Ketika saya mendengar kabar bahwa seseorang meninggal dunia karena percobaan bunuh dirinya, saya tidak bertanya mengapa. Bukan karena tidak peduli. Saya justru remuk. Lebih kepada, rasa - rasanya saya meresap perasaannya semasa hidup. Betapa kesepian. Betapa terkuras pikirannya. Betapa menyesakkan ketika ia harus mengutarakan kesedihan. Betapa tidak berdayanya dia, dalam hampir semua kondisi. Betapa orang lain tidak seratus persen peduli--dan tentu meski kita meminta itu, jarang ada yang memberikannya secara total--dan betapa itu ternyata tidak jadi soal utama, sehingga ia masih merayap kemana - mana, mencari penyebab pertama mengapa ia merasa hancur, sesuatu yang masih tanda tanya bahkan untuk dirinya sendiri.
Perasaan seperti itu tertular begitu saja, mau kenal atau tidak. Saya merasakannya dalam hati saya, tidak seperti, rasanya saya bisa memahami permasalahannya begitu saja, memukul rata perasaannya dengan milik saya (karena level support setiap orang berbeda), ingin memberikan sesuatu namun tidak mampu dan itu sudah terlambat. Saya memikirkan kesedihan saya sendiri, menjaganya agar tidak menjadi besar, lalu saya akan merasakan malu dan marah yang luar biasa terhadap kebenaran manusia, meski saya sendiri adalah manusia, temtang, betapa miskinnya pikiran kita.
Kita adalah korban dari diri kita sendiri. Semua berperan. Mengakhiri hidup tentu bukan pilihan dan tidak disarankan, namun kita harus membaca lebih cermat. Seseorang memutuskan bunuh diri bukan karena ia habis akal. Ia seseorang yang butuh dikasihi, bukan dikasihani. Ia butuh dimengerti, bukan diberikan segala macam definisi atau pengertian. Kepergiannya adalah kegagalan bagi semua orang, yang ia bawa justru untuk menghapus dirinya sendiri sebagai aib bagi orang lain. Memperoleh kematian semacam ini tak pernah diharapkan oleh siapapun--baik baginya dan orang terdekatnya. Siapapun yang menyalahkan orang yang meninggal bunuh diri dengan, membodoh - bodohkannya, adalah orang yang sedang membicarakan dirinya sendiri.
Sementara baginya (atau siapapun yang tengah putus asa), semoga ia tak berhenti sejenak untuk menyerah. Orang memang harus, sesekali, merenungkan kematiannya sendiri. Namun itu hanya untuk alasan yang jelas--setelah memahami itu kita jadi sadar kalau kebutuhan perut bukan satu - satunya bahan di dunia ini yang jadi perdebatan. Rasa sepi jauh lebih membunuh. Obatnya hanya satu--turut hadir dalam kehidupan orang lain, atau mengubahnya menjadi sesuatu.
Oleh karena itulah, saya menulis. Saya ingin hidup bersama pikiran itu. Saya ingin hidup dengan benar. Perasaan untuk mati bisa menyergap sewaktu - waktu, dan saya harus mampu menjadi tuannya. Menulis membuat saya mampu mengolahnya, agar tidak melalui batas yang tidak dibutuhkan. Menulis membuat saya jadi mencintai diri sendiri, meski kadang harus melalui sesuatu yang lain dulu. Betapa itu membutuhkan perjuangan. Namun saya terselamatkan, berkali - kali, karena mencintai proses lebih dari apapun.
Yang pergi mendahului, semoga ia tak merasakan sakit lagi. Yang tinggal, semoga mampu merasa. Tidak ada yang jauh lebih bermakna untuk kita lakukan di dunia ini selain saling melindungi.