Katanya, setiap orang akan melewati fase semacam ini, fase di mana banyak hal terasa gamang. Ragu terhadap keputusan yang hendak diambil. Mempertanyakan arah yang sedang dijalani. Bimbang antara melanjutkan atau menunda, antara bertahan atau mengubah arah. Ada saat di mana logika mulai lelah menyusun alasan, sementara hati belum cukup kuat untuk menguatkan langkah. Dan di titik itu, satu pertanyaan yang paling sering muncul adalah: "Apa yang sebenarnya membuat saya yakin untuk terus melangkah?" Jika melihat ke belakang, sebagian besar hal yang membawa saya ke titik ini pun tidak semuanya bisa dijelaskan dengan nalar. Banyak keputusan yang saya ambil bukan karena perhitungan yang sempurna, tapi karena didorong oleh dorongan hati yang terasa benar saat itu. Banyak peristiwa yang datang begitu saja di luar rencana, di luar perkiraan namun perlahan membentuk jalan yang tepat.
Dan di tengah semua keraguan itu, saya belajar untuk kembali mengingat bahwa yang memperjalankan langkah ini sejak awal adalah Allah. Yang membuka jalan, mempertemukan dengan orang-orang yang menguatkan, dan menyelipkan petunjuk lewat percakapan sederhana atau momen kecil yang tak terduga. Mungkin yang dibutuhkan bukan keyakinan besar, tapi kesadaran kecil bahwa setiap langkah ini diizinkan oleh-Nya. Dan kalau sejauh ini pun saya masih dituntun, mengapa harus meragukan-Nya di langkah yang berikutnya? Sering kali bukan jawabannya yang belum datang, tapi hati yang belum cukup tenang untuk menerimanya. Maka saya memilih menenangkan diri. Meluruskan kembali niat. Dan menyerahkan sisanya pada-Nya. Saya percaya, Allah tak pernah keliru dalam menuntun. Termasuk untuk langkah yang satu ini. - 28 Juni 2025 -















