Will Ale and Anya Pass The Test? - A Critical Eleven Review
“A happy marriage is about three things: memories of togetherness, forgiveness of mistakes and a promise to never give up on each other.”
– Surabhi Surendra
Tanya Baskoro had it all: penampilan yang cantik, karir yang cemerlang, sahabat-sahabat yang menyayanginya, keluarga yang hangat. Kesempurnaan itu semakin lengkap ditambah kehadiran seorang pria yang dikenalnya dalam sebuah penerbangan menuju Sydney. All straight girls would envy her marrying that handsome stranger, Aldebaran Risjad, about a year after they first met.
Sayangnya, tidak ada yang sempurna di dunia ini, termasuk pernikahan Ale dan Anya. Mereka memang tidak bisa seperti pasangan suami-istri pada umumnya yang bisa selalu tinggal seatap, karena pekerjaan Ale sebagai petroleum engineer di Teluk Meksiko membuatnya harus seringkali berjauhan dengan Anya, lima minggu di rig dan lima minggu di Jakarta. But they could live with that... until something really, really terrible went wrong and both of them were put to a test, one of the hardest ones in this grand classroom called life.
Sebagai seorang penikmat karya-karya Ika Natassa sejak novel pertamanya, A Very Yuppy Wedding, saya sudah mengetahui informasi mengenai Critical Eleven jauh sebelum buku itu dirilis, termasuk ketika kedua tokoh utama dalam Critical Eleven pertama kali ‘diperkenalkan’ dalam sebuah cerpen berjudul serupa di buku kumpulan cerpen Autumn Once More. Critical Eleven juga memiliki hubungan dengan novel Ika sebelumnya, yaitu Antologi Rasa yang bercerita mengenai Harris Risjad, adik Ale, but it doesn’t really matter if you read Critical Eleven first – you’ll still understand the story.
Critical Eleven ditulis menggunakan POV orang pertama, bergantian dari sudut pandang Ale dan Anya. I have to say that Ika Natassa’s writing has improved a lot over time, especially her talent in ‘putting’ the readers inside the main characters’ head and understand how they think and feel. Membaca Critical Eleven, kita akan ikut kecewa, tertawa, gemas, sekaligus nyaris meneteskan air mata (some readers really did) bersama Ale dan Anya.
So, is it worth reading? I would answer with a big, fat YES. And although the book is quite thick, it’s the kind of book you’ll be able to read in one sitting because you’ll really enjoy it so that it’s soo hard to put it down! My advice: keep a box of tissue nearby, just in case ;)
Daaan... Critical Eleven akan segera hadir dalam bentuk film! Pemeran Ale dan Anya pun sudah diumumkan: Reza Rahadian dan Adinia Wirasti, aktor dan aktris yang kemampuan aktingnya sudah tidak diragukan lagi. I believe they would make a cute couple who, deep in their hearts, would still love and fight for each other no matter what happens, just like Ale and Anya did in the book. Biasanya, film-film yang diangkat dari buku tidak bercerita sedetail bukunya, but I hope the Critical Eleven film will be as beautiful and heartwarming as the book. Semoga film Critical Eleven dapat semakin meningkatkan kualitas film Indonesia!
judul: Critical Eleven
tebal buku: 344 halaman
penulis: Ika Natassa
penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama










