"Manusia tuh serem banget ya, nggak cuma bisa switch on/off emosi, ekspresi, omongan aja. Manusia bisa jadi good in-outside, but with one blink they could be the scariest creature to survie"
"Dalem beneerr, ngopi dulu ngopiii"
"Gue lagi mencoba untuk jadi Raya Golden Ways malah dicandain. Tapi bener loh, it's happened to me" demi menurunkan sebelah alis manusia kesayanganku ini, kulanjutkan apa yang tadi kubicarakan.
"Lu tau kan gue paling nggak suka jadi useless meskipun gue males. Haha. Tapi serius nih lanjutannya. Being useless dan nggak diharapkan oleh orang lain adalah ketakutan terbesar gue. Dan sekarang gue merasakan itu di kantor. Well, mungkin banyak anak baru kali ya. Yang lebih kompeten, yang lebih bisa sat set sat set, dan lebuh rajin sih pastinya dari gue."
"Lo merasa terancam?" aku mengangguk. "Dan?"
"Dan gue udah melakukan hal super egois. Jiwa berkompetisi keluar dan begonya gue lupa kalau dia keluar, ego gue untuk take opportunity in everyway, places, time will come out too."
"Elah, oportunis lo seberapa sih Ray? Gitu-gitu aja paling. It's normal for human beings. Nggak usah dipikirin banget-banget ya. We, human had our strategies to survive how bad is it, still, the definitions is survive and continue this live. Selama itu nggak akan merubah lo jadi lebih buruk, ya, sebagai temen paling deket, gue akan dukung sih Ray."
"Meskipun gue cuma sebatas jadi temen kerja aja di kantor dan nggak punya temen deket lagi?"
"Hahhahaha, thats fine. There's how we lived. Banyak kadang-kadangny."
Jadi gitu, intiny kita harus hidup bagaimanapun caranya








