“Ya Allah, berkahilah umatku di waktu paginya”.
-HR. Abu Daud-
Aku terburu-buru menyelesaikan sarapan pagiku hari itu. Seperti hari-hariku sebelumnya; sarapan pagiku senantiasa berupa nasi putih dan tahu-tempe goreng hangat; kadang disertai sambal kacang atau sambal kecap. Semuanya dimasak oleh ibu dan sangat uueenak!. Kira-kira apa yang membuatnya enak? Cinta? Hm….benar, tapi semua menjadi enak ketika ada syukur dan tafakur disana. Syukur karena masih ada rizki yang dimakan dan tafakur betapa cara Allah mengirimkan rizkinya sungguh menakjubkan. Kedelai dari tahu dan tempe mungkin saja dari Malang atau kota lainnya, garam yang mengasinkannya mungkin saja dari Samudera Hindia, cabainya mungkin saja dari Lumajang atau sekitarannya, lalu ujug-ujug kesemuanya dibertemukan dalam sajian yang tinggal kita makan. “Menakjubkan sekali cara Allah untuk mengirimkan rizkinya, bukan ?.”
Jam dinding di rumah sudah menunjukkan pukul 6 pagi. Bergegas kupakai jaket berbahan drill warna hitam dan tas ransel-ku yang juga berwarna hitam, dengan buru-buru pula kupakai pantoefl hitam-ku. Akupun segera melangkahkan kaki menuju motorku di halaman depan. Sambil berpamitan, kucium tangan ibuku seraya kukatakan bahwa hari ini aku baru akan pulang ke rumah menjelang sore hari seperti biasanya. Sepanjang perjalanan, sejuknya udara pagi yang masih menyisakan dinginnya begitu kunikmati. Ya, kendati sudah menjadi kota metropolitan dan mungkin megapolitan; Surabaya masih menyisakan beberapa bagiannya untuk hehijauan yang ketika pagi turut menyejukkan. “Ah…sungguh, seharusnya pembangunan sebuah kota harus seperti ini”, gumamku. Kota yang manusiawi dan memanusiakan manusia. Kota yang tak melupakan aspek kesehatan raga juga jiwa, karena kebahagiaan juga berhulu pada kesehatan. Sembari memikirkan banyak hal di kepala, kupacu motorku dengan tenang dan dengan kecepatan yang konstan. Berangkat pagi juga merupakan bentuk penerapan efisiensi yang cukup ampuh menurutku, karena dengan berangkat lebih pagi jalanan masih sepi dan jumlah bahan bakar fosil yang dikonversi menjadi energi jauh lebih sedikit dibandingkan dengan bahan bakar fosil yang dibakar saat terjebak kemacetan. Sederhananya, berangkat lebih pagi berarti lebih sehat dan lebih hemat.
Jarum jam di arloji yang melingkar di tangan kiriku menunjukkan pukul 6.35 pagi saat aku memarkir motorku di area parkir Masjid Al Falah di Surabaya. Kendati masih cukup pagi, suasana di sekitar masjid sudah cukup ramai. Terlihat beberapa orang tua yang mengantarkan putera-puteri mereka yang bersekolah di SD Al Falah yang bersebelahan dengan masjid. Beberapa mobil yang menurunkan penumpang kecilnya tersebut membuat ruas jalan yang tak begitu lebar itupun mulai sedikit padat. Kepadatan itu semakin bertambah dengan beberapa bapak-ibu paruh baya yang juga memulai aktivitas kursus baca Al Quran di Masjid Al Falah.
Aku duduk sejenak mengamati aktivitas tersebut, dalam hati aku mencoba meresapi salah satu sabda nabi. Beliau bersabda, (dan berdoa) “ya Allah berkahilah umatku di pagi hari”. Ya, bagi seorang muslim, waktu pagi merupakan waktu yang sangat berharga dan penuh berkah. Bagi seorang muslim, bicara waktu pagi tentu dimulai saat fajar mulai akan merekah atau menyingsing. Oleh karena itu, shalat sunnah fajr menjadi salahsatu shalat sunnah yang sangat dianjurkan. Bahkan dua rakaat-nya lebih bernilai daripada dunia dan seisinya menurut sabda Nabi Shalallahu’Alaihi Wassalam dalam sabda Beliau yang lain.
Sungguh waktu pagi benar-benar menjadi waktu yang krusial;. Aktivitas yang dilakukan banyak, tapi waktunya sedikit. Beruntung sekali, dalam islam telah diwajibkan shalat shubuh sehingga sejak kecil secara tanpa sadari, tubuh kita sudah “terbiasa” untuk bangun pagi dan melakukan banyak sekali aktivitas di pagi hari. Memikirkan hal ini, aku jadi teringat ibuku di rumah yang terbiasa bangun pagi, shalat shubuh, menanak nasi, menyiapkan sarapan pagi bagi semua anggota keluarga. Pantas saja, Islam mengganjar jerih payah seorang ibu dengan qiyas bahwa surga ada di bawah telapak kakinya. Semoga ibuku menjadi salahsatunya. Doaku diiringi senyum harap penuh cinta.
Setelah duduk-duduk sebentar, aku membuka ranselku dan kukeluarkan sebuah notes kecil berwarna biru langit. Notes itu merupakan buku catatanku yang berisi to do list hari ini. Aku memperhatikan dengan seksama, things I have to do hari ini. Hari ini aku akan melanjutkan skripsiku yang sudah sampai di bab 4 atau pembahasan. Aktivitas ini rencananya akan aku mulai dengan membaca kembali jurnal-jurnal yang telah aku print sebelumnya serta mencatat poin-poin penting di dalamnya mulai pukul 8.30 pagi hingga pukul 10 pagi. Lalu pada jam 10 pagi, istirahat sebentar dengan membaca koran edisi hari ini dan beberapa halaman majalah National Geographic hingga pukul 10.30.
Jam 10.30 aku akan mulai menyusun beberapa paragraf dalam pembahasan hingga pukul 11.30. Jam 11.30 aku akan istirahat-shalat dan makan siang hingga pukul 12.30. Pukul 12.30 aku akan kembali melanjutkan pengerjaan skripsi hingga pukul 14.30-sedikit lebih panjang karena kemungkinan setelah shalat dan makan siang, aku pasti akan terkantuk-kantuk dan sulit sekali mengerjakan skripsi dengan kondisi seperti itu. Jika kantuk itu sudah tidak dapat dikompromi, aku biasanya menyempatkan diri terlelap sebentar di meja tempat aku mengerjakan skripsiku. “Tidur siang sejenak juga termasuk sunnah Rasulullah juga kan”, hiburku. Pukul 14.30 aku akan menyudahi aktivitas mengerjakan skripsiku dengan kembali membaca ulang bab 1 hingga bab 3 sampai pukul 14.45. Pukul 14.45 aku akan berkemas, shalat ashar dan pulang ke rumah.
Aku mengatur jadwalku di semester akhir kuliah ini dengan penuh kehati-hatian dan presisi, karena jika tidak aku akan terlambat pulang ke rumah berbarengan dengan para pekerja yang pulang dari tempat bekerja mereka. Itu sama saja dengan aku akan terjebak kemacetan yang cukup parah, menguras stamina, sehingga sampai di rumah aku tidak dalam kondisi prima untuk menunaikan shalat maghrib dilanjut tilawah. Itu juga akan mengurangi fokusku dalam meneruskan pengerjaan skripsiku di rumah.
“Bismillahirrahmanirahim, semoga diberi kekuatan dan diberi kemudahan oleh Allah”, senandungku dalam sebaris doa lalu bergegas menuju tempat wudhu.