Kita ini, seperti bulu-bulu burung yang tercatut lepas, atau bahkan debu yang dibiarkan melayang-layang sebentar. Namun siapapun tahu bakal berakhir kemana, kita. Dasar. Pijak. Jatuh.
Dalam perjalanan ini, yang membedakan hanyalah seberapa lama kita akan bertahan berada di udara. Kecuali ketika kita tidak bisa lagi menanggung hal-hal di luar kekuasaan manusia. Maksud saya, kita pasti pernah mengalami kejatuhan dalam sejarah. Manusia pernah berada di satu titik dimana ia menumpahkan tangis sekeras-kerasnya hanya karena pendapat orang lain.
Bukan tangga namanya kalau hanya satu anak pijakan saja. Begitu pun kehidupan.
Dalam keseharian, kita memang harus pandai menarik napas panjang. Menikah atau tidak, kuliah atau tamatan SMA, punya lima anak atau memutuskan untuk mengadopsi anak, berolahraga empat kali seminggu atau duduk di depan komputer sepanjang hari, apapun yang kamu lakukan tidak akan lepas dari penilaian orang sekitar. Ada yang tidak dapat kau hindari ternyata, selama masih punya telinga.
Apakah itu penting? Celakanya, kita tidak bisa menutup telinga sepanjang hari. Kita kadang malah membutuhkan pendapat seseorang untuk memetik kesimpulan dari keputusan kita. Tetapi kadang ada juga yang salah paham. Diberi komentar menyebalkan, dinilai dengan hal-hal yang tidak baik, diberi pertanyaan yang sungguh bukan dirimu, saya rasa ini kenyataan nomor sekian—bahwa manusia, satu sama lain, selalu ingin tahu.
Beberapa waktu belakangan, saya berurusan dengan hal demikian. Saya bersyukur karena belajar banyak hal. Dari sekian jalan, mungkin ini yang bisa saya rumuskan.
Jangan melakukan hal yang sama.
Alang berjawab, tepuk berbalas. Lebih kurang artinya baik dibalas baik, jahat pun akan dibalas jahat. Bila kita tidak ingin hal yang tidak kita inginkan malah berbuntut delapan, maka kita juga tidak harus melakukan hal yang sama. Jangan salah menghakimi karena kita tidak menyukai sesuatu dari orang lain. Saya rasa selalu ada sisi baik yang hidup di dalam setiap manusia.
Kadang dalam level tertentu, kritikus paling jujur adalah orang lain. Memang, kita kerap menemukan kritik yang tidak sesuai dengan harapan—saya harus katakan demikian agar kau bisa membedakan mana yang tidak membangun, dengan mana yang sebenarnya tak perlu kau dengar—namun mau menilik ke dalam pribadi masing-masing lalu mengakui kesalahan adalah hal yang terpuji. Demikianlah, akhirnya kita bisa memperbaiki diri bila memang ada yang tidak baik pada diri kita. Hal ini akan membuat seseorang maju, lamban laun menjadi pribadi yang lebih baik.
Kita tidak bisa menghindar terus menerus. Ada kalanya kita harus duduk satu bangku bersama rasa ingin tahu orang-orang sekitar. Tersenyum bukan berarti menghindar. Saya rasa, itulah gestur yang paling tepat dilakukan untuk menunjukkan keramahan—bahkan ketidaknyamanan. Tersenyumlah, tunjukkan dengan jujur apa yang kamu rasakan melalui ini. Bila lawan bicaramu memahamimu, maka ia akan berhenti. Bila memang lawan bicaramu terus mengungkit hal yang justru, tak ada kesalahan disitu, maka tetaplah tenang. Sampai batas ini, berarti kesalahan tidak datang dari dirimu.
Bila kamu sudah berada pada bagian yang benar, maka ini satu-satunya tempat untuk melarikan diri. Bending without breaking. Saya tidak memintamu untuk menutup telinga. Biarkan opini tentangmu membangunkanmu. Lebih baik kamu fokus ke arah lebih baik. Seorang penulis lebih baik untuk terus menulis. Seorang pencipta lagu akan lebih baik menelurkan karya yang lebih berkualitas. Seorang pemain musik akan lebih baik bila menghabiskan waktunya lebih banyak dengan berlatih. Kali ini, tanpa mengurangi semangat, lakukan dengan penuh syukur. Selanjutnya, perjuangan tidak akan mengkhianati hasilnya.
Saya tidak pernah tahu apakah keputusan-keputusan saya dalam kehidupan ini sudah benar, atau bahkan hanya buang-buang waktu saja. Apakah saya akan menemukan yang ingin saya dapatkan, atau saya akan kehilangan lebih besar lagi, saya tak tahu. Tetapi saya selalu yakin dengan segala keputusan saya. Seperti yang dikatakan tadi. Kita hanyalah manusia, yang pasti akan jatuh. Menjadikan opini sumbang orang lain sebagai angin, dapatlah saya jadikan keberuntungan saya sebagai manusia—kau tidak perlu berharap terbang tinggi-tinggi, kecuali agar perjalananmu jauh dan kau bisa belajar sebanyak-banyaknya dari itu.