#12 Tiada Mentari di Poitiers
Sepasukan besar berbaris rapi, berjalan menuju tujuan yang tidak pasti
Dibekali semangat membara, semangat menjadi sosok martir pada medan juang nun jauh disana
Jikalau memenangkan pertempuran, maka seluruh Benua Biru akan tunduk pada keimanan
Semangat itulah yang mereka bawa, misi suci untuk menyebarkan risalah-Nya
Hingga akhirnya hari petaka pun tiba, tak dinyana justru disitulah mereka betul-betul menjadi seorang martir yang gugur memperjuangkan risalah-Nya
Jumlah seakan tiada arti, hingga akhirnya satu persatu pasukan kembali menuju haribaan Ilahi
Pasukan besar yang mampu menggetarkan Benua Biru, tak disangka dihentikan dan dihinakan oleh orang-orang ‘tak beradab’ itu
Ringkikan kuda perang menunjukkan rasa sakitnya setelah terkena tusukan ditubuhnya, jerit tangis manusia terkena ayunan pedang yang memutus tangan dan kakinya
Gemerincing suara pedang yang beradu, hingga anak-anak panah beterbangan tak menentu
Menembus dada hingga kepala, mengusik nurani siapapun yang merasakannya
Hari yang menjadi petaka, ketika sang pemimpin turut gugur dalam perjuangan membela Risalah-Nya
Membuat ciut nyali pasukannya, dari gagah perkasa menjadi layaknya tikus yang sedang dijadikan mangsa
Lawan tangguh bersenjatakan palu dan gada, yang telah bersumpah setia membela benua Biru Eropa, berhasil meluluhlantakkan barisan demi barisan dari Andalusia
Sang Palu berhasil menunjukkan kuasanya atas benua Biru Eropa, dan Poitiers menjadi saksi bisu ketangguhannya
Sekaligus saksi bisu kemenangan kekafiran atas keimanan, membuat mentari enggan menunjukkan wajahnya yang rupawan
Alunan kesedihan terpancar dari langit dan bumi, atas kekalahan prajurit gagah berani yang membawa risalah Ilahi
Tiada mentari di Poitiers kali ini, Oktober berduka bagi orang-orang yang berharap kemenangan suci
Merelakan nyawa sebagai taruhan, sekalipun tiada kesia-siaan dalam kematian
Nama mereka abadi dan tercatat sebagai martir, yang akan terus dikenang tiada akhir
Sekalipun langit Poitiers tiada mentari, tetapi semangat juang tiada pernah berhenti
Meskipun Risalah Langit tiada sampai ke Benua Biru, tetapi bibit-bibit penyebar Risalah ini akan terus tumbuh subur dan terbaharu
Wahai Ksatria Langit di Poitiers, tetaplah abadi dan menginspirasi kami