Tepat 20 tahun yang lalu seorang perempuan yang umurnya hampir berkepala 4 mengerang kesakitan. Berdiri di sampingnya sesosok pria setengah abad yang selalu setia menemani sembari terus menenangkan “istighfar Bu, istighfar..”. ya, tepat 20 tahun yang lalu putri ke 10 dari sepasang kekasih abadi itu lahir. Putri yang kehadirannya diharapkan dengan penuh kecemasan. Akankah hidup sehat seperti ketiga abangnya? Atau berakhir kembali ke Rabb saat bayi seperti ke 6 kakaknya?.
Benar. Tepat 20 tahun yang lalu saya dihadirkan di tengah-tengah keluarga yang penuh dengan dekapan dan kehangatan agama. Tepat 20 tahun yang lalu saya menjadi saksi mekarnya senyum sepasang kekasih yang umurnya sudah tak lagi muda. Ya, tepat 20 tahun yang lalu saya resmi menjadi putri dari pasangan Ngisomuddin dan Rokhanah. Dua orang yang dari namanya saja sangat terlihat bahwa mereka dari keluarga kuno yang sarat dengan nilai-nilai keagamaan. Ayah adalah putra dari seorang Kyai terkenal di desanya dan Ibu adalah cucu dari seorang Kyai pula. Keluarga yang sempurna bukan? Tapi kata sempurna memang tidaklah pantas disandang oleh umat manusia. Tuhan tetap harus menguji apakah kesempurnaan keluarga akan tetap disandang oleh pasangan tersebut.
Secara struktural saya memang dilahirkan dalam urutan ke 10 dari 11 bersaudara, namun sampai di umur ke 20 ini saya tetap saja mengatakan bahwa saya anak ke empat dari 4 bersaudara. Lantas ke mana 7 saudara lainnya? Ya, mereka meninggal saat umur mereka belum genap 1 bulan. Penyakit kuning, cerita ibu dulu. Bahkan, adik saya yang merupakan anak terakhir dari Ayah dan Ibu meninggal saat dia lahir. Entah dia meninggal saat masih di dalam kandungan atau sudah sempat merasakan dunia meskipun hanya beberapa menit. Sampai sekarang itu masih menjadi misteri bagi keluarga kami. Yang jelas, saat ibu sudah sadar dari obat biusnya sang suster meminta maaf karena bayinya telah tiada. Ya, dia adalah adik satu-satunya saya yang bahkan saya sendiri tidak ingat sama sekali kapan dia lahir.
Kenapa sampai sekarang saya merasa tetap menjadi anak ke empat dari 4 bersaudara? Karena ayah dan ibu tidak pernah mengungkitnya sama sekali. Boro-boro setiap tahun mengadakan tahlilan, makam ke enam kakak saya saja saya tidak tahu letaknya di mana. Bukan, bukan ayah dan ibu bermaksud melupakan mereka. Hanya saja, bagi ayah dan ibu mengungkit kembali mereka hanya membuka luka lama, toh mereka sudah pasti masuk surga. Tidak perlu kita mengadakan tahlilan atau ziarah kubur. Kata ibu, ke tujuh anak ibu yang meninggal adalah tabungan ibu kelak di akhirat.
Ibu hamil tidak hanya 11 kali, tapi 12 kali. Kok bisa? Iya, setelah kelahiran adik saya ternyata ibu hamil lagi. Belum sempat ayah dan ibu menyadari bahwa ibu hamil, kandungan ibu sudah keguguran. Maha suci Allah dengan segala skenarionya. Itulah sosok wanita tegar yang 20 tahun lalu melahirkan saya. Lantas, apa yang telah saya berikan? Belum ada. Bahkan, beberapa kali saya menghadiahkan air mata karena kenakalan saya.
Masa SMA adalah masa kegelapan saya. Di tengah keluarga yang agamis, ternyata saya terperosok jurang. ‘pacaran’, kata yang haram di keluarga kami ternyata saya melakukannya. Dan berkali-kali hujan air mata hadir dari mata sendu wanita tegar itu. Entah setan apa yang merasuki saya kala itu, sehingga tidak ada rasa bersalah sedikitpun sehingga kata haram itu berlangsung selama 3 tahun (dengan pria yang berganti-ganti, astaghfirullah).
3 tahun masa kegelapan itulah yang menjadi salah satu alasan ibu melarangku merantau untuk kuliah. Namun, dengan beribu janji yang saya lontarkan akhirnya ibu mengizinkan saya untuk kuliah di kota Pelajar ini, Jogjakarta. Janji yang sudah sempat saya haturkan kepada ibu semaksimal mungkin saya tunaikan. Saya mencari lingkungan-lingkungan yang saya rasa bisa membingbing saya ke arah yang lebih baik. Dan ternyata itu benar, akhirnya saya ‘tersesat’ ke jalan yang benar.
Perjalanan dari umur 18 ke 19 adalah tahap penyadaran. Saya banyak belajar dengan orang-orang baik di sekitar saya dan saya mulai menata niat dan tujuan hidup. Saya mulai mengingat umur ayah yang sudah lewat kepala 7 dan ibu yang sudah memasuki setengah abad. Hadiah apa yang akan saya persembahkan untuk mereka ketika saya tidak segera berubah?
Satu tahun berikutnya, yaitu umur 19 sampai hari ini, saya anggap sebagai tahap perbaikan. Setelah saya sadar apa kesalahan saya, saya mulai memperbaiki. Banyak sekali pelajaran yang telah mengisi satu tahun kehidupanku sekarang. Saya dibelajarkan untuk lebih peka dengan apa yang ada di sekitar. Saya dibelajarkan bagaimana untuk lebih bisa merasa ikhlas, sabar, berbagi, dan yang jelas saya dibelajarkan apa itu ukhuwah. Banyak cerita tentang ukhuwah yang telah mengantarkanku ke gerbang usia kepala dua. Dan saya yakin, pembelajaran-pembelajaran itu yang sangat penting dan akan saya pergunakan ketika saya sudah terjun di masyakarat. Pembelajaran-pembelajaran di bangku kelas hanya sekian persen yang itu fungsinya hanya sebagai pelengkap, bukan bagian primer.
Akhir-akhir ini saya sering dipanggil dengan nama ‘fatimah’. Tidak ada hubungannya memang dengan nama saya. Namun makna yang terkandung di dalam nama ‘fatimah’ adalah doa. Doa agar saya bisa selembut dan seshalehah ‘fatimah’. Bahkan, agar saya bisa seromantis Fatimah terhadap Ali. Haha, dasar teman-teman yang lucu. Setelah saya rela dipanggil ‘aziz’ dengan alasan ‘aini’ terlalu shalelah, sekarang saya dituntut agar seshalehah Fatimah. Ah, terlalu banyak cerita dan warna yang telah mengisi tahun ke dua saya di tanah perantauan.
Angka umur bertambah berarti sisa hidup berkurang. Entah kapan Tuhan akan mengutus Malaikat Izroil untuk mengembalikan ruh ini ke hadapan-Nya, namun saya berazam bahwa sisa hidup saya adalah kesempatan saya untuk mengumpulkan ilmu-ilmu Tuhan yang berserakan di dunia. Sisa hidup saya adalah kesempatan saya untuk mempelajari lagi bahasa langit agar mampu saya bumikan dan dapat dengan mudah dicerna oleh para makhluk berakal. Dan saya berazam di sisa hidup saya, saya akan lebih mempelajari apa itu ukhuwah yang sebenarnya.
Jazakumulloh khoiron katsir kepada seluruh bagian hidup saya yang telah mewarnai hidup saya selama 20 tahun ini. Teruntuk sahabat-sahabat seperjuangan saya, Dena, Vindy, Tamrin, Santi, Mei, dan All Jambu Alas.. semoga tetap Lillah di jalan Dakwah, terima kasih telah selalu merangkul dan berjalan beriringan. Tidak lupa buat mas dan mba Cakarlas, Laskar Al-aqsa, Latas, dan semuanya yang sudah selalu memberikan pembelajaran bagaimana menjadi kakak yang baik, dan special untuk ayah ibu, semoga tetap menjadi sepasang kekasih abadi sampai di akhirat kelak. Tunggu hadiah apa yang akan putri bungsumu ini persembahkan Yah, Bu..