Masa paling sulit adalah tahun-tahun politik, menurut saya. Setiap pemilihan, ada saja sepupu yang mengajukan diri menjadi wakil rakyat tingkat daerah, dengan berbagai alasan yang penting sampai nyeleneh--bagian ini cukup menguras emosi karena saya harus membuka telinga sambil makan hati--belum lagi menghadapi saudara lain yang beda pilihan politik, dan menyambungkan berbagai teorinya dengan agama atau disiplin ilmu lain di kumpul-kumpul keluarga. Sebagian besar, bila kita tidak mampu menampung ego atas pilihan yang menurut kita paling benar, keadaan bisa mengubah kawan jadi lawan, dari sedarah jadi masalah. Perbedaan pendapat menyoal siapa yang pantas duduk jadi petinggi negara membuat tahun politik, terutama untuk saya, jadi tahun wabah yang butuh kecerdasan buat menyikapinya.
Beda pilihan boleh, tapi kamu harus sadar kalau perspektif tidak hanya berasal dari bola matamu sendiri. Begitulah juga, yang digambarkan dari buku milik Putu Wijaya ini. Tokoh Amat dan keluarganya adalah contoh negara kecil yang terbuka, memiliki kebebasan berpendapat, dan di antara kelebat ceritanya condong membahas tema-tema sosial. Cerita-ceritanya sederhana, remeh, sering dipinggirkan, padahal dekat dengan kehidupan sehari-hari. Kesatiran cerita dibangun dari pola pikir dan percakapan tokoh yang terbilang berat. Bayangkan, kadang percakapan mereka yang berisi itu cuma dilakukan di warung kopi dan meja makan.
Saya cinta tokoh Amat dan keluarganya ini--tanpa terkecuali saya juga mencintai keluarga saya yang selalu terbuka perihal opini. Mereka lugu, dan dalam keluguan itu justru pembaca akan menemukan jawaban yang berbeda pada masing-masing masalah. Salah satu cerita yang membekas di kepala saya (kompatibel sekali dengan atmosfer Indonesia saat ini) berjudul musuh. Kita memandang musuh dari berbagai hal yang berseberangan, bukan? Padahal justru, kerugian tak ayal dekat dengan siapapun yang memulai api. Namun ada cara paling ampuh untuk meluruhkannya, ternyata. Yaitu dengan mau menjadi pihak yang kalah.
Cerita-cerita apik ini merupakan kliping dari rubrik langganan penulis di Harian Bali Post. Ada ratusan judul yang dipublikasikan dalam rentang tahun 2000-2002 di dalamnya. Singkat dan tepat sasaran adalah alasan mengapa buku ini menjadi kawan minum teh saya. Setidaknya membaca ini menjadi salah satu cara kita untuk berhenti dari pemujaan, mencoba untuk meresapi hal-hal subtil sampai akar. Atau bolehlah saya katakan begini--tahun politik boleh jadi rusuh, berantakan, goro-goro, asal kamu jangan sampai kehilangan kewarasanmu sendiri. Menjadi kalah bukan berarti kamu berada di bawah orang lain. Menjadi kalah adalah menanggapi hal-hal dengan logis, santai, mungkin, tersenyum ramah sedikit, mengatupkan mulut sembari sadar untuk selalu memperbanyak ilmu. Dengan begitu, kamu akan tahu kapan waktu yang tepat untuk berbicara.