Meet Your Rock Star!
“Meet your rock star! Dan kamu akan semakin termotivasi karena kamu tahu, idolamu pun manusia yang sama sepertimu. Sama-sama makan nasi, sama-sama berjalan dengan dua kaki, dan sama-sama berjalan menapak. Jadi, ketika idolamu bisa melakukannya, kamu pasti bisa”
Begitu kira-kira yang dikatakan oleh mas Azhar Nurun Ala. Seorang penulis pemula di salah satu seminar kepenulisan yang diadakan di universitas tempat aku belajar. Jadi ceritanya aku kemarin pagi sampai siang habis ikut seminar nasional kepenulisan yang pembicaranya mas Azhar dan Bunda Asma Nadia. Do you know Bunda Asma? Yes, beliau adalah idolaku, inspiratorku. Entah sudah berapa buku beliau yang telah tamat aku baca. Ada beberapa buku beliau yang tertata rapi di rak di kamar kosku. Baik yang asli, bajakan, sampai yang pinjeman dan gak mau aku kembaliin :D
Fyi, yang ngadain seminar nasional kepenulisan ini adalah proker salah satu bidang di organisasi rohis yang ada di fakultasku. Dan kebetulan aku adalah alumni dari bidang ini, yaah bisa di bilang staff ahli. Semnas kepenulisan ini merupakan agenda rutin tidap tahun yang diadakan oleh organisasi ini. dan ceritanya, dari awal aku jadi panitia magang sampai jadi staff bidang ini, cita-citaku adalah mengundang Bunda Asma jadi pembicaranya. Namun ternyata, cita-cita itu terwujud justru ketika aku sudah bukan jadi apa-apa di organisasi ini. And then, aku pun akhirnya jadi peserta saja. awalnya aku piker jadi panitia akan lebih beruntung karena dapat mempersiapkan dari awal segala hal yang berhubungan dengan bunda. Namun ternyata jauh lebih beruntung saat aku menjadi pserta. Karena Bunda so care with fans. Dan ketika aku jadi panitia, aku yakin aku tidak akan bisa focus mendengarkan materi baik dari mas Azhar maupun dari Bunda. Dan karena aku beli tiketnya yang gold, dan nepotisme karena panitianya adalah adik-adik sendiri, alhasil aku bisa duduk di depan dan puas memandang wajah bunda yang mengalirkan kata-kata penuh motivasi.
Banyak pelajaran yang bisa aku ambil dari seminar yang aku ikuti. Bahwa segala tidak ada yang instan. Semua butuh proses dan semua memerlukan motivasi. Kalau kata mas Azhar, motivasi sangat mempengaruhi hasil. Jadi tinggal kita cari hal yang bisa memotivasi kita menulis, ketika kita ingin menjadi penulis. Kalau kata Bunda, tidak ada orang yang malas, yang ada hanya orang yang tidak memiliki motivasi. Dan seharusnya, Allah lah motivasi tertinggi kita. Huwaaaw, melting. Merasa bukan apa-apa dan bukan siapa-siapa. Tapi semuanya memang berawal dari 0. Seperti Bunda Asma sendiri awalnya hanya seorang anak yang berasal dari rumah di pinggir rel kereta api. Memiliki penyakit yang komplikasi, bahkan karena penyakitnya tersebut Bunda harus merelakan bangku kuliahnya di tahun kedua. Namun ternyata semua hal itu bukan penghalang bagi Bunda. Justru membuat Bunda semangat dan akhirnya bisa seperti sekarang ini.
“ketika salah satu pintu tertutup, yakinlah Tuhan telah membuka pintu-pintu yang lain. Pilihan tinggal terdapat pada kita. Mau fokus meratapi pintu satu yang tertutup, atau mencari pintu-pintu lain yang telah terbuka lebar”
Begitulah apa yang dikatakan Bunda. Ketika Bunda merasa pintu untuk membahagiakan orang tua telah tertutup, yaitu kuliah, Bunda mencoba mencari pintu-pintu lain yang telah Allah persiapkan. Menulis salah satunya. Dengan menulis Bunda sudah melalang buana ke berbagai negara, dan itu salah satu yang menjadi motivasi terkuatku :)
Banyaak sekali wejangan-wejangan yang Bunda sampaikan, dan quote yang paling aku suka adalah “menulis adalah berjuang”. Ya, menulis memang berjuang. Berjuang menjaga konsistensi, berjuang melawan hawa nafsu agar menulis yang berbau islami saja, dan berjuang melawan niat-niat yang salah. Jadi, selamat berjuang melalui tulisan! :)
Dan di endingnyaaa, aku mengantongi 5 tanda tangan Bunda Asma di 5 novel beliau yang sudah aku persiapkan. tapi ini cuma samplenya :3
foto bareng sama mas Azhar, Bunda asma, dan mba Citra :)
and theeen, spesial foto bareng Bundaaa :* abaikan muka saya yang sudah kucel dan lusuh itu :3















