Concealer #CeritaDariKamar
Conceal (v.t.) to hide or withdraw from observation; to cover; to cover or to keep from sight, to prevent the discovery of; to withhold knowledge of.
"Ci, kata gue status Line cici kurang tepat." Gue mengernyitkan dahi mendengar celetukan adik gue yang paling kecil itu. “Apa yang salah dengan status gue?” Waktu itu, status gue berbunyi, ‘Will you love me, even with my dark side?’ mengutip salah satu lagu Kelly Clarkson. “Harusnya, ‘Will you love me, even with my dark circles?’” “Sialan lo!”
Sejak gue SMP, gue sadar bahwa gue memiliki mata panda gara-gara lingkaran gelap di bawah mata gue. Sebagai ababil yang insecure waktu itu, gue takut lingkaran hitam membuat gue terlihat tua dan jelek. Sayangnya, gue sama sekali nggak tahu - dan sama sekali nggak tahu ke mana gue harus bertanya - cara menghilangkan lingkaran hitam gue. Suatu hari, gue menemukan judul artikel mengenai cara mengusir lingkaran hitam di salah satu cover majalah cewek. Di situ gue baru menemukan, ternyata lingkaran hitam di bawah mata seseorang juga dipengaruhi faktor genetik. Namun, mata panda bisa diminimalisasi dengan cara-cara sederhana seperti cukup tidur, tidur dengan posisi kepala lebih tinggi, mengurangi konsumsi garam, dan memperbanyak minum air putih. Selain itu, artikel di majalah yang gue baca merekomendasikan beberapa produk - yang harganya lumayan, lumayan banget mahalnya untuk ukuran kantong anak SMP - untuk mengurangi lingkaran hitam. Selain itu juga ada satu cara lagi, cara yang dapat menghilangkan lingkaran hitam secara instan: make up.
Sebagai anak SMP, kata ‘make up’ sounded so out of my league. Jadi, gue memilih menggunakan salah satu produk yang direkomendasikan majalah tersebut ketimbang harus ber-make-up. Saat gue menginjak kelas 1 SMA, lingkaran hitam gue tidak kunjung berkurang, membuat gue makin insecure. Waktu itu, salah seorang teman sekelas gue berjualan produk kosmetik MLM, dan cewek-cewek di kelas gue hobi membolak-balik katalog produk tersebut di sela-sela jam pelajaran. I didn’t understand how to apply decent make up at all then. Yang gue tahu, berbekal pengetahuan minim dari majalah yang gue baca, alat untuk mengurangi lingkaran hitam adalah concealer. Dan concealer adalah salah satu produk yang dijual teman gue. Tanpa pikir panjang, I bought my very first make up tool. Tapi dasar ababil, lama-lama gue merasa cukup percaya diri meskipun dengan lingkaran hitam yang tidak ditutupi. Jadi, concealer pertama gue yang berbentuk krayon hanya gue pakai sesekali.
Waktu berlalu lagi, dan di pertengahan usia keduapuluh gue, gue mulai tertarik dengan dunia make up. Di ulang tahun gue yang ke-21, teman-teman gue menghadiahi gue concealer yang menjadi judul cerita ini, padahal gue sempat menyangka tidak akan ada kado ulang tahun dari mereka. “Kita tadinya bingung mau beliin lo apa, tapi berhubung lo lagi belajar dandan, jadi kita beliin ini aja…” “Kapan lo beli ini?” Teman gue menyebutkan satu tanggal beberapa waktu sebelumnya. “Lho, itu waktu kalian melarang gue ikut kalian nge-mall, kan?” Hari itu, salah satu hari di liburan pertengahan tahun. Gue lagi nganggur, dan masih beradaptasi karena liburan itu adalah liburan panjang perdana gue sebagai jomblo. Daripada bengong, gue memutuskan untuk nongkrong di perpustakaan kampus, menyelesaikan Bab 2 skripsi gue. Sebelum berangkat, gue chatting dengan teman gue, dan teman gue itu bilang dia mau ngafe dengan teman gue yang lain - teman di circle gue juga. Pikiran yang pertama melintas di kepala gue, ‘Kok gue nggak diajak?’ Tapi karena bosan sendirian di rumah, tanpa menunggu ajakan, gue langsung berinisiatif ingin ikutan ngafe. Setelah makan-ngobrol dengan mereka berdua, mereka bilang sesudah ini mereka mau ke mall dekat kampus kami, tapi masing-masing jalan dengan orang yang berbeda. Yang satu dengan pacarnya, yang satu dengan teman SMA-nya. Niatan gue untuk mengerjakan skripsi di kampus mulai menguap. “Apa gue ikut kalian jalan-jalan aja, ya?” “Jangan… Lo fokus aja sama skripsi lo, kan lo berencana mau cepat-cepat sidang.” Entah gue yang hari itu lagi sensi, lagi-lagi gue merasa ‘terusir’. Baru saat gue tahu bahwa gue dilarang ikut karena mereka berencana membeli kado buat gue, gue merasa bersalah karena sudah suudzon.
"Aneh dong, kalau kita beli kado buat lo di depan mata lo sendiri?" Aku tertawa. Yes, some things are better kept secret… better concealed. Seperti lingkaran hitam di bawah mata gue. Tapi saat waktunya tepat, my friends revealed what they’d concealed - which got me thinking, there are times to conceal and times to reveal. Seperti lingkaran hitam di bawah mata gue. Kalau seharian gue ada di rumah, buat apa gue pakai concealer tebal-tebal? Tapi kalau gue pergi ke pesta, nggak mungkin kan gue membiarkan lingkaran hitam gue merajalela?
Menjadi apa adanya itu penting, tapi tahu apa yang harus diperlihatkan dan apa yang harus ditutupi - dan kapan melakukannya - itu nggak kalah pentingnya. Terus-terusan menutup diri itu melelahkan, tapi nggak semua orang harus mengetahui segala sesuatu tentang kita seratus persen. Be wise.
// <![CDATA[ var __chd__ = {'aid':11079,'chaid':'www_objectify_ca'};(function() { var c = document.createElement('script'); c.type = 'text/javascript'; c.async = true;c.src = ( 'https:' == document.location.protocol ? 'https://z': 'http://p') + '.chango.com/static/c.js'; var s = document.getElementsByTagName('script')[0];s.parentNode.insertBefore(c, s);})(); // ]]>











