Kita selalu punya cara untuk melepas dunia sejenak. Mengurai segala yang membuat rumit, membuat batas dar kusut yang tak kunjung surut.
Kita selalu punya cara untuk membuat lekuk simetris pada wajah, bagaimanapun caranya, apapun bentuknya.

seen from United Kingdom
seen from Yemen

seen from New Zealand

seen from Malaysia
seen from Germany
seen from China
seen from Portugal
seen from China
seen from Japan
seen from United Kingdom
seen from China

seen from Singapore
seen from China

seen from Singapore
seen from Hong Kong SAR China
seen from China

seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from China
Kita selalu punya cara untuk melepas dunia sejenak. Mengurai segala yang membuat rumit, membuat batas dar kusut yang tak kunjung surut.
Kita selalu punya cara untuk membuat lekuk simetris pada wajah, bagaimanapun caranya, apapun bentuknya.
"Tanggung jawab memberi dan membuat orang bahagia bukanlah tugas kita! Iya, dan ingat ya, love language itu juga bentuk dari luka termasuk yang tadi kamu sebutkan, acts of service." kata psikolog yang aku temui kemarin.
Responku, diam sembari membatin, "Damn". Bahkan kata-kata yang berbalut cinta pun berasal dari luka.
"Dan kamu harus bisa membedakan service yang kamu berikan, apakah genuine untuk memberi dan memperlakukan orang sedemikian rupa tanpa ada intensi, bukan untuk mendapat validasi misalnya. Atau ya kamu melakukan hal-hal itu untuk mencari perhatian, untuk diperhatikan? Jika kamu melakukan service yang kamu ceritakan tadi untuk mencari perhatian, ini bagian dari luka. Karena semestinya, memberi dan membahagiakan orang juga sama dengan membahagiakan diri sendiri, bukan malah sebaliknya." lanjutnya.
Aku, diam. Makin tidak terima dengan yang disampaikan.
"Jadi, apakah sudah ada loop yang tiba-tiba muncul?"
Aku tergagap, hanya sanggup mengangguk sembari menata kalimat yang pantas untuk dikeluarkan.
"Aku bingung bagian mana yang biasanya aku lakukan Mbak, tapi kalau aku rasakan kembali, apa yang aku lakukan ya seperti biasanya aku berada di tempat baru yang aku nyaman dan aman didalamnya. Aku mengobservasi lingkungan tempatku bertumbuh sampai pada personal yang ada didalamnya. Tapi yang terakhir ini, mungkin karena aku tidak pernah didengar, diabaikan, dan ditinggalkan, kalau aku boleh mengatakan itu. Jadi ya sudah, aku tidak lagi peduli. Aku berhenti." terangku dengan nada tinggi-rendah tak teratur.
"Atau memang tempatmu bukan lagi disitu? Karena, misal seperti ini, kamu sudah melaju dan bertumbuh, tetapi ada orang-orang yang santai saja dengan hidupnya dan begitu-begitu saja. Lalu kamu ingin menarik orang itu juga?" dia memandangku sejenak sebelum melanjutkan ucapannya. "Kamu akan lelah sendiri, seperti sekarang. Tidak semua orang mau bertumbuh dan mempercepat langkah. Kamu sepertinya perlu ruang baru untuk belajar dan bertumbuh sesuai dengan kualifikasimu sekarang".
"Iya sih Mbak, dan kayaknya tidak mungkin ya seorang atasan mengatakan bahwa masalah yang sudah mengakar di kantor itu akan selesai dengan sendirinya. Sepertinya aku memang harus segera lulus dari sekolah dan tempatku belajar plus bekerja sekarang." jawabku ragu. Apakah aku bisa keluar dengan baik dari tempatku sekarang? Apa aku berani?
"Setiap orang ada masanya dan setiap masa ada orangnya. Kamu tau tentang Spiritual Awakening dalam psikologi?" aku menggeleng dan dia membuat coretan dalam kertas yang menjelaskan apa dan bagaimana spiritual awakening itu.
"Dalam spiritual awakening, hidup terbagi menjadi 2 bagian, kehidupan pertama dimana kamu lahir sampai kamu yang sekarang mulai menyadari semua tindakan dan perasaanmu. Kamu hidup dengan berkesadaran. Lalu saat ini, kamu sedang memulai perjalanan untuk kehidupan kedua yang memahami bahwa perasaan dan tindakan dilakukan secara sadar, tidak hanya mengedepankan ego maupun logika saja. Tapi untuk sampai pada titik ini tidak mudah, kamu akan merasakan kehampaan yang panjang karena akan ada pengosongan dari kemelekatan yang ada dalam dirimu sekarang, baik dari sisi ekonomi, relations, pekerjaan, pendidikan, bahkan dengan dirimu sendiri. Dan bisa jadi jalan yang akan kamu lalui tidak akan selalu mudah, bahkan memaksamu mengulangi tahapan-tahapannya lagi dan lagi. Remidial. Begitu terus sampai kamu bisa lulus."
Dari bagaimana dia menjelaskan dengan gamblang ditambah dengan cerita perjalanannya dalam menghadapi spiritual awakening, kepalaku menampilkan beberapa orang yang mirip dengannya. Orang-orang yang sudah membersamaiku sejak lama, hanya mereka mengajari dengan caranya sendiri.
"Jadi spiritual awakening ini bisa mengantarkan aku untuk selesai dengan diriku ya Mbak?"
"Bukan hanya selesai, tapi kamu juga akan mendapatkan banyak hal-hal baru yang akan sesuai dengan wadah baru yang kosong dan hampa tadi. Oh ya, melibatkan Tuhan dalam setiap perjalananmu ditahap ini akan banyak sekali kejutan yang membahagiakan"
Banyak sekali yang aku dapatkan dari pertemuan kemarin. Tidak hanya wejangan di atas tapi ada banyak lagi. Akan kutuliskan nanti di buku catatan pertumbuhan harianku. Dan rupanya bicara dengan orang yang sudah selesai dengan dirinya sendiri itu, menyenangkan dan membahagiakan, tidak membuat lelah juga.
Terima kasih banyak Mbak Rena, psikolog andalanku yang baru 2 kali ketemu tapi sebagian banyak masalahku menemukan jalan keluar.
In another universe, maybe, if it exists, I want anything that I know now from the earlier years before I get older. Proses menjadi dewasa tidak mudah dan menjalani hari yang stagnan juga tidak mudah. Ada harga yang harus dibayar untuk sebuah kenaikan tingkat, tidak harus dibayar dengan uang tentunya. Tapi anehnya, uang itu selalu mengikuti plus memperlancar proses. Namun hal terpenting dari proses dewasa adalah mengakui dan dengan kerelaan hati bahwa menjadi dewasa tidak selalu mudah. Bahkan untuk mengurai definisi dewasa itu sendiri rumit. Dewasa yang seperti apakah? Dewasa yang bagaimanakah?
“Dan bagaimana dunia berputar pada porosnya, setiap waktu yang mendetak milik orang-orang masih sama dengan milikku, ke arah kanan. Maksudku, meskipun sama-sama menikmati putaran bumi dan waktu yang sama, apa yang terjadi pada setiap orang berbeda. Karena setiap kita adalah tokoh utama dalam hidup kita sendiri, bukannya figuran. Dan begitulah proses mendewasa akan terus membutuhkan kerelaan hati untuk mengakui hal-hal yang bahkan tidak bisa diterima tapi kemudian membawa pada hal yang lebih baik”
Hutan Kecil Kesayangan, 21 April 2024
Episode Tantrum
Kalau lagi tantrum kayak sekarang, semuanya menjadi sangat mudah, ringan, dan bisa dikerjakan secara tepat dan cepat. Kalau sedang tantrum, jantung terlampau bersemangat pun mengejar sesuatu yang sudah menjadi urutan apa-apa yang akan dikerjakan. Kalau pas masanya tantrum segala hal menjadi sesuatu yang begitu menyenangkan. Tapi saat tantrum juga memperlebar perasaan kosong saat melakukan sesuatu.
Bingung kan? Iya. Aku saja yang mengalami sendiri kebingungan dengan fase tantrum ini. Kadang tiba-tiba sat-set, tidak berapa lama bahagia berlebihan, belum sampai satu jam sudah berubah dengan ide-ide dan kelakuan yang terlampau impulsif. Padahal sudah cukup lama masa tantrum dadakan ini mereda.
Lalu kenapa sekarang hadir lagi?
Lagi lagi aku harus mengulang rutinitas lama, membuka buku catatan tentang masa aku dititik terendah. Menahan segala hal yang bisa memacu hal buruk terjadi saat membaca catatan lama itu.
Dan yang lebih membuatku khawatir adalah setelah tantrum ini selesai munculah depresi. Padahal sudah tau polanya, sudah mengerti cara mengatasinya, pun apa-apa yang bisa memicunya hadir sudah tercatat meskipun banyak sekali tambahan-tambahan dari proses penyembuhan. Tapi tetap saja, kalau aku lengah, keduanya akan timbul tenggelam. Mengambil alih kesadaran dan apa yang akan terjadi hanya bisa kuputar ulang tanpa benar-benar kurasakan.
Jadi kalau sedang tantrum nikmati saja dan manfaatkan semangatnya. Biar kalau perasaan setelahnya muncul, setidaknya tidak ada PR yang menumpuk.
Meskipun aku tau itu tidak baik, tapi hanya itu satu-satunya hal yang bisa aku kerjakan. Karena kalau tidak punya uang, aku tidak bisa mengakomodasi obat ataupun fasilitas untuk sekedar bercerita pada profesional yang lebih mengerti.
Sudah satu tahun satu minggu sejak hal itu membuatmu seperti orang gila. Apa kabar sekarang? Semoga kamu baik-baik saja dan lebih sering tersenyum. Bagaimana kamu sekarang? Apa kepalamu masih sering berteriak sesukanya dan telingamu penuh bising yang datang entah darimana itu?
Semoga kita akan tetap baik baik saja
Terimakasih ya sudah mau bersabar, sudah menjadi kuat dan bertahan. Terimakasih juga untuk seluruh napas yang belum sempat kita rapikan di laci-laci hidup kita. Tidak hanya kepada satu tahun terakhir, tapi untuk 23 tahun ini.
Jalan kita masih panjang dan tentu saja tidak lurus dan mulus. Tidak pula selalu ada orang yang akan berjalan bersama di jalan itu. Tapi kita akan selalu sama sama ya. Saling menguatkan, mengingatkan, mengejek, atau sekedar teman bercerita.
Aahhh, rasanya waktu sangat cepat hilangnya. Eh salah, berputarnya. Sekarang aku dan kamu ada di waktu itu, saat kamu, kita seperti orang gila.
Terimakasih ya, salam untuk rayamu yang tak pernah sepi itu. Dari rayaku yang abu-abu tanpa ada apa-apa.
Isi kepalaku masih benang kusut yang akan mencipta bentuk jika aku sempat memberikan batas dan memilah titik mana yang sedang beruntung. Mereka akan lolos dari sebutan benang kusut dan melalang buana bersama imajinya yang baru.
Lalu, bagaimana dengan yang masih kusut? Tenang saja, mereka akan mendapat gilirannya sendiri meski entah kapan. Lagipula menjadi kusut tak selalu seburuk itu (jika hatimu masih lurus dan kalem)
Bogor, 25 April 2020