Sebagai sulung, saya sering menahan tangis jika menyaksikan, mendengar, dan merasakan cacian, hinaan, sindiran orang-orang kepada keluarga saya.
Mamak dan bapak hanya tersenyum tipis, tanpa membalas. Tapi, saya tahu pasti mereka kesakitan. Telinga mereka panas, lebih-lebih hati mereka bagai diiris sembilu. Hanya kami, anak-anaknya yang menjadi kekuatan mereka untuk tidak terlihat sedih sedetikpun.
Sebagai sulung, hanya saya yang mengetahui itu.
Dan sepertinya, nasihat “Bapak” untuk keempat anaknya di novel Eliana oleh Tere Liye (hal.32) yang coba Bapak saya tanamkan dalam diam dan tenangnya ia menghadapi kalimat-kalimat sadis orang-orang.
“Oi, suatu saat kau akan mengerti kalimat ini. Jangan pernah bersedih ketika orang-orang menilai hidup kita rendah. Jangan pernah bersedih karena sejatinya kemuliaan tidak pernah tertukar. Boleh jadi orang-orang yang menghina itulah yang lebih hina. Sebaliknya, orang-orang yang dihinalah yang lebih mulia. Kalian tidak harus selalu membalas penghinaan dengan penghinaan, bukan? Bahkan, cara terbaik menanggapi olok-olok adalah dengan biasa-biasa saja. Tidak perlu marah. Tidak perlu membalas.”
Setelah membacanya, saya begitu ingin bertanya kepada Bapak saya, “Inikah yang coba Bapak tunjukkan ke saya? Bahwa hal buruk tak boleh dibalas dengan yang buruk pula?” Tapi pertanyaan ini tetap tertahan dan tersalurkan hanya lewat tulisan ini.