang keluarganya sudah sejahtera dari sananya. Terlebih kuliahnya yang sedang berantakan saat itu-dan kondisi pekerjaannya yang masih serabutan sana-sini untuk bertahan hidup. Singkatnya, Rangga tidak begitu percaya diri untuk dapat menyejahterakan kehidupan Cinta, untuk membahagiakan Cinta.
Pernah suatu hari saya dan seorang teman membicarakan tentang ini. Teman saya bilang begini, “Kenapa ya laki-laki itu selalu bilang mau mapan dulu lah, punya ini dulu lah, punya itu dulu lah, sebelum memutuskan untuk menikah? Padahal kita aja yang perempuan gak menuntut itu. Membersamai dari awal, toh kita juga gak keberatan”.
-dan saya setujukan. Ah, Rangga. Gini loh, Cinta itu kan udah sayang sama kamu. Kalau perempuan udah sayang, dia akan rela membersamai kamu berjuang untuknya. Meskipun kamu belum punya apa-apa, dia gak apa-apa. As long as kamunya berusaha, memperjuangkan kesejahteraan hidupmu dan hidupnya, dia tidak akan keberatan untuk memulainya dari bawah. Ayolah Rangga, ini bukan klise, memang begitu nyatanya. Kalian saja para lelaki yang terlalu menuntut kesempurnaan sebelum memulai suatu hubungan, padahal, perempuan-mu selalu siap menerima ketidaksempurnaan itu-karena ia sayang padamu. Begitu pun si Cinta, Ga. Tuh lihat saja, waktu mendengar penjelasanmu, kalimat yang keluar dari mulutnya ketika kamu bilang kamu gak akan bisa membahagiakannya adalah: “kata siapa?” Tuh. Kata siapa. Kata kamu aja itu mah. *loh *jadi marah-marah.
Hah yasudahlah. Toh itu hidupnya Rangga dan Cinta, ya. Hubungan mereka pun sudah berakhir bahagia. Terlebih, mereka itu tak nyata. Jadi yasudah, jangan terlalu dipikirin gitulah.
Tapi serius. Itu tempat escape-nya Rangga sama Cinta yang liat sunrise itu dimana sih? Tempat apa? Keren gitu ya. Kayaknya kalau malem bisa liat langit jelas. Ingin liat bintang :(
Anyway, puisi itu memang… selalu bikin merenung ya. Syahdu. Tenang. Romantis. Dari dulu juga sudah begitu. AADC yang membuatnya semakin jelas. Bahwa puisi itu, nyatanya gak pernah ketinggalan zaman. Dan kadang berhasil menyentil sisi-sisi sensitif manusia. Walaupun tak jarang yang pura-pura tidak merasa.
Ah, yasudahlah. Akhir kata, banyak yang membekas dari film ini. Tentang asiknya persahabatan Cinta dan teman-temannya, tentang lucunya Milli, tentang obrolan pemilunya Rangga dan Cinta, tentang tempat-tempat yang kayaknya asik untuk dikunjungi di Jogja, tentang lagu-lagunya Melly Goeslaw yang tak lekang oleh waktu, tentang kebaperan-kebaperan yang tetiba menerjang, tentang Christian Sugiono yang sukses bikin sirik sama Titi Kamal, dan tentang-tentang lain yang kalau saya sebut semua disini, bisa bikin spoiler dari awal sampai akhir. Haha, ampun~
Yah begitulah. AADC 2 mengajarkan, bahwa hidup tak melulu tentang mengejar mimpi dan cita muluk-muluk. Bahwa kadang, dalam hidup, manusia perlu juga untuk mengambil jeda. Dengan diam, duduk tenang, mendengar puisi, dan tak lupa, menikmati secangkir teh atau kopi bersama seseorang yang membuat puisi menjadi tak sekedar kata-kata.
Ahsek. Udah ah. Selamat menonton AADC untuk yang akan, hati-hati hanyut.










