Di sini tengah hujan. Bagaimana di sana? Hujan juga kah? Kau tahu, hujan selalu membawa berjuta cerita. Cerita yang dimulai dari proses penguapan entah berapa kubik air di permukaan bumi, terkondensasai, lalu kembali tumpah membasahi, mengalir melalui selokan-selokan kotor, atau berakhir di parit-parit sawah petani, atau juga langsung menyatu, bermuara bersama gelombang air laut. Tak ada yang peduli, bukan? Siklus terulang, lagi dan lagi. Bahkan ada yang mengutuk hujan. Betapa bodohnya mereka yang mencaci maki hujan. Siapa yang salah kalau hujan kadang merenggut nikmat sehat dari tubuh-tubuh mereka? Siapa yang pantas dihujat kalau terkadang hujan membawa bencana? Padahal hujan merupakan anugerah dari-Nya, dan menjadi waktu dikabulkannya doa-doa.
Hujan, di sini atau di sana, selalu hadir membawa cerita. Titik-titiknya yang bernyanyi bersama dedaunan. Bernyanyi soal miliaran cerita tentang umat manusia. Kita hanya salah satu di antara mereka. Hujan yang membasahi pelepah-pelepah pohon kelapa sawit milik kita, atau hujan yang larut bersama kawan-kawannya di kolam makara, pun yang membuat kita diizinkan untuk shalat di asrama saja dan tidak perlu berbaris ke sekolah. Ah, mereka sama saja. Sama-sama hujan
Hujan, biarlah ia menjadi penghubung antara kau dan aku, kita. Karena dimana-mana, hujan tetap berupa hidrogen dan oksigen, yang melarutkan unsur-unsur lain bersamanya. Hujan, yang mampu menceritakan apa-apa yang tak terungkapkan oleh kata-kata. Biarlah hujan tau kalau aku rindu saat-saat itu. Saat kita merajut ukhuwah tanpa ragu. Sungguh, biarlah hujan tau kalau aku sedang rindu. Apakah kau juga rindu? Semoga hujan menyampaikan pesan ini padamu. Di sini atau di sana.