Sepulang diskusi kemarin malam, aku memutuskan untuk naik GO-Jek. Pandangan pertama bertemu sang driver, aku pikir dia adalah muda lajang. Ternyata, ayah seorang bayi mungil 14 bulan, bernama Syaqila.
Sepanjang perjalanan, sang driver sangat antusias menceritakan anak nya. Kelucuan anaknya. Seakan-akan ia hendak berkata, “Anakku lah yang paling hebat”.
Dalam beberapa kesempatan, aku selipkan saran-saran tentang pendidikan anak yang ku tahui dari seminar atau bacaan-bacaan, juga pengalaman mengasuh keponakan dan mengajar. Sang driver turut mengangguk-angguk, sepakat.
Sang driver yang sudah setahun menikah, sejak tahun lalu pada usia 23 tahun, mengungkapkan bahwa dia ingin anaknya suatu hari nanti menjadi seorang ahli kesehatan. Sampai-sampai dia dan istrinya sudah menyisihkan penghasilan kerja mereka untuk tabungan sekolah anaknya di masa mendatang. “Wah, perencanaan yang bagus”, komentar ku.
Aku yakin dia sangat mencintai anaknya, terlihat dari semangatnya yang menggebu-bara mendetail tahap demi tahap perkembangan buah hatinya itu pada ku, padahal aku bukan siapa-siapa. Bahkan menunjukkan beberapa foto anaknya, disaat kami tengah terjebak macet jalanan. “Ini lho mbak anak saya, lucu ya…? Dia yang bikin saya kadang pengen cepat-cepat pulang”, curhatnya.
Sebelum sang driver pergi setelah aku diturunkan di tempat tujuan, dia berucap “kapan-kapan saya bawa anaknya kesini biar ketemu mbak yah…..”.
Lalu aku hanya tersenyum. Lirih mengucap, “betapa beruntung anaknya, punya ayah seperti dia, menyayanginya.” Tak lama hati ku menimpali, “diluar sana, mungkin ayah ku seperti itu juga… :’) ”