"Tanggung jawab memberi dan membuat orang bahagia bukanlah tugas kita! Iya, dan ingat ya, love language itu juga bentuk dari luka termasuk yang tadi kamu sebutkan, acts of service." kata psikolog yang aku temui kemarin.
Responku, diam sembari membatin, "Damn". Bahkan kata-kata yang berbalut cinta pun berasal dari luka.
"Dan kamu harus bisa membedakan service yang kamu berikan, apakah genuine untuk memberi dan memperlakukan orang sedemikian rupa tanpa ada intensi, bukan untuk mendapat validasi misalnya. Atau ya kamu melakukan hal-hal itu untuk mencari perhatian, untuk diperhatikan? Jika kamu melakukan service yang kamu ceritakan tadi untuk mencari perhatian, ini bagian dari luka. Karena semestinya, memberi dan membahagiakan orang juga sama dengan membahagiakan diri sendiri, bukan malah sebaliknya." lanjutnya.
Aku, diam. Makin tidak terima dengan yang disampaikan.
"Jadi, apakah sudah ada loop yang tiba-tiba muncul?"
Aku tergagap, hanya sanggup mengangguk sembari menata kalimat yang pantas untuk dikeluarkan.
"Aku bingung bagian mana yang biasanya aku lakukan Mbak, tapi kalau aku rasakan kembali, apa yang aku lakukan ya seperti biasanya aku berada di tempat baru yang aku nyaman dan aman didalamnya. Aku mengobservasi lingkungan tempatku bertumbuh sampai pada personal yang ada didalamnya. Tapi yang terakhir ini, mungkin karena aku tidak pernah didengar, diabaikan, dan ditinggalkan, kalau aku boleh mengatakan itu. Jadi ya sudah, aku tidak lagi peduli. Aku berhenti." terangku dengan nada tinggi-rendah tak teratur.
"Atau memang tempatmu bukan lagi disitu? Karena, misal seperti ini, kamu sudah melaju dan bertumbuh, tetapi ada orang-orang yang santai saja dengan hidupnya dan begitu-begitu saja. Lalu kamu ingin menarik orang itu juga?" dia memandangku sejenak sebelum melanjutkan ucapannya. "Kamu akan lelah sendiri, seperti sekarang. Tidak semua orang mau bertumbuh dan mempercepat langkah. Kamu sepertinya perlu ruang baru untuk belajar dan bertumbuh sesuai dengan kualifikasimu sekarang".
"Iya sih Mbak, dan kayaknya tidak mungkin ya seorang atasan mengatakan bahwa masalah yang sudah mengakar di kantor itu akan selesai dengan sendirinya. Sepertinya aku memang harus segera lulus dari sekolah dan tempatku belajar plus bekerja sekarang." jawabku ragu. Apakah aku bisa keluar dengan baik dari tempatku sekarang? Apa aku berani?
"Setiap orang ada masanya dan setiap masa ada orangnya. Kamu tau tentang Spiritual Awakening dalam psikologi?" aku menggeleng dan dia membuat coretan dalam kertas yang menjelaskan apa dan bagaimana spiritual awakening itu.
"Dalam spiritual awakening, hidup terbagi menjadi 2 bagian, kehidupan pertama dimana kamu lahir sampai kamu yang sekarang mulai menyadari semua tindakan dan perasaanmu. Kamu hidup dengan berkesadaran. Lalu saat ini, kamu sedang memulai perjalanan untuk kehidupan kedua yang memahami bahwa perasaan dan tindakan dilakukan secara sadar, tidak hanya mengedepankan ego maupun logika saja. Tapi untuk sampai pada titik ini tidak mudah, kamu akan merasakan kehampaan yang panjang karena akan ada pengosongan dari kemelekatan yang ada dalam dirimu sekarang, baik dari sisi ekonomi, relations, pekerjaan, pendidikan, bahkan dengan dirimu sendiri. Dan bisa jadi jalan yang akan kamu lalui tidak akan selalu mudah, bahkan memaksamu mengulangi tahapan-tahapannya lagi dan lagi. Remidial. Begitu terus sampai kamu bisa lulus."
Dari bagaimana dia menjelaskan dengan gamblang ditambah dengan cerita perjalanannya dalam menghadapi spiritual awakening, kepalaku menampilkan beberapa orang yang mirip dengannya. Orang-orang yang sudah membersamaiku sejak lama, hanya mereka mengajari dengan caranya sendiri.
"Jadi spiritual awakening ini bisa mengantarkan aku untuk selesai dengan diriku ya Mbak?"
"Bukan hanya selesai, tapi kamu juga akan mendapatkan banyak hal-hal baru yang akan sesuai dengan wadah baru yang kosong dan hampa tadi. Oh ya, melibatkan Tuhan dalam setiap perjalananmu ditahap ini akan banyak sekali kejutan yang membahagiakan"
Banyak sekali yang aku dapatkan dari pertemuan kemarin. Tidak hanya wejangan di atas tapi ada banyak lagi. Akan kutuliskan nanti di buku catatan pertumbuhan harianku. Dan rupanya bicara dengan orang yang sudah selesai dengan dirinya sendiri itu, menyenangkan dan membahagiakan, tidak membuat lelah juga.
Terima kasih banyak Mbak Rena, psikolog andalanku yang baru 2 kali ketemu tapi sebagian banyak masalahku menemukan jalan keluar.