Telaga dan Kisah Peramu Warna (bagian akhir)
Nusaindah, Ayahnya, Jingga, dan Grey berada di dalam mobil Jeep. Mereka segera menuju rumah Nusaindah untuk menyelamatkan bunda yang terkurung di dalam lemari kayu ruang jahit. Benang putih dari lemari kayu sudah sempurna berkilau dan siap untuk diserahkan kepada yang pemilik. Nusaindah masih memperhatikan kilau yang terpancar pada benang putih yang ia ambil dari lemari. Takjub. Sesekali ia membuka sedikit bagian dari tas yang tidak tertutup rapat itu.
“Setiap peramu warna punya caranya masing-masing dalam proses mewarnai langit di telaganya,” Jingga memuai dialog dalam Jeep. Kini Nusaindah menoleh ke arah suara dan memeperhatikan.
“Bundamu memilih benang itu sebagai medianya karena ia sangat menyukai dunia menjahit. Semua karyanya dari pilinan kain sangat indah. Tante juga suka pesan baju hasil jahitan bundamu,” Jingga menjelaskan.
“Lalu, Tante jingga meramu warna dengan apa?” Nusaindah bertanya.
“Klue-nya pekerjaan, Nusa,” Grey yang duduk di depan samping kemudi milik ayah Nusaindah menenggok kea rah belakang sambil tersenyum.
“Pekerjaan? Ilmuan? Tante pakai tabung reaksi?” Nusa menjawab dengan pertanyaan yang ia sendiri tak yakin.
“Iya, betul sekali. Setiap peramu warna menjalankan tugasnya dengan tetap melakukan hal yang mereka sukai. Termasuk Tante Jingga. Ia tetap menjaga telaga dan menjadi ilmuan seperti mimpinya,” Ayah Nusaindah ikut menimpali percakapan.
“Suatu hari, saat Nusaindah menjadi peramu warna, kamu tetap bisa melakukan hal yang kamu suka dan sangat ingin terus kamu lakukan. Nusa ingin melakukan apa saat nanti jadi peramu warna?” Jingga menoleh kea rah Nusaindah dengan senyum terbaik.
“Aku bakal jadi peramu warna?” Nusaindah bingung.
“Iya, setiap anak perempuan dari peramu warna akan meneruskan jejak ibunya. Suatu hari, Nusaindah akan menemukan telaga yang harus dijaga. Sekarang pikirkan dulu dengan media apa Nusa akan meramu warna. Apa Nusa juga suka menjahit seperti bunda?” Jingga menambah bingung Nusaindah sekarang.
“Tidak perlu dipikirkan sekarang maksud Tante Jingga. Nusa hanya perlu jadi diri sendiri. Menjadi apapun yang Nusa mau tidak akan menggangu tugas menjadi peramu warna,” Grey memberi semangat Nusaindah yang sedang mengaruk kepala.
Hutan di belakang rumah Nusaindah masih dipenuhi warna gelap. Bunda Nusaindah yang sudah terkurung berjam-jam dalam lemari kayu butuh dibantu. Kali ini rombongan yang dibawa ayah Nusaindah akan membantu mengeluarkannya.
“Apa yang terjadi jika awan hitam dan langit yang gelap tidak segera dihilangkan, Tante Jingga?” Nusaindah menatap jendela kaca mobil dan melihat genangan air hitam di jalanan. Air hujan berwarna hitam sudah memenuhi setiap jengkal dataran.
“Peramu warna bisa melihat hujan yang turun ini sebagai warna hitam, sedang orang normal hanya melihatnya sebagai hujan. Tinta hitam yang jatuh ini akan memenuhi sebagian besar hutan, ia merubah hewan menjadi lebih buas, tanah menjadi lebih anyir dan lembab. Ada banyak kemungkinan yang terjadi karena tinta hitam dari langit pekat ini, Nusa,” Jingga menjelaskan.
“Iya. Warnanya seperti tinta,” Nusa masih menatap ruas jalan dari kaca.
“Sejak kapan Nusa bisa melihatnya?” Jingga kaget.
“Sejak saat ayah mengajak Nusa lari dari telaga, tepat saat warna-warni telaga mulai menghitam dan langit penuh mendung. Air yang turun jadi hitam,” Nusaindah menjelaskan.
Memasuki rumah, empat orang itu saling pandang di depan ruang jahit Bunda Nusaindah. Grey dan Ayah Nusaindah mengangguk memahami situasi dan keputusan yang akan diambil Jingga. Ya, kali ini kuncinya adalah Jingga. Ia membawa tas dengan benang berkilau. Lalu memastikan suatu hal. Ia diam sejenak.
“Ardi, aku sepertinya harus membawa Nusa masuk. Meski pada kasusku dan Lila, kami harus berada di usia di atas dua puluh tahun untuk menjadi peramu warna. Tapi kurasa Nusa berhak masuk,” Jingga meyakinkan dengan lekas mengenggam tangan Nusaindah.
Jingga masuk ke dalam ruang jahit milik sahabat karibnya. Nusaindah mengekor di belakang Jingga, lalu menghadap ayahnya sekejab dan melambaikan tangan. Pintu tertutup. Tak ada yang lain dari ruangan yang tadi sudah Nusaindah masuki dengan ayahnya. Namun, ini akan menjadi pengalaman pertama Nusaindah masuk ke ruang peramu warna. Jingga meraih gagang lemari kayu, ia mengengerakkan tangannya seperti kibasan ekor cendrawasih. Sedikit kemilau keluar dari gangang yang Jingga sentuh. Kini, pintu lemari ia dorong perlahan.
Nusaindah terkesima dengan isi lemari, bukan tumpukan baju-baju seperti pada umumnya isi lemari yang ia tahu. Ada sebuah padang rumput dan bunga yang luas di sebuah bukit. Langit di sana punya dua gradasi warna. Pertama tepat di atas siluet seseorang ada garis aurora yang berwarna ungu tua dan muda, di sisi lain sudah hampir dipenuhi oleh langit yang gelap. Nusaindah tahu siapa siluet yang ia lihat, seorang wanita yang dinaungi warna ungu itu adalah bundanya. Warna ungu mungkin sedang melindungi nama pemilik warnanya, Lila Magenta.
Jingga berlari menuju bunda Nusaindah. Ia bergegas memberikan tas yang isinya sangat dibutuhkan. Bunda Nusaindah memeluk Jingga erat, ia berbisik untuk rasa terima kasih. Jingga membantu menyiapkan benang. Bunda Nusaindah mengusap tanah di depannya, sebuah kolam kecil muncul di permukaan. Pancaran air dalam kolam berubah menjadi alat pemintal kain, jemari Bunda Nusaindah mengurai setiap lembar benang berkilau ke dalamnya. Setiap benang berkilau yang berwarna putih itu berubah warna saat disentuh oleh Bunda Nusaindah. Butuh waktu lama untuk meramu warna. Jingga mundur, memandu Nusaindah yang masih terkesima di depan pintu masuk mereka datang tadi.
Sambil menjelaskan semua situasi yang dilihat Nusaindah, Jingga menuju arah proses peramuan warna yang sedang dilakukan oleh Bunda Nusaindah. Apa yang dilihat Nusaindah akan menjadi pengalam pertama dan mula dari petuangannya menjadi peramu warna baru. Dipandangnya sang bunda yang terus menyusun benang berkilau dari tangannya. Kecepatan tangan bundanya seperti tarian kupu-kupu di atas bunga. Waktu berjalan, langit berwarna gradasi ungu di atas mereka mulai berarak menutupi langit warna hitam. Tampilan warna yang Nusaindah lihat kini seperti Aurora yang sempurna berkilau.
Bunda Nusaindah menyelesaikan tugas meramu warna dengan kelegaan. Ia membuang nafas panjang lalu berdiri. Segera memeluk Nusaindah yang terus memeperhatikan. Jingga ikut memeluk ibu dan anak yang ada di depannya. Tidak ada kata yang terucap dari keduanya. Mereka bergegas keluar menuju pintu kayu di bawah bukit.
Suasana di luar sudah cerah. Langit hitam sudah berganti senja yang berwana ungu muda. Grey dan Ayah Nusaindah yang menunggu di pelatar rumah bergegas masuk dan menyambut tiga perempuan yang keluar dari ruang jahit. Nusaindah berlari ke arah kamarnya.
“Aku ingin meramu warna dengan menjadi pelukis, Bun,” Nusaindah kembali ke hadapan empat orang dewasa dengan menjinjing kanvas dan sebuah kuas. Semua menatap gadis empat belas tahun itu dengan senyum.










