"Ngedusi Yem"
Ini kisah yang benar-benar terjadi waktu umur saya sebelas tahun, kelas lima sekolah dasar. Salah satu teman kelas saya, Gunawan, memelihara ikan jenis cupang dan suka mengadu ikan-ikan tersebut. Dalam Bahasa Jawa, orang menyebut ikan cupang sebagai "iwak siem" (kata siem dilafalkan 'siyem'). Kegiatan mengadu ikan cupang disebut dengan "ngedu siem" (pelafalan : ngedu siyem).
Suatu hari, guru kelas kami Ibu Veronica, memberi kami tugas sekolah. Saya tidak ingat apa tugas yang beliau minta, yang jelas tugas tersebut melibatkan kegiatan sepulang sekolah dan beberapa teman saya tidak antusias untuk mengerjakan tugas itu, termasuk Gunawan.
Saya ingat Gunawan menimpali, "Gah, males. Mending ngedu siyem." (Tidak mau, malas. Lebih baik mengadu ikan cupang).
Sepulang sekolah, saya bermain dengan tetangga, kakak beradik namanya Ani dan Andi. Saya ceritakan kejadian di kelas sewaktu Ibu Veronica memberi tugas, termasuk celetukan Gunawan "Gah, males. Mending ngedu siyem" tadi.
Setelah tertawa sebentar, Ani kemudian bertanya.
"Yem kuwi sapa?" ('Yem' itu siapa, sih?")
Saya bingung. "Hah? Piye maksude?" ("Gimana maksudnya?")
"Kan kowe mau ngomong, Ngedusi Yem." ("kan kamu tadi bilang mandiin Yem.")
Saya diam sejenak, kemudian tuing! saya paham.
"Owalah, Ngedu Siyem! Dolanan iwak sing isa tarung iku lho." ("Walah, maksudnya ngadu siem, ngadu ikan cupang. Ikan yang bisa berkelahi itu lho.")
Ani pun paham. "Aku krungune 'ngedusi yem' makane aku takon Yem kuwi sapa. Apa adhine, apa tanggane." (Aku dengernya ngedusi yem / mandiin yem, makanya aku tanya Yem itu siapa. Apakah adiknya atau tetangganya.")
Sampai sekarang ketika ingat kejadian ini saya pasti tersenyum-senyum sendiri. Sepele, tapi menggelikan. Dua frasa yang sama, hanya berbeda persepsi soal pemenggalan suku kata tapi maknanya jadi jauh sekali. 😁
Ngedu Siyem mengadu ikan cupang, dan Ngedusi Yem, mandiin Yem.
Saya nggak kebayang teman saya Gunawan, yang urakan dan bandel sedang memandikan Yem yang entah siapa itu. 😁














