Rintik-rintik hujan selalu menenangkan hatiku, "yes, hujan. Aku akan menikmati jam pulang hari ini".
Pukul 16:21. Aku berlari kecil sambil menenteng tas kecil dan jaket yang selalu kugunakan. Mengambil sepatu kantor andalanku, lalu bersiap untuk check-out.
Belum sampai ibu jariku menyentuh mesin sidik jari, tiba-tiba kepala muncul tepat di depanku. Berniat mengagetkanku namun sayang, aku selalu menebak tingkah orang ini.
"Ngapain sih!", Suaraku sinis sambil menekan ibu jariku ke hidungnya yang bisa dikatakan mancung.
"Mau pulang? Buru-buru amat sih ve".
"Aku takut ketinggalan rintik-rintik hujan"
"Sudah 4 tahun aku mendengar alasan itu setiap musim hujan mulai turun", dia menyingkir lalu memindahkan tanganku yang masih menempel ke hidungnya menuju ke mesin sidik jari. Namun, gerakan ku cepat menepis tangannya.
"Yang suruh pegang-pegang siapa?", Jawabanku sinis untuk kedua kalinya. Dan bergegas pergi.
Di angkot, mataku tidak berhenti memperhatikan jalanan dan bangunan yang masih basah akibat hujan tadi. Aku terbawa suasana hujan sore ini. Lalu merenung akan hal-hal yang sudah terjadi dihidupku selama 25 tahun.
Aku masih tidak percaya, dengan kita yakin Tuhan akan mengatur hidup kita. Pasti, Dia akan mengaturnya dengan sebaik-baik kehidupan. Tinggal kita yang memilih, bersyukur atau tidak.
Mataku mulai sayup-sayup menahan kantuk yang sedari tadi menghampiri ditambah aroma selepas hujan. Belum sempat bulu mata bawah dan bulu mata atasku bertemu, tiba-tiba gawaiku berdering.
"Yaa wa'aalaykhumhussahalam". Jawabku datar sambil menutup mulutku yang sedari tadi menguap namun tetap berusaha menjawab salam dari orang ini.
"Eh jawab salam dulu terus kata Yaa nya di akhir", balasnya sambil cekikikan. "Ini tas kecilmu ketinggalan. Mau ku bawakan? Ku bawakan saja ya? Soalnya kalau gak kubawakan, kamu besok ga minum", candanya disusul tertawa kecil yang mengartikan dia berusaha memperbaiki moodku.
"Terserah kamu saja", jawabku datar sambil menghela napas.
"Baiklah anak baik". Belum sempat tertawanya selesai, aku segera menutup telfon.
"Kiri pak", ucap salah satu penumpang ibu paruh baya yang duduk paling depan dekat pintu angkot.
"Pak kiri pak", ia mengulangi lagi.
"Kiri paaaaaaak". Dan disusul oleh beberapa penumpang lainnya. Yang terlihat seperti paduan suara, namun kali ini paduan suaranya diikuti dengan emosi.
Ibu tadi turun dengan muka cemberut, dengan sedikit suara bisik-bisik, yang kelihatannya seperti membaca jampi-jampi.
Giliranku turun. Aku berjalan mendekati pagar rumah, aku sempat kaget ketika tanganku ditarik oleh orang yang ku kenali wangi parfumnya.
"Iya tadi macet", jawabku sambil mencari gawai di dalam tas ku.
"Ini", dia menyodorkan tas tentenganku. Namun, belum sempat tanganku meraih tas itu, dia menarik tanganku untuk kedua kalinya. "Makan dulu yah, ve"
Aku hanya mengangguk, mengikuti permintaannya. Di mobil, Aku terus memalingkan muka ke jendela yang masih berembun karena sisa hujan tadi sore.
"Apa yang dia katakan?", Elfat memang selalu tahu apa yang terjadi, ketika aku kacau seperti hari ini.
"Dia minta maaf", suaraku bergetar. Tiba-tiba dia menepikan mobilnya.
"Kenapa berhenti?", Tanyaku masih dengan suara yang sedikit lagi tangisnya akan tumpah. Elfat menyuruhku untuk mengubah posisi duduk berhadapan dengannya. Lalu, memegang kedua tanganku.
"Kamu tidak perlu bingung dengan perasaanmu sendiri, apakah kamu sudah bisa memaafkannya atau tidak. Sekali-sekali biarkanlah dirimu yang mengontrol perasaanmu, bukan sebaliknya. Jalani harimu seperti biasa, tanpa kamu sadari dan tanpa diminta pun, kesalahannya, rasa sakitmu akan hilang terhapus waktu".
Aku hanya menangis, menarik tanganku dari tangannya dan menutup wajahku dengan kedua tanganku.
"Kayak di Twitter, ve. Sedang berada pada fase Yaudah". Dia kembali tertawa kecil, menggodaku untuk membuatku berhenti menutup wajah.
"Te-ri-ma kasih yah", bahkan aku sesenggukan mengucapkan kalimat sependek itu.
"Aku hadir untuk ini, ve", dia memasang senyum termanisnya yang selalu menjadi andalan disaat dia memintaku menemaninya menonton, makan, atau aktivitas lainnya.
Elfat adalah satu-satunya laki-laki yang tidak pernah ku sangka akan datang sedekat ini dihidupku. Lelaki yang dikantorku, bisa jadi pemimpin. Lelaki yang entah kenapa, pembahasan tidak akan pernah habis jika bersamanya, lelaki yang sangat super baik di semua orang.
Kadang, aku bingung. Apakah ini mimpi? Tuhan mendatangkanku seseorang yang terbaik, yang mencintaiku.
Sampai 3 bulan yang lalu dia mengajakku untuk menentukan arah, namun aku meminta waktu untuk bisa mengenalnya. Bukan Elfat yang ku kenal sebagai ketua tim di kantorku, bukan elfat yang ku kenal sangat digemari oleh kalangan perempuan diluar sana berkat rasa empatinya, dan tentu saja wajahnya.
Aku ingin mengenal Elfat dari sisi yang belum banyak orang ketahui. Aku ingin mengenal Elfat seperti orang biasa, diluar dari prestasi dan kepopulerannya.
Dan tepat hari ini, aku akan menjawab ajakannya untuk menentukan arah 3 bulan yang lalu.
"Jadi gimana ve?", dia melembutkan suaranya.
"Ini..", dia membuka sisa snack yang ada di mobilnya, snack berbentuk bulat berwarna orange, dan memasangkannya di jariku.
"Eh?", aku menatapnya heran.
"Pake itu dulu, soalnya jari kamu kecil jadi harus diukur. Hahaha", dia tertawa lepas. Entah tertawa karena memang lucu, atau tertawa karena bahagia.
Terima kasih Elfat untuk kesabaranmu menghadapiku ketika kacau seperti ini. Terima kasih untuk selalu bisa menghapus air mataku, meskipun air mata ini bukan untukmu.
Aku merasa tepat berada dekat dengan Elfat.