Airmata Tidak Pernah Mengembalikan yang Pergi
Aku gemetar menyentuh wajahnya. Berseru-seru memanggil namanya. Ya Allah, tidak peduli dengan kerumunan, aku panik memeluk tubuh Ahmad, berteriak menyuruhnya segera bangun kembali. Menyuruhnya segera melanjutkan pertandingan. Lihat Kawan, semua orang datang hanya untuk menonton kau beraksi. Semua orang bersorak-sorai setiap kali kau menyentuh bola. Semua orang bertepuk-tangan setiap kali kau mencetak gol. Bangun Ahmad, aku mohon. Tidakkah kau ingin memenangkan Piala Kecamatan besok sore? Tidakkah kau ingin menonton Argentina memenangkan Piala Dunia besok malam?'
Sia-sia. Airmata tidak pernah mengembalikan yang pergi.
Sore itu, si Ahmad, Maradona kampung kami tidak terselamatkan.
Ahmad meninggal tiga menit setelah tangannya digigit ular berbisa yang bersembunyi di balik cekungan tanah.
--- salah seorang penduduk kampung justru berkata lirih, "Dia... dia suka sekali teriak, HAJAR! AYO HAJAR TERUS!!" sambil menunjuk tempat biasanya Ahmad duduk menonton. Maka hanya soal waktu, saat yang lain ikut menyeka hidungnya yang tiba-tiba terasa kedat, kerongkongan terasa sakit.
Membuat senyap seluruh ruangan.
Aku? Di kamar, Mamak memelukku erat-erat.
Aku yang sejak sore menangis...yang saat itu tetap saja menangis meski sudah jatuh tertidur. Aku sungguh menangis dalam tidur. Ya Allah, Ahmad telah meminjamkan kehidupannya kepadaku dengan berkata: "Biar, biar aku saja yang ambil, Burlian."
©Tere Liye | mozaik kisah kematian Ahmad, seorang pemuda cilik jagoan bola di kampungnya yang tewas mengenaskan lantaran digigit ular berbisa tepat sehari sebelum pertandingan finalnya di kecamatan. Demikian dielu-elukan warga atas kepiawaiannya di lapangan hijau tak lantas membuat jagoan cilik ini kembali dari kematian.
Selengkapnya dalam Novel Burlian, halaman 61-68